Tampilkan postingan dengan label Makalah Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Lainnya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Desember 2014

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Tuberkulosa Paru

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Tuberkulosa Paru


Pengertian

Tuberkulosis paru adalah infeksi kronis akut atau sub akut pada parenkim paru yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. Infeksi dapat terjadi di seluruh tubuh namun tersering pada jaringan paru-paru.


Etiologi dan Cara Penyebaran

Mycobacterium tuberculosis (paling banyak), Mycobacterium bovis, Mycobacterium kansasii dan Mycobacterium intracellulare.

Sumber penularan utama adalah penderita BTA Positif (Mycobacterium tuberculosis) yang disebarkan pada saat batuk atau bersin, batuk, bicara atau bernyanyi (droplet dengan ukuran 1 - 5 microns). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar dalam beberapa jam dan orang dpt terinfeksi jika droplet terhirup saat bernafas. Adapun faktor predisposisi tertularnya Tb paru yaitu factor yang melemahkan atau keadaan imunitas yang menurun, misalnya diabetes, alcohol, malnutrisi, penyakit paru kronik.

Klasifikasi Mycovbacterium Tuberkulosa

1. Populasi A : dalam kelompok ini kuman tumbuh berkembang biak terus menerus dengan cepat. Kuman-kuman ini banyak terdapat pada dinding/lesi yg pH nya netral.

2. Populasi B : dalam kelompok ini kuman tumbuh sangat lambat dan berada dalam lingkungan asam (pH rendah). Lingkungan asam ini melindungi kuman terhadap obat anti tuberkulosis tertentu.

3. Populasi C : pada kelompok ini kuman berada dalam keadaan dormant (tidak ada aktivitas). Hanya kadang-kadang kuman ini mengadakan metabolisme secara aktif dalam waktu singkat.

4. Populasi D : dalam kelompok ini terdapat kuman-kuman yang sepenuhnya bersifat dormant (complete dormant), sehingga sama sekali tidak b isa dipengaruhi oleh obat anti tuberkulosis. Jumlah populasi ini tidak jelas dan hanya dapat dimusnahkan oleh mekanisme pertahanan tubuh manusia itu sendiri.

Sifat Mycobacterium Tuberkulosa

Kuman Tb dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini karena kuman berada dalam sifat dormant sehingga kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Jika dalam ruangan lembab dan gelap, kuman dapat bertahan bertahun-tahun.

Tanda dan Gejala

Gejala pada pernafasan diantaranya : batuk, krekels di atas apeks paru, sesak nafas dan nyeri dada. Sedangkan gejala umum antara lain : demam, berkeringat malam, sakit kepala,takikardi, anoreksia, penurunan BB, malaise/keletihan, llimfe membengkak, menstruasi tak teratur, keluhan tidak bisa tidur.

Patofisiologi

Secara patogenesis, bahan lipid dan karbohidrat dinding M. Tuberculosis dapat meningkatkan virulensi dengan menghalangi fusi fagolisosom, sehingga bakteri dapat bertahan dalam sel.

Reaksi hipersensitivitas yang terjadi saat proses inflamasi adalah reaksi hipersensitivitas lambat (tipe IV). Reaksi terhadap basil tuberkel ini terbentuk dalam 2-4 minggu setelah infeksi awal. Individu yang tersensitisasi akan menunjukan reaksi indurasi yang berlebih (> 5 mm) pada tes PPD. Namun hasil tes positif hanya menunjukan sensitivitas, bukan penyakit aktif. Setelah sensitisasi terjadi selama fase infeksi, reaksi peradangan nonspesifik berubah menjadi granuloma yang sering disertai nekrosis kaseosa. Peningkatan resistensi terjadi berupa kemampuan menghambat replikasi kuman interseluler.


Jika dilihat dari pajanan terjadinya penyakit, tuberkulosa terbagi menjadi dua, yaitu primer dan post primer (sekunder)

1. Primer

Bentuk ini terjadi pada penderita yang sebelumnya tidak pernah terpapar dengan kuman tuberculosis atau saat orang pertama kali terpapar kuman TB. Setelah terinhalasi, kuman Tb sebagian hancur (melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus), sebagian berkembang biak selanjutnya membentuk sarang primer + limfangitis local + limfadenopati regional (kompleks primer). Lesi biasanya terjadi di dekat pleura pada bagian inferior lobus atas atau bagian superior lobus bawah. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan komplek primer sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Pada tuberkel lama dengan jaringan parut mungkin tidak ditemukan kuman tetapi mengandung kuman yang infektif, kadang bertahan sampai beberapa puluh tahun. Tuberkulosis primer biasanya asimptomatik.

Pada fase ini dapat terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening (kelenjar limfe) bronkus atau hilus ipsilateral berakibat terjadinya lesi campuran paru dan kelenjar getah bening (kompleks ghon).

Pada kebanyakan kasus, infeksi tidak berkembang dan menghasilkan jaringan parut dan kalsifikasi lokal. Kadang-kadang terjadi pneumonia primer progresif. Komplikasi lain adalah tuberkulosis milier diseminata, yang terjadi bila kuman tuberkulosis masuk ke dalam peredaran darah.

2. Post Primer

Tuberculosis post primer menunjukan infeksi aktif pada penderita yang sebelumnya telah mengalami sensitisasi. Kebanyakan kasus merupakan reaktivasi bakteri dorman dari lesi primer. Proses ini meliputi pembentukan sarang di region atas paru-paru (apical posterior lobus superior atau inferior). Hal ini menunjukan M. tuberculosis memilih lokasi dengan pO2 yang tinggi. 3-10 minggu kemuadian menjadi tuberkel . Post primer terjadi beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer (akibat penurunan daya tahah tubuh, infeksi HIV, status gizi buruk).



Akibat dari proses di atas mengarah pada terjadinya penyakit paru restriktif, dimana terjadinya kehilangan daerah pertukaran gas, baik secara anatomis maupun fungsional. Selain itu penyakit paru restriktif menyebabkan penurunan komplians paru, kapasitas vital, kapasitas residu fungsional dan kapasitas difusi.

Penatalaksanaan Umum

Pemberian antibiotik (RHEZS), analgesic, terapi O2, diet TKTP, isolasi pernafasan dan operasi(drainase, reseksi paru).

Proses Keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas

b. Riwayat Kesehatan

1) Keluhan utama

Keluhan yang sering muncul biasanya, sesak atau nyeri dada.

2) Riwayat kesehatan sekarang

Penjabaran dari keluhan utama (PQRST)

3) Riwayat kesehatan dahulu

Dikaji terutama riwayat merokok, kontak dengan penderita Tb paru, riwayat penyakit saluran pernafasan lain, riwayat pekerjaan yang berkaitan dengan zat polutan.

4) Riwayat kesehatan keluarga

Dikaji riwayat Tb paru di keluarga dan pengobatannya.

c. Kondisi tempat tinggal dan lingkungan

Dikaji kondisi rumah dan lingkungan meliputi sumber polutan, pemaparan sinar matahari, kelembaban ruangan, ventilasi

d. Aktivitas sehari-hari

Dikaji pola nutrisi, eliminasi, aktivitas, personal higiene dan pola tidur.

e. Pemeriksaan Fisik (dilakukan persistem)

1) System persarafan, biasanya ditemukan pasien sadar, gelisah, hingga penurunan kesadaran.

2) System pernafasan, klien biasanya terlihat sesak, nyeri dada, respirasi meningkat, mungkin batuk produktif atau darah (haemaptoe), suara nafas ronchii/gargling, terdapat perubahan perbandingan diameter anteroposterior dada, deviasi trakea, vocal premitus menurun.

3) System kardiovaskuler, biasanya heart rate meningkat lemah, penurunan tekanan darah, mungkin peningkatan JPV, sianosis perifer, konjungtiva pucat.

4) System gastrointestinal, mungkin terjadi penurunan bising usus, nafsu makan berkurang, keluhan mual muntah akibat obat Tb paru.

5) System perkemihan, biasanya ditemukan urine kemerahan sebagai efek samping obat Tb paru.

6) System endokrin, biasanya ditemukan hipermetabolisme akibat infeksi, pembesaran KGB, gula darah meningkat.

7) System reproduksi, biasanya ditemukan gangguan menstruasi pada wanita, penurunan hasrat sexual.

8) System integument, biasanya ditemukan peningkatan diaforesis, kulit pucat dengan turgor jelek, kehilangan lemak sub kutan.

9) System musculoskeletal, biasanya ditemukan penampilan kurus, bentuk tulang dada berubah, penurunan kekuatan otot, penurunan tonus otot.

f. Aspek psikososial dan spiritual

Biasanya terdapat gangguan konsep diri pada penderita, merasa dikucilkan akibat pandangan negative masyarakat.

g. Aspek pengetahuan

Perlu dikaji pemahaman penderita TB paru dan keluarganya berkenaan dengan kemampuan dalam perawatan dan pengobatan Tb paru.

h. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan diagnostic meliputi Pemeriksaan dahak (BTA), Foto roentgen, Darah, Mantoux test.

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan

a. Ggn oksigenasi ; ventilasi b.d akumulasi secret di jalan nafas

Tujuan : jalan nafas bersih

Tindakan :

1) Obs TTV

2) Observasi RR, kedalaman, suara paru tambahan dan pgn otot aksesori pernafasan.

3) Catat sifat sputum; jumlah, warna, bau dan konsistensi

4) Atur posisi tidur; semi fowler

5) Ajarkan klien batuk efektif,serta lakukan fisioterapi dada, postural drainage

6) Berikan klien hidrasi adekuat dgn jml sesuai keb. tubuh serta berikan minum air hangat.

7) Kolaborasi untuk pemberian terapi mukolitik dan berikan sesuai program.

b. Gangguan pertukaran gas b.d penurunan fungsi paru

Tujuan : pertukaran gas adekuat

Tindakan :

1) Obs frekuensi,kualitas pernafasan.

2) Obs tanda cyanosis.

3) Obs bunyi nafas, catat peningkatan/penurunan ronki, krekels.

4) Baringkan dlm posisi semi fowler.

5) Kolab pemeriksaan AGD (PO2, PCO2, HCO3, sat O2, BE)

6) Bimbing klien untuk nafas dalam.

7) Berikan oksigen sesuai program pengobatan.

8) Anjurkan klien untuk tirah baring selama periode akut

c. Gangguan rasa nyaman nyeri dada

Tujuan : nyeri berkurang/hilang

Tindakan :

1) Berikan tindakan untuk meningkatakan rasa nyaman (relaksasi, distraksi)

2) Jika mungkin kolaborasi analgetik

3) Minimalkan aktivitas

4) Pengaturan posisi dada semi fowler

5) Ciptakan lingkungan yang tenang

d. Resiko penyebaran infeksi

Tujuan : infeksi tidak berlanjut, tidak menular kepada orang lain

Tindakan :

1) Identifikasi keluarga atau orang lain yang dapat tertular infeksi

2) Anjurkan klien batuk, bersin dengan menutup mulut

3) Anjurkan klien mengeluarkan dahak pada tempat yang telah disediakan (pot sputum tertutup), ajarkan cara pembuatannya.

4) Tekankan pentingnya tidak mengehentikan obat Tb paru.

5) Identifikasi faktor resiko individu terhadap kemungkinan kekambuhan ulang (alkoholisme, merokok, malnutrisi, lingkungan rumah yang tidak sehat). Segera lakukan pencegahan.

e. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia

Tujuan : nutrisi klien terpenuhi

Tindakan :

1) Kaji status nutrisi(BB)tiap hari.

2) Kolaborasi dgn bagian gizi u/ pemberian diet TKTP.

3) Berikan penjelasan pada klien ttg pentingnya intake nutrisi dlm proses penyembuhan penyakit

4) Atur posisi yang nyaman saat makan (semi fowler)

5) Motivasi klien u/ menghabiskan porsi makannya

6) Motivasi u/ istirahat sblm makan u/ mengurangi keletihan

7) Berikan makan dlm jumlah kecil tapi sering

8) Berikan makan dlm keadaan hangat

9) Motivasi pada orang terdekat untuk membawakan klien makan kesukaanya yang tidak bertentangan dengan program pengobatan

10) Pantau presentase makanan yang dimakan

f. Aktivitas intoleran b.d keletihan, kelemahan,dispneu

Tujuan : aktivitas terpenuhi sesuai kemampuan klien

Tindakan :

1) Obs derajat intoleransi aktivitas yang dilaporkan

2) Kaji kekuatan otot klien

3) Observasi frekuensi pernafasan dalam berespons terhadap aktivitas yang dilakukan klien

4) Bantu aktivitas klien selama klien masih lemah.

5) Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan klien

6) Bantu dan instruksikan klien u/ merencanakan waktu istirahat diantara waktu aktivitas

7) Berikan terapi oksigen sesuai indikasi

8) Instruksikan dan bimbing klien u/ menggunakan teknik bernafas adaptif

9) Bimbing dan awasi klien dalam melakukan ROM

10) Pantau tanda progresi penyimpangan saat beraktivitas dan segera kolaborasi dengan dokter

g. Gangguan pola tidur; kurang dari kebutuhan b.d batuk,sesak

Tujuan : kebutuhan tidur klien terpenuhi

Tindakan :

1) Berikan obat-obatan (antitusif, mukolitik,bronkodilator) menjelang tidur.

2) Atur posisi semi fowler

3) Ciptakan suasana tenang,batasi pengunjung saat istirahat

4) Hindari obs,pemberian terapi saat klien tidur

5) Pertahankan pemberian oksigen saat tidur

6) Dorong dan bantu klien dalam melakukan perawatan di malam hari (membereskan tempat tidur,cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi)

7) Gunakan alat bantu tidur (mandi air hangat, makanan kecil, dipijat, membaca, relaksasi, berdoa, minum susu hangat)






Persiapan Perawatan Di Rumah

1. Kaji tingkat pengertian proses penyakit,ketakutan,salah persepsi

2. Jelaskan sifat penyakit dan tujuan pengobatan serta prosedur

3. Jelaskan pentingnya higiene (batuk ke dalam tempat sputum, cara membuang sputum, memalingkan muka jika batuk, menghindari kontak langsung dengan sputum)

4. Jelaskan pentingnya diit TKTP

5. Jelaskan pentingnya isolasi pernafasan

6. Jelaskan pentingnya melakukan latihan, istirahat,menghindari keletihan

7. Jelaskan pentingnya u/ menghindari kontak dkt org lain

8. Jelaskan pentingnya perawatan jalan berkelanjutan

9. Diskusikan gejala untuk dilaporkan pada dokter (batuk darah, nyeri dada, kesulitan bernafas, hilang pendengaran, vertigo)

10. Diskusikan pengobatan: nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek samping

11. Jelaskan pentingnya untuk menghindari minum obat yang dijual bebas tanpa konsultasi dengan dokter

Jumat, 25 April 2014

Pengertian Ontologi Epistemologi dan Aksiologi

DEFINISI AKSIOLOGI,ONTOLOGI DAN EPISTEMOLOGI

BAB I

1.1.            LatarBelakang

Cabang-cabang Ilmu filsafat banyak sekali di antaranya yang ada dalam pembahasan makalah ini adalah, aksiologi,ontologi dan epistemologi ,
 Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Pembahasan aksiologi menyangkut masalah  nilai kegunaan  ilmu, Didalam ontologi banyak sekali yang berpendapat tentang definisi ontologi intu sendiri. 
Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan linkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Dalam pembahasan kali ini saya akan membahas beberapa point diantaranya adalah : Pengertian Epistemologi,Metode Induktif,Metode Deduktif, Metode Positivisme, Metode Kontemplatif, Metode Dialektis
Dan untuk lebih jelasnya penulis telah memaparkan ini dan penjelasan yang sangat akurat dalam bab yang telah disediakan di bawah ini.

1.2.            Tujuan

Dalam penulisan makalah ini saya mempunyai tujuan :
1.      Agar mahasiswa paham tentang definisi-definisi cabang ilmu filsafat dalam makalah ini
2.      Agar mahasiswa dapat menumbuhkan kebesaran jiwa di dalam etetika,estetika dan ilmu pengetahuan
3.      Agar mahasiswa dapat mempunyai pegangan hidup dalam berfilsafat



BAB II

2.1.      Pengertian Aksiologi
                                                 
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.  Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartika aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan oleh setiap insan.
Aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.



2.2.      Penilaian Dalam Aksiologi

Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika dan estetika. Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah-satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa Sokrates dan para kaum shopis. Di situ dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagianya. Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Isi dari pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan adat istiadat manusia. Berbeda dengan norma itu sendiri, etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahi dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.

2.2.1.      Kegunaan Aksiologi  Terhadap Tujuan Ilmu Pengetahuan

Berkenaan dengan nilai guna ilmu, baik itu ilmu umum maupun ilmu agama, tak dapat dibantah lagi bahwa kedua ilmu itu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu sesorang dapat mengubah wajah dunia.
Nilai kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:
1.      Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.
Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat ilmu.
2.      Filsafat sebagai pandangan hidup.
Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.
3.      Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.
Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batui didepan pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah masalah itu dapat diselesaikan. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselesaikan secara tuntas.penyelesaian yang detail itu biasanya dapat mengungkap semua masalah yang berkembang dalam kehidupan manusia.

2.2.2.      Kaitan Aksiologi Dengan Filsafat Ilmu

Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Bagaimana dengan objektivitas ilmu? Sudah menjadi ketentuan umum dan diterima oleh berbagai kalangan bahwa ilmu harus bersifat objektif. Salah satu faktor yang membedakan antara peryataan ilmiah dengan anggapan umum ialah terletak pada objektifitasnya. Seorang ilmuan harus melihat realitas empiris dengan mengesampingkan kesadaran yang bersifat idiologis, agama dan budaya. Seorang ilmuan haruslah bebas dalam menentukan topik penelitiannya, bebas melakukan eksperimen-eksperimen. Ketika seorang ilmuan bekerja dia hanya tertuju kepada proses kerja ilmiah dan tujuannya agar penelitiannya be rhasil dengan baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terikat pada nilai subjektif .

2.3.Pengertian Epistemologi

Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan linkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuasaan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di alam tradisi Barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat ini sebab mereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahan, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam.
Metode ernpiris yang tela:n dibuka oleh Aristoteles mendapat sambutan yang besar pada Zaman Renaisans dengan tokoh utamanya Francis Bacon (1561-1626). Dua di antara karya-karyanya yang menonjol adalah The Advancement of Learning dan Novum Organum (organum baru).
Fisafat Bacon mempunyai peran penting dalam metode Irrduksi dan sistematis menurut dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuk memberi kekuasaan pada manusia atas alam melalui peyelidikan ilmiah. mam. Karena itu usaha yang ia lakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan tidak akan mengalami perkembangan, dan tidak akan bermakna kecuali ia mernpunyai kekuatan yang dapat membantu meraih kehidupan yang lebih baik.
Sikap khas Bacon mengenai ciri dan tugas filsafat tampak paling mencolok dalam Novum Organum. Pengetahuan dan kuasa manusia satu sama lain, menurutnya alam tidak dapat dikuasai kecuali dengan jalan menaatinya, agar dapat taat pada alam. Manusia perlu mengenalnya terlebih dahuku dan untuk mengetahui alam diperlukan observasi. Pengetahuan, penjelasan. dan pembuktian.
Umat manusia ingin menguasai alam tetapi menurut Bacon, keinginan itu tidak tercapai sampai pada zamannya hidup, hal ini karena ilmu-imu pengetahuan berdaya guna dalam mencapai hasilnya, sementara logika tidak dapat digunakan untuk mendirikan dan membangun ilmu pengetanuan. Bahkan, Bacon meganggap logika lebih cocok untuk melestarikan kesalahan dan kesesatan yang ada ketimbang mengejar menentukan kebenaran.

2.3.1    Metode Induktif

Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan pernyataan hasil observasi dalam suatu pernyataan yang lebih umum dan menurut suatu pandangan yang luas diterima, ilmu-ilrnu empiris ditandai oleh metode induktif, disebut induktif bila bertolak dari pernyataan tunggal seperti gambaran mengenai hasil pengamatan dan penelitian orang sampai pada pernyataan ­pernyataan universal.

2.3.2    Metode Deduktif

Deduksi adalah suatu metode yang menyimpan bahwa data­-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Ada bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan rnenerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.

2.3.3.   Metode Positivisme

Metode ini dikeluarkan oleh August Comte. Metode ini berpangkal dari apa yang diketahui yang faktual yang positif. Dia menyampingkan segala uraian persoalan di luar yang ada sebagai fakta oleh karena itu, ia menolak metafisika yang diketahui positif, adalah segala yang nampak dan segala efode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan diatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
2.3.4    Metode Kontemplatif

Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkanpun akan berbeda-beda seharusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi.

2.3.5    Metode Dialektis

Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jaujab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Pidato mengartikannya diskusi logika. Kini dialekta berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam dan metode peraturan, juga analisis sistematika tentang ide mencapai apa yang terkandung dalam pandangannya.

2.4.    PENGERTIAN ONTOLOGI
     
Ontologi (dari á½„ν Yunani, á½„ντος genitive: "menjadi" (partisip netral dari εἶναι: "menjadi")dan-λογία,-logia: ilmu, penelitian, teori) adalah studi filosofis tentang hakikat ini, eksistensi atau kenyataan seperti itu, serta menjadi kategori dasar dan hubungan mereka.
Tradisional terdaftar sebagai bagian dari cabang utama filsafat yang dikenal sebagai metafisika, ontologi berkaitan dengan pertanyaan mengenai apa yang ada entitas atau dapat dikatakan ada, dan bagaimana badan tersebut dapat dikelompokkan, terkait di dalam hirarki, dan dibagi menurut persamaan dan perbedaan .
Ikhtisar Ontologi, dalam filsafat analitik, menyangkut menentukan apakah beberapa kategori yang sangat penting dan bertanya dalam apa arti item dalam kategori tersebut dapat dikatakan "menjadi". Ini adalah penyelidikan berada di begitu banyak seperti sedang, atau menjadi makhluk sejauh mereka ada-dan tidak sejauh, misalnya, fakta-fakta tertentu yang diperoleh tentang mereka atau properti tertentu yang berhubungan dengan mereka.

Untuk Aristoteles ada empat dimensi ontologis yang berbeda:
1.      menurut berbagai kategori atau cara menangani yang sedang seperti itu
2.      menurut kebenaran atau kesalahan (misalnya emas palsu, uang palsu)
3.      apakah itu ada dalam dan dari dirinya sendiri atau hanya 'datang bersama' oleh  kecelakaan
4.      sesuai dengan potensinya, gerakan (energi) atau jadi kehadiran (Buku Metafisika   Theta).

Beberapa filsuf, terutama dari sekolah Plato, berpendapat bahwa semua kata benda (termasuk kata benda abstrak) mengacu kepada badan ada. filsuf lain berpendapat bahwa kata benda tidak selalu entitas nama, tetapi beberapa memberikan semacam singkatan untuk referensi untuk koleksi baik benda atau peristiwa. Dalam pandangan yang terakhir, pikiran, bukannya merujuk pada suatu entitas, mengacu pada koleksi peristiwa mental yang dialami oleh seseorang; masyarakat yang mengacu pada kumpulan orang-orang dengan beberapa karakteristik bersama, dan geometri mengacu pada koleksi dari jenis yang spesifik intelektual . Aktivitas Di antara kutub realisme dan nominalisme, ada juga berbagai posisi lain, tetapi ontologi apapun harus memberi penjelasan tentang kata-kata yang mengacu kepada badan usaha, yang tidak, mengapa, dan apa kategori hasil. Ketika seseorang berlaku proses ini untuk kata benda seperti elektron, energi, kontrak, kebahagiaan, ruang, waktu, kebenaran, kausalitas, dan Tuhan, ontologi menjadi dasar untuk banyak cabang filsafat

Menurut Suriasumantri (1985),
Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :
a) apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,
b) bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan
c) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia
(seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.

Menurut Soetriono & Hanafie (2007)
Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.

Menurut Pandangan The Liang Gie
Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan :
·         Apakah artinya ada, hal ada ?
·         Apakah golongan-golongan dari hal yang ada ?
·         Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada ?
·         Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari  kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada ?

Menurut Ensiklopedi Britannica Yang juga diangkat dari Konsepsi Aristoteles
Ontologi Yaitu teori atau studi tentang being / wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti , struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM)

Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1.      kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2.      Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.































BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar.
Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.
Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu.
Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.






DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Tafsir Filsafat Umum, (Bandung, 1990).
Al-Ghazali, Setitik Cahaya Dalam Kegelapan,
Jujun S. Suriasuantrim Filsafah Ilmu, Sebuah Pengembangan Populasi. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1998
Tim Dosen Filsafah Ilmu, Filsafat Ilmu (Yogyakarta, 1996)http://historia-rockgill.blogspot.com/2011/12/definisi-aksiologiontologi-dan.html

Rabu, 23 April 2014

Kegiatan Olahraga menurut Alquran Hadits

Eksistensi Nilai Olahraga dalam Perspektif Islamoleh : Agus Fitriana, S,Pd.

A.PENDAHULUAN
Peran olahraga dalam kehidupan manusia sangatlah penting, baik dalam pertumbuhan fisik maupun dalam perkembangan metal/ruhaninya. Kebutuhan akan olahraga bagi manusia menjadi sebuah keniscayaan, karena sejak manusia lahir bahkan masih dalam kandungan ibunya olahraga berkontribusi besar. Begitu pula pada saat anak-anak, remaja dewasa ataupun pada saat lansia, olahraga bak sebuah bengkel service dalam memelihara kendaraan seseorang.
Sebagaimana manfaatnya, kehadirannya olahraga beriringan dengan hadirnya kehidupan manusia ini. Tentu saja keberlakuannya juga sampai pada akhir kehidupan dunia ini. Artinya bahwa olahraga tidak mengenal usia, zaman, pradaban, negara, strata kehidupan, formal ataupun nonformal. Keseluruhanya berjalan alami (Sunatulloh). Hal senada diungkapkan oleh Johan Huizinga (Hyland:1985) bahwa keberlakuan olahraga tidak hanya terjadi kepada masyarakat modern, tetapi bahkan terjadi kepada masyarakat yang bisa dikatakan kuno dan primitif. Meskipun mudah untuk mengabaikan fakta ini, walaupun sebagian besar olahraga berlangsung di tingkat informal. Selain partisipasi aktual, kehadiran pada event olahraga di seluruh negeri mungkin merupakan kebutuhan bagi banyak orang untuk menontonnya.
Sedemikian besarnya peran olahraga dan partisipasi manusia terhadap olahraga, tentu saja kita harus melihat dan menelaah manfaat dan nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga. Kajian fisiologi terhadap olahraga banyak dibahas oleh para praktisi olahraga maupun praktisi kesehatan. Manfaat olahraga bagi tubuh manusia berfungsi bukan hanya sebagai penyembuhan secara kuratif, tetapi jauh lebih besar sebagai penyembuhan secara preventif. Kajian psikologi peran olahraga untuk perkembangan mental manusia menduduki peran yang strategis dalam keseimbangan dan pembentukan karakter seseorang. Selain itu olahraga memiliki nilai-nilai filosofi bagi kehidupan manusia dalam kehidupan sosial. Tentu saja nilai-nilai olahraga itu tidak bisa dipandang sebelah mata dalam kontek kemasyaraktan.
Mencermati penjelasan di atas, tentunya olahraga sangat fleksibel dengan kehidupan ini, apa lagi jika di kaitkan dengan kehidupan keagamaan. Tetu saja sangat tidak mungkin olahraga bertentangan baik dalam kemanfaatanya maupun nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga. Kontroversi yang terjadi, bukanlah persoalan nilai dan manfaatnya secara prinsip, melainkan pada media yang dipakai oleh para pelaku olahraga seperti; berbusana, tujuan individu dalam melakukan olahraga itu sendiri. Sebagian contoh dikalangan masyarakat muslim masih menyisakan persoalan olahraga yang dalam kaidah agama dipandang menyimpang dari ajaran Islam. Nampaknya kita semua sepakat bahwa persoalan ini sebenarnya bukan pada prinsip dan nilai olahraga itu sendiri, melainkan kepada pemaikan busana bagi individunya. Kuatnya persoalan ini, di picu oleh adanya regulasi dalam olahraga kompetitif yang mengharuskan berbusana yang bertentangan dengan prinsip-prinsip agama terutama Islam, karena di agama selain islam hal ini bukan menjadi persoalan serius.
Sebagai makhluk yang beragama tentu kita juga menghormati dan menghargai sikap dan aturan yang diterapkan oleh suatu agama, apa lagi setiap agama memberikan keleluasaan bagi setiap individu untuk memilih agamanya. Dan sikap ini dilindungi oleh Undang-Undang kenegaran manapun.
B. PERSPEKTIF MASYARAKAT ISLAM TENTANG OLAHRAGA
Ajaran Islam yang menyeluruh dan komprehensif sehingga memenuhi dan mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, dari mulai tidur sampai mau tidur lagi, dari masuk rumah sampai membuat suatu negara, bahkan dari manusia sampai kembali kepada Tuhannya, baik yang disadari manusia maupun yang tidak disadarinya difasilitasi, berikan rambu, dan pandangan oleh Islam. Sungguh Islam adalah agama yang sempurna, sehingga mampu dan pasti menjawab setiap tantangan dan persoalan apaun yang ada di dunia ini. Apalagi olahraga yang nota bene bagian dari hidup dan kehidupan manusia. 
Banyak keterangan tentang pokok-pokok ajaran Islam tentang olahraga. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Islam konsen terhadap olahraga. Ada Pandangan mengapa masyarakat Islam terbelakang dalam bidang olahraga?. Untuk menjawab permasalahan ini menurut saya adalah: keterbelakangan ini kalau di tinjau dari olahraga kompetitif dan sumber daya manusia mungkin “ya”. Namun jika dalam pengamalan (applied) mungkin umat islam lebih baik dari umat yang lainnya. Ketertinggalan juga tidak terlepas dari latar belakang sejarah mundurnya umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban modern. Dunia modern sedang dilanda krisis keseimbangan diberbagai sendi kehidupan, Abu Hanifah menilai bahwa ”kekacauan batin itu terjadi disebabkan oleh karena jasmani diberi makanan yang tidak sesuai porsinya (sekenyang-kenyangnya), sedangkan rohani dibiarkan selapar-laparnya”. Menurut mereka karena dunia modern lebih mementingkan jasmani serta menghiraukan rohani dan atau sebaliknya. Krisis tersebut melanda baik pada masyarakat muslim maupun non-muslim. Roger Garuady [Syahminan Zaini 1989:5] menyatakan bahwa : “ Eropa telah beralih sifat, dari kebodohan yang buas menjadi kebuasan yang pintar. 
Pengaruh orientalis bangsa Barat dalam menghancurkan islam melalui faham sekuler berhasil membuat masyarakat muslim terjebak dalam paradigma yang keliru, yang memisahkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, antara pengetahuan umum dengan pengetahuan agama. Padahal kalau kita telaah dan berfikir sejenak antara kehidupan dunia dan akhirat, atau antara pendidikan umum dan pendidikan agama, keduanya mempunyai ketergantungan dan tidak bisa dipisahkan. Karena kita tahu, untuk bisa ke akhirat tentu harus berada di dunia dulu, dan untuk mengetahui ilmu akhirat juga tentu didukung oleh ilmu dunia. Keduanya berjalan dengan seimbang dan bersamaan. Dalam Al-Quran juga yang sering umat Islam amalkan dalam doa seperti; ”Robbanaa aatina fiddunnya hasanah, wafil aahiroti hasanah, waqinaa adzaa bannaar” [ya Tuhan kami berikan kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan selamatkan kami dari adzab yang pedih. 
Menurut konsepnya, masyarakat Islam adalah masyarakat yang dipolakan oleh syari’at (ajaran ) Allah yang lengkap, seimbang, utuh, fleksibel dan dapat mengimbangi tuntutan zaman. Pada saat-saat masyarakat Islam jaya, mereka tidak memisahkan antara agama dengan ilmu pengetahuan modern, kebudayaan modern, tetapi keterpaduan secara utuh. Islam memandang orang yang berilmu derajatnya lebih tinggi (QS Al-Mujaadalah:11, QS Faathir :28), orang bodoh adalah orang sesat, bahkan lebih rendah dari binatang (QS, Al A’raf :179, Al-Anfal :22). Sehinnga dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Namun pada akhirnya terjadi akulturasi kebudayaan yang kurang selektif, sehingga mereka memasukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sehingga tokoh-tokoh agama mengeluarkan fatwa “mengharamkan ilmu, terutama mempejari ilmu filsafat, karena fatwa inilah lantas berkembang faham anti ilmu dikalangan umat Islam. Masyarakat Islam dahulu banyak teracuni oleh fatwa-fatwa ulama yang mengharamkan olahraga.
Manusia adalah mahluk dua dimensi, terdiri dari jasmani dan rohani yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam membangun jasmani Rasulullah Muhammad SAW sebagai pemimpin dan idola bagi umatnya memberikan contoh dalam hal menjaga kesehatan fisik, beliau mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari melalui olahraga berkuda, memanah, berenang, berlari, dan aktivitas lainnya yang memenuhi standar olahraga.
Untuk membangun jasmani (fisik) ini, empat hal yang harus diperhatikan, yaitu: (1) membangun kekutannya, (2) membangun kesehatannya, (3) membangun keterampilannya , dan (4) membangun keindahannya.
Islam menghendaki agar umatnya mempunyai jasmani yang kuat, sebab jasmani yang kuat lebih disukai Allah dari pada jasmani yang lemah. Rasulullah bersabda.“ Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah dari pada orang mukmin yang lemah”. (H. R. Muslim). Tidak mungkin orang mukmin yang lemah fisiknya dapat melaksanakan tugas sebagai hamba Allah dengan sempurna.

Olahraga ini termasuk urusan dunia, akan tetapi olahraga penyokong utama untuk kehidupan akhirat, mengapa penulis katakan demikian?, coba kita telaah. Bagaimana kita bisa berhasil dengan kehidupan dunia yang prasyaratnya didunia dengan cara beribadah secara langsung maupun tidak langsung (dengan manusia) jika jasmani dan jiwanya tidak mampu dan tidak berfungsi secara baik. Namun dalam aplikasi didunia Tuhan memberikan kebebasan yang seadil-adilnya kepada manusia yang penting tidak keluar dari koridor norma agama, sebagai mana yang di sampaikan dalam hadist Rasulullah SAW “Antum a’lamu biumuuriddunyaakum” ( kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian)’. Hukum olahraga menurut Islam adalah mubah, boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan. Namun apabila melihat dali usul fiqih yang menyatakan bahwa:” Artinya setiap segala sesuatu yang tidak akan sempurna kecuali dengan adanya sesuatu itu, maka melaksanakan itu menjadi wajib”.
Umat Islam disyari’atkan (diperintahkan) untuk membangun jasmani yakni, menjaga kesehatan, kekuatan, keindahan, keterampilan jasmani. Seandainya semua itu tidak bisa dibangun kecuali melalui olahraga, maka dengan dalil usul fiqh tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hukum olahraga menjadi wajib. 
Dengan berpegang teguh kepada wahyu, hadist dan keterangan ilmu pengetahuan, penulis berkenyakinan bahwa olahraga hukunya wajib bagi manusia terlebih bagi umat Islam, karena olahraga merupakan aplikasi syukur manusia terhadap kesehatan yang di berikan Tuhan kepadanya. Jika kita tidak berolahraga berarti kita kufur dengan ni’mat kesehatan.

C. ONTOLOGI OLAGRAGA
Filsafat olahraga, sama halnya dengan filsafat pada umumnya, berusaha untuk memahami hakikat, mempersoalkan isu olahraga secara kritis, guna memperoleh pengetahuan yang hakiki, meskipun kebenaran dalam kontek pengetahuan bersifat tentatif. Dalam bidang keolahragaan, ada beberapa konsep yang memerlukan pengkajian dan pemahaman secara mendalam. Konsep itu sendiri adalah "mental image," sebuah abstraksi dari fenomena yang tampak dari persepsi terhadap fakta yang dapat ditangkap melalui indra. Di dalam konsep itu ada makna tertentu, dan perbedaan makna terjadi karena setiap orang memperoleh persepsi yang berbeda-beda mengenai objek yang diamatinya. Beberapa istilah sebagai konsep dasar dalam bidang keolahragaan, jugs mengalami penafsiran yang beragam. Konsep dasar itu di antaranya meliputi bermain (play), pendidikan jasmani (physical education), olahraga (sport), rekreasi (recreation), tari lebih mendalam. Dengan demikian, meskipun uraian di sini belum tuntas, paling tidak ada persamaan pandangan di antara para pelaku, pembuat kebijakan, dan/atau para insan olahraga.
Manusia mencerminkan ciri sebuah sistem yang amat sempurna, terutama ditinjau dari aspek fisik-fisiologis. Namun is lahir tanpa daya sehingga memerlukan pengasuhan dan pendidikan, termasuk pemberian kesempatan yang banyak untuk belajar dari lingkungan sekitarnya. Bagaimana proses individu kontak dengan dunia luar, dunia empirik nyata, berlangsung melalui penginderaan, seleksi dan respons terhadap stimulus yang sedemikian banyaknya yang kemudian dinyatakan dalam bentuk perilaku-gerak.
Perilaku gerak yang tampak berlangsung dalam hubungan koordinasi yang amat kompleks, cepat dan halus dari fungsi neuro-fisiologis-anatomis itu melumat dengan fungsi psikologis dalam hubungan fungsional yang amat teratur. Ditilik dari ciri-ciri biologis, manusia merupakan mahluk yang mampu memperbaharu energi dan melaksanakan daur ulang, mengatur diri sendiri, dan berkemampuan untuk beradaptasi, serta mempertahankan keseimbangan atau homeostasis sebagai kata kunci sehngga manusia mampu mempertahankan hidupnya. Ternyata gerak yang tampak itu merupakan hasil kerja keseluruhan sistem yang sinkron dan menyatu antara jiwa dan badan (body and mind), Hyland (1985), tubuh, jiwa, akal, hati yang membentuk satuan individu sebagai pribadi. Unsur fisik-biologis, biokimia, impuls saraf-elektronik menyatu dengan unsur mental dan ruhaniah, Rusli Lutan (2001:29).
Amat banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari yang nenunjukkan kaitan timbal balik antara aspek emosi dan kelangsungan kerja faal tubuh, seperti sistem peredaran darah atau sistem pernafasan. Frekuensi denyut nadi misalnya, yang meningkat cepat tatkala seseorang mengalami kondisi siaga (arousal) yang memuncak, yang selanjutnya dapat membangkitkan ketegangan otot dan menurunkan mutu koordinasi gerak.
Fenomena yang paling konkret sebagai objek formal ilmu keolahragaan adalah gerak-laku manusia dalam bentuk gerak insani, terutama keterampilan gerak yang dapat dikuasai melalui proses belajar. Gerak insani yang juga mencerminkan puncak kreativitas manusia itu, dilakukan secara sadar dan mempunyai ber¬tujuan jelas. Manusia menggerakkan dirinya secara sadar melalui peng¬alaman fisiknya sebagai medium untuk berinteraksi dengan lingkungannya dan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan jasmani, gerak insani inilah yang menjadi medan pergaulan yang bersifat mendidik antara peserta didik sebagai aktor, atau pelaku, dan pendidik sebagai ,auctor, atau pengarah, sekaligus fasilitator, meminjam istilah yang diperkenalkan oleh Prof Klaas Rijsdorp (Rusli Lutan:2001). Realisasi keterampilan gerak itu tidak dapat dicabik dan dipisahkan dari tata latar lingkungannya, sehingga keterampilan gerak itu terbentuk dalam aneka bentuk respons dan transaksi antara individu clan lingkungan sosial-budaya yang membentuk penghayatan penuh makna di antara kedua pihak. Gerak insani yang menjadi objek formal ilmu keolahragaan merupakan fenomena yang kompleks, mencakup dimensi sosio-psiko-bio¬kultural sebagai akibat aneka aktivitas jasmani yang diperagakan individu atau dalam suasana berkelompok itu digelar di tengah kehidupan bermasyarakat, dalam sistem kehidupan yang riil, yang terkontrol oleh tradisi, nilai dan norma, di samping terikat langsung oleh keterbatasan kapasitas kemampuan biologik itu sendiri. Ungkapan gerak insani itu merupakan perilaku gerak manusia yang universal, tanpa memandang latar belakang agama, budaya, suku bangsa atau ras. Namun, dalam pelaksanaannya, kegiatan yang berintikan gerak keterampilan jasmaniah dan berporos pada sifat-sifat permainan itu, tetap bertumpu pada etika clan kesadaran moral, karena olahraga bukanlah ungkapan naluri yang rendah atau nafsu kekerasan, tetapi merupakan ekspresi sifat¬sifat manusia yang kreatif dan indah yang kemudian bermuara pada kehidupan yang manusiawi dalam pengertian sejahtera paripurna, bukan sehat jasmaniah semata, tetapi melingkup kesehatan aspek mental, emosional, sosial dan spiritual. Dengan demikian, jelaslah bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai dalam pembinaan pendidikan jasmani dan olahraga adalah tercapainya kesejahteraan paripurna yang terintegrasi dalam masyarakat madani (civil society).

D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN DALAM SUDUT KONTEMPORER
Persamaan. Olahraga dan agama masing-masing mempunyai stuktur organisasi mulai dari tingkat dunia, nasional, daerah sampai ke tingkat daerah yang paling bawah. Dalam organisasi tersebut memuat berbagai aturan baik secara umum maupun secara khusus yang harus diberlakukan pada setiap orang yang ikut terlibat di dalamnya. Tujuan pemberlakuan aturan untuk memberikan jaminan terciptanya keharmonisan, keadilan, keamanan, dan kelancaran manusia dalam menjalani aktivitas hidup dan kehidupannya di dunia. 
Perbedaan. Untuk melihat perbedaan olahraga dan agama bisa ditinjau dari aspek sumber aturan, dan tujuan. Dalam olahraga yang menjadi sumber aturannya adalah semata-mata merupakan hasil karya cipta manusia, artinya peraturan dibuat oleh induk organisasi olahraga semata yang di dalamnya memuat aturan-aturan yang berkenaan dengan hubungan antar manusia, dan dari waktu ke waktu mengalami perubahan disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan zaman . Sedangkan agama sumber aturannya dari Alkitab, yang merupakan wahyu langsung dari Allah melalui malaikat Jibril. Bagi masyarakat muslim aturan itu disebut Syari’at yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai penjabaran dan penjelasan Al-Qur’an. “Syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah landasan pokoknya, landasan itu bersifat kokoh, fleksibel, terbuka berbagai kemungkinan untuk dapat mengantisipasi perkembangan zaman, namun tetap landasan pokok itu tidak harus goyah dan tidak akan goyah.” (Asyafah, 1990:3)
Dari aspek tujuan; kegiatan olahraga dengan seperangkat aturan yang diberlakukan setiap orang akan mejadi kompetitor bagi orang lain yang sama-sama berperan sebagai pelaku, sehingga tumbuh persaingan untuk saling mengalahkan dan menjatuhkan dan pada akhirnya akan muncul seorang pemenang atau juara. Sedangkan tujuan agama dengan pemberlakuan syariat Islam kepada umatnya untuk seimbang, selaras, harmonis, dan ajeg. Umat Islam harus mencari kehidupan akhirat yang baik tapi jangan melupakan dunia, umat Islam disuruh memperhatikan rohani, jangan melupakan jasmani. Memang demikian syari’at Islam mengarahkan keseimbangan (QS, Al-hijr:19, Ar-Rahmaan:7) dan manusia tak boleh melanggarnya (QS, Ar-Rahmaan:8), kalau dilanggar akan terjadi ketidak harmonisan atau krisis.

E. KETERPADUAN OLAHRAGA DAN AGAMA 
Seandainya kita tinjau, bagaimana implementasi dalam kehipan sehari-hari dilapangan keterkaitan antara olahraga dan agama? Umat Islam disyari’atkan (diperintahkan) oleh Allah, segala aktivitas atau kegiatan apapun yang sifatnya bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain, jika ingin bernilai ibadah dan mendapat ridhoNya, maka pada saat akan memulai atau mengakhiri kegiatan harus diawali dan diakhiri dengan do’a. Begitu pula dalam aktivitas olahraga sebelum memulai diawali dengan do’a dan setelah selesai olahraga diakhiri dengan do’a. Dengan demikian walaupun aktivitas olahraga yang sifatnya kegiatan duniawi semata, tetapi memiliki nilai ibadah di sisi Allah. Karena Islam tidak mengajarkan kepada umatnya adanya dikotomi kepentingan antara dunia dan akhirat, selama semua aktivitas tersebut diniatkan untuk beribadah.
Sebaliknya ada aktivitas ibadah ritual yang dilakukan umat Islam yang mengandung unsur-unsur aktivitas olahraga. Seperti aktivitas shalat wajib yang lima waktu, maupun shalat sunat yang jumlahnya lebih banyak. Kemudian aktivitas ibadah haji, sebagian rukunnya ada aktivitas olahraganya seperti Sa’i yaitu lari-lari kecil mengelilingi Ka’bah, Tawaf yaitu lari-lari antara bukit Sofwa dan Marwah, melempar batu kecil ke Jumrotul Akobah. Kesimpulannya tidak ada pertentangan antara olahraga dan agama malah sebaliknya saling mengisi dan mendukung pada masing-masing aktivitas yang berbeda. 

DAFTARPUSTAKA

Freeman, William Hardin. 2001. Physical Education and Sport in Changing Society. Needham Heights: A Pearson Education Company.
Guest, Andrew M. 2007. Thinking Both Critically and Positevely about Development ahrough Sport. An Article. Available On Line at http://www.sportanddev.org/en/articles. 
Huizinga, Johan. 1950. Homo Ludens: A Study of The Element in Culture. Boston: The Beacon Press.
Hyland, Drew A. 1990. Philosophy of Sport. New York: Paragon House.
Kneller, George F. 1971. Introduction of Philosphy of Education. New York: John Willey & Sons Inc.
Morgan, William J. and Meir, Klaus V. 1995. Philosophic Inquiry in Sport. Champaign: Human Kinetics.
Poedjiadi, Anna. (2001). Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik. Bandung: Penerbit Yayasan Cendrawasih, Bandung.
Rusli Lutan. (2001). Olahraga dan Etika Fair Play. Direktorat Jendral Olahraga: Departemen Pendidikan Indonesia.
Rusli Lutan. (2002). Masalah, Tantangan dan Arah Pembangunan Pendidikan Jasmani di Indonesia. Direktorat Jendral Olahraga: Departemen Pendidikan Indonesia.
Sadulloh, Uyoh. 2006. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta. 
Tedjasaputra, Mayke S. 2003. Bermain, Mainan, dan Permainan dalam Pendidikan Usia Dini. Jakarta. PT. Grasindo.

PONPES SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI

Sholawat_Badar-Puput_Novel-TOPGAN

Blogger templates

href="http://www.yayasangurungajiindonesia.com" ' rel='canonical'/>>

Adsendiri

Pasang Iklan Disini

adsend

Pasang Iklan Disini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls