Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2015

Visi Misi Simbah Wuri Calon Bupati Banyumas 2018

Visi Misi Simbah Wuri Calon Bupati Banyumas
Raras Wuri Purwojati Calon Bupati Banyumas
Simbah Wuri Sang Guru Ngaji YGNI dari Purwojati Banyumas. Berniat mencalonkan diri menjadi Calon Bupati Banyumas 2018-2023. Dia sebagai guru ngaji sekaligus guru madrasah yang aktif dalam berbagai kegiatan, Dia juga Ketua Yayasan Guru Ngaji Indonesia Banyumas, Pembina Pemuda Pakarti, Majelis Pager Bangsa dan Rumah Piramida.

Kegiatnnya sebagai warga masyarakat aktif dalam pembinaan anak-anak dan remaja melalui berbagai kegiatan baik melalui taman bacaan msyarakat (TBM) Media Cerdik, Penyembuhan alternatif Karomah Maunah, dan berbagai bidang pendidikan. Disamping itu Raras merupakan salah satu pimpinan Pondok Pesantren Shidiqiin Wara` Purwojati. Anak dari Pasangan Kyai Muhammad Syechan dan Nyai Rukiyah, dan masih keturunan dari Senopati Yudanegara melalui jalur Bapak dan masih keturunan dari Syech Lemah Abang atau Syech Siti Jennar dan Sunan Gunung Jati Cirebon melalui jalur Ibu (data didperoleh dari kajian ilmiah). Raras Wuri juga memiliki hubungan kekeluargaan dengan mantan Bupati Banyumas Mardjoko melalui jalur bapak yang masih satu Buyut,artinya Kakek Simbah Wuri masih kakak beradik dengan Kakeknya Istrinya Marjoko. Hal ini juga sudah dikonfimasi dengan bu lik Pak Marjoko (Ibu Ambong). 

Melihat perkembangan pembangunan Kabupaten Banyumas yang cukup ter tinggal dengan Kabupaten lain maka dia berniat untuk ikut dalam pembangunan Banyumas agar menjadi lebih baik. Pembangunan Kabupaten Banyumas akan berhasil baik bila visi dan misi kabupaten jelas dan diwujudkan oleh Seluruh masyarakat Banyumas khususnya para penyelenggara pemerintah daerah. Apabila ada wakil-wakil atau aparat yang tidak mendukung program tersebut maka dapat dikatakan sebagai pemnghambat pembangunan di Banyumas.
Raras Wuri Purwojati Calon Bupati Banyumas
Calon Bupati Banyumas-Cablaka


Visinya dalam pencalonan Bupati Banyumas adalah:BANYUMAS CABLAKA atau
"Tercapainya Banyumas yang Citra baik, Agamis, Berbudaya, Layak lingkungan dan Keadilan-Sosial. (CABLAKA)"
atau disingkat "BANYUMAS yang CABLAKA"

Misinya:
  1. Menyelenggarakan pemerintahan yang berCitra baik yaitu : bersih dari korupsi serta aparat pemerintahan yang memiliki kompetensi, kredibilitas dan kapabilitas dalam menyelenggarakan Pemerintahan serta menyelenggarakan pemerintahan yang memiliki budaya yang tinggi seperti bergotong royong, guyub rukun, tepa slira dan membumikan semangat tersebut dimasyarakat.
  2. Mempercepat Pelaksanaan Reformasi Birokrasi untuk Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, Bersih, Transparan dan Akuntabel; dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu didukung oleh aparatur yang profesional dan bersih, serta responsif terhadap permasalahan–permasalahan yang timbul di masyarakat dengan membangun akuntabilitas dan transparansi berbasis teknologi informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan serta peningkatan kualitas pelayanan publik dalam mewujudkan visi dan misi.
  3. Meningkatkan produktivitas hasil-hasil pertanian, peternakan, perikanan dan pertambangan dalam mendukung pendapatan daerah dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
  4. Meningkatnya kecerdasan dan kualitas hidup masyarakat dengan program-program yang terintegrasi dan terpadu.
  5. Meningkatkan kenyamanan lingkungan untuk berusaha dan bertempat tinggal 
  6. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Infrastruktur untuk Mewujudkan Kemajuan dan Daya Saing Daerah dengan Memperhatikan Keseimbangan dan Kelestarian Lingkungan; pembangunan fisik dan infrastruktur yang memiliki peran penting dalam mendukung urusan pembangun lainnya, diarahkan kepada sasaran–sasaran yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelancaran roda ekonomi, dengan memperhatikan aspek keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup serta tata ruang daerah.
  7. Menyelnggarakan pemerintahan yang berkeadilan dan adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
  8. Memperkokoh semangat kemandirian daerah dengan meningkatkan mutu pariwasata dan budaya daerah.
  9. Meningkatnya kualitas dan kuantitas produk hukum dan mempercepat revisi peraturan daerah yang kurang efektif dan efisien dalam mendukung pembangunan Banyumas
  10. Memperbaharui program dan perencanaan Pembanguna Kabupaten Banyumas dalam rangka menguatkan dan memperjelas tujuan Pembangunan Daerah.
Strategi dan Tujuan 
Strategi:


Untuk menjadi bakal calon Bupati Banyumas maka Simbah Wuri atau Raras Wuri Miswandaru, SPdI, MPdI membutuhkan dukungan warga Banyumas minimal 104.363 orang sebagai calon Independen di tahun 2018. Dimana dukungan tersebut berada tersebar di minimal 14 kecamatan di Banyumas.

Oleh sebab itu Raras Wuri sangat membutuhkan dukungan warga, agar bisa maju menjadi bakal calon Bupati Banyumas periode 2018-2023 mendatang. Terimakasih atas dukungan warga yang mau peduli atas perubahan Banyumas.

Minggu, 19 Oktober 2014

Pahlawan Patimura Yang Sejarahnya Dipalsukan


Patimura / Thomas Mattulessy 
Thomas Mattulessy merupakan tokoh fiktif yang harus dihapus dari catatan sejarah Indonesia. Yang sesungguhnya ada adalah Patimura yang memiliki nama ash Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy. Tokoh ini lahir di Hualoy, Seram Selatan, wilayah Islam tahun 1783. Ini sekaligus membantah versi pemerintah yang menyebut Patimura lahir di Saparua. Mat Lussy merupakan bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kasim Al¬lah, Pelayan Allah) atau dalam lidah Maluku disebut ‘Kasimiliali’.


Dalam buku biografi versi pemerintah yang ditulis M Sapija dikatakan jika Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayahnya bernama Anthoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.


Keterangan Sapija tersebut janggal. Sapija tidak jujur dengan tidak menuliskan sebagai Pelayan Allah dan Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Lalu Sapija juga mengada-adakan marga Pattimura Mattulessy, padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman. Penulis sendiri pernah langsung berdiskusi dengan salah seorang Panglima Perang Hitu di tahun 1999 dimana dia menyatakan jika Patimura adalah Marga Muslim sedangkan Mattulessy adalah Kristren. Jadi tidak ada yang namanya Patimura Matulessy. Yang beranam Patimura pastilah dia seorang Muslim.

Mansyur Suryanegara menyatakan marga Patimura masih ada sampai kini. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura. Dan lagi, Maluku pada masa itu dipenuhi oleh kerajaan-kerajaan Islam dengan empat kerajaan Islam besar yakni Tidore, Ternate, Bacan, dan Jailolo. Begitu banyak kerajaan Islam di sini sehingga Ibnu Batutah menyebutnya sebagai lazirah al-Mulk’ atau Tana Para Raja.’

Dalam wawancara dengan penulis di kediamannya di Bandung pada 2001, Mansyur menyatakan jika umat Islam itu mayoritas di Maluku dan Ambon, jadi bukan wilayah Kristen. “Ada cara mudah untuk membuktikannya, lihat saja dari dari pesawat yang sedang terbang, akan terlihat banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja di sana.”

Dan lagi, adalah fakta sejarah jika nyaris seluruh perlawanan terhadap penjajah¬apakah itu Portugis, Spanyol, atau pun VOC -Belanda—seluruhnya dibangkitkan oleh tokoh-tokoh Islam. Ini disebabkan antara lain semua penjajah itu membawa misi penyebaran salib. Jadi amat aneh jika ada orang-orang non-Muslim yang juga mengangkat senjata melawan para misionaris imperialis Mi. Bukankah ini berarti perlawanan Para Domba terhadap Sang Gembala? Jelas mustahil. Adalah fakta sejarah pula jika prang¬orang pribumi yang mau memeluk agama kaum penjajah ini akhirnay bergabung dan mau menjadi tentara kaum penjajah yang rnemerangi bangsanya sendiri.

Salah satunya adalah tentara Marsose yang diterjunkan ke Aceh yang terdiri dari orang-orang pribumi non-Muslim yang bekerja melayani para penjajah.

Seluruh perlawanan yang dibangkitkan merupakan perlawanan terhadap upaya 3G (Gold, Glmius, and Gospel) yang dibawa para kafir penjajah. Demikian pula yang dikobarkan Ahmad Lusy Patimura. Pada 1817, Patimura berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua, dan menewaskan residen Van den Bergh. Jihad ini meluas ke Ambon, Scram, dan tempat-tempat lainnya. Jihad yang digelorakan Patimura bisa kita lihat dalam tradisi lisan Maluku yang masih terpelihara hingga kini, yang antara lain beribunyi:
Yami Patasiwa
Yami Patalima
Yami Yama’a Kcpitan Mat Lussy
Matulu lalau Kato Sapambuine Ma Parang kua Kompania
Yami jama’a Kapitan Mat Lussy
Isa Nusa messe
Haro,
Hario,
Manu msi’a yare uleu uleu ‘o
Mane yascunma yare uleu-uleu ‘o
Talano utak; yare uleu-uleu’o.
Melano lette tuttua murine
Yami malawan sua mena miyo
Yami malawan sua mena miyo
(Kami Patasiwa
Kami Patalima
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Semua turun ke kota Saparua
Berperang dengan Kompeni Belanda
Kami semua dipimpin Kapitan Ahrnad Lussy
Menjaga dan mempertahankan
Semua pulau-pulau ini
Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap
Mari pulang semua
Ke kampung halaman masing-masing
Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)
Sudah pulang-sudah pulang
Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau)
Sudah pulang-sudah pulang
Ke kampung halaman mereka
Di balik Nunusaku
Kami sudah perang dengan Belanda
Mengepung mereka dari depan
Mengepung mereka dari belakang
Kami sudah perang dengan Belanda
Memukul mereka dari depan
Memukul mereka dari belakang)
Pertempuran kian sengit. Belanda lagi-lagi minta bantuan dari Batavia. Akhirnya Ahmad Lussy dan pasukannya tertangkap Belanda. Pada 16 Desember 1817, Ahmad Lussy dan para mujahidin Ambon menemui svahid di tiang gantungan kafir Belanda.
Sumber: Eramuslim digest, edisi koleksi 9




Data 2


Meluruskan sejarah Kapitan Ahmad `Pattimura’ Lussy
Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi di zaman ini dia lebih dikenal dengan nama Thomas Mattulessy yang identik Kristen.
Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minoritas atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan/atau Indonesia pada umumnya.
Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.
Pattimura adalah Muslim Taat
Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.
Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.
Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.
Jadi asal nama Thomas Mattulessy dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sebenarnya Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy (Mat Lussy). Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku (yang ada adalah Mat Lussy).
Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.
Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan nama Maluku.
Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku Menemukan Sejarah (yang menjadi best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”
Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy “Pattimura”
Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.
Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.
Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.
Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun nama Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di Cina. Pemerintah nasionalis-komunis Cina berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat. Dalam film Once Upon A Time in China, tokoh kharismatik ini diperankan aktor ternama Jet Li.
Demikianlah pelurusan sejarah Pattimura yang sebenarnya bernama Kapitan Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Wallahu A’lam Bish Shawab.* (dari berbagai sumber)
www.swaramuslim.net

Data 3

MENELUSURI JEJAK PATTIMURA DI BINONGKO
Bukti dan Jejaknya Masih tertata Rapih, di Binongko Patimura di Sebut Kapitan Waloindi
Mengungkap Asal Usul Patimura
Mengungkap jejak asal-usul Patimura berarti mengingatkan kita pada sejarah perjuangan kemerdekaan merebut Benteng Duursetede di Ambon, pada tanggal 16 Mei 1817 M. Nah, Bagaimana kisahnya hingga Patimura disebut Kapitan Waloindi yang tersohor sebagai Pendekar di Bitokawa (Wilayah Kerajaan Buton), selanjutnya di Ambon dikenal dengan nama “ Thomas Matulise Patimura.
Gino Samsudin Mirsab
Di Abad ke 21 ini, banyak para ahli sejarah meneliti situs-situs sebagai fakta sejarah masa lampau dan akhirnya mengangkat nama pejuang yang tidak di kenal asal usulnya, tak terkecuali “Patimura atau di Kerajaan Binongko disebut Kapitan Waloindi”. Pada zamannya Kapitan ini, oleh Colonial Belanda menggelarnya dengan sebutan pembangkang, sebaliknya di mata bangsa Indonesia, Patimura dia dikenal sebagai seorang tokoh pendekar yang santun, murah hatinya dan pejuang hak asasi manusia (HAM).
Saat ini, tak jarang banyak pakar sejarah di tanah air, terpaksa membolak-balikkan fakta sejarah para perjuang Kemerdekaan. Misal Kapitan Waloindi yang setara dengan para pejuang Nasional lainnya di Indonesia. Penelusuran pakar sejarah, ditemukan adanya jejak Patimura. Namun di Binongko oleh kalangan pendahulu Patimura di Binongko, namanya adalah Kapitan Waloindi.
Salah seorang peneliti sejarah La Rabu Mbaru SPd SD, yang ditemui Crew Radar Buton di Binongko mengatakan, sepak terjang pendekar yang satu ini, bukan saja melawan ketidak adilan di wilayah Kerajaan Buton, melainkan juga melakukan perlawanan dengan kalangan penjajah di bumi pertiwi ini. Alkisah, dialah Kapitan Waloindi, salah seorang sosok pendekar pembela rakyat jelata, pembela kebenaran, dan selalu murah hatinya, serta wajib baginya untuk menuntut agar keadilan dibumi pertiwi ini, segera diwujudkan, kata La Rabu Mbaru SPd.SD. Dalam penelusurannya, Kapitan Waloindi bukan saja berjuang melawan penjajah di kepulauan Tukang Besi Bitokawa (saat ini disebut Wakatobi) kerajaan Buton, tetapi juga di wilayah kepulauan Maluku. Karena itu La Rabu Mbaru, dalam uraiannya di buktikan dengan temuan-temuannya, sebagai fakta sejarah dan bukti-buktinya, tutur La Rabu.
“Kapitan Waloindi makamnya ada di Binongko, tegasnya”. Kapitan Waloindi merupakan kisah sejarah masa lampau (bukan merubah sejarah), tetapi hanya menekankan siapa sesungguhnya Kapitan Waloindi itu…?. Dalam fakta-fakta sejarah di Pulau Binongko hingga saat ini masih tersimpan kebenarannya. Karena itu Kapitan Waloindi dalam tradisi lisan rakyat Wali Pulau Binongko, bukan hanya menjadi cerita bersambung antara generasi, melainkan juga disertai dengan bukti-bukti sejarah tercatat pada tahun 1334 M.
Dalam sejarah di Kerajaan Binongko telah berdiri kokoh pada tahun 1334 M, sebelum kedatangan Raja Pati La Soro yang berpusat di Wali Koncu Patua. Selanjutnya pada tahun yang sama dibentuk empat kerajaan bersaudara yang disingkat dengan nama Bitokawa (Binongko, Tomia, Kahedupa, dan Wanse). Sejarah Buton dilegitimasi kebenarannya.
Dikatakannya, Raja Pati LaSoro yang kemudian dikenal dengan nama LaHatimura alias LaMura, alias Kapitan Waloindi, diakuinya berasal dari Tanah Barat yaitu dari wilayah Mongol (Tiongkok-Cina). Adapun sesuai penelusurannya Kapitan Waloindi ditemukan bukan berasal dari Mongol, namun ternyata sejak kecil dia diculik oleh para bajak laut, dan dia kembali masuk ke Indonesia melalui Gorontalo (Sekarang disebut Kabupaten Gorontalo) pada tahun 1334 M.
Selanjutnya Kapitan Waloindi atas informasi yang disampaikan oleh rekan penculiknya sejak masih balita pada saat itu, dia melanjutkan perjalannya menuju ke Pulau Bitokawa tepatnya di Binongko. Maksud kedatangannya di Negeri Bitokawa mencari sanak saudaranya, karena ternyata beliau adalah salah seorang anak cucu Raja Wali Patua Sakti (Sumahi Tahim Alam). La Baru Mbaru dalam penjelasannya, Kapitan Waloindi sesampainya di Pulau Binongko. La Soro bertemu dengan LaKakadu disekitar benteng keramat Oihu (saat ini disebut Kahea Koba). Kahea Koba adalah tempat tanah longsor jatuhnya raja Pati La Soro disaat uji kanuragan kesaktiannya (Hingga hari ini tempat itu, masih mengakui disebut jatuhnya raja Pati LaSoro) oleh masyarakat Lokal binongko.
La Kakadu yang ketika menjamu tamunya, karena mengaku adalah saudaranya yang telah lama menghilang, belum langsung mempercayainya, “kalau benar La Soro (Penemu atau pemilik pulau Bitokawa) adalah saudaraku akan kita buktikan kesaktianmu”, ucap LaKakadu. Tanpa menunggu lama keduanya saling menguji kesaktiannya, yang saat ini masih disebut tempat jatuhnya Raja Pati La Soro. Dalam adu kanuragan LaKakadu menendang Raja Pati LaSoro, hingga terperesok kedalam tanah sedalam 7 depa, selanjutnya di Cabut dari dalam tanah (saat ini disebut Kahea Koba), Kahea artinya Lubang, sedangkan Koba artinya dicabut, jelasnya.
Setelah LaSoro mendapat ujian dari LaKakadu, tibalah gilirannya untuk menguji La Kakadu. Secara tangkas LaSoro memutar Lakakadu dengan menggunakan ujung jarinya, sehingga La Kakadu bermuntah-muntah, lantas dia dilemparkan ke udara dan jatuhnya tepat di tanjung Pemali (Matano Sangia Burangasi) di Pulau Buton. Mengingat karena hal itu hanya ujian kanuragan, LaSoro menarik kembali LaKakadu untuk di kembali ketempat semula di Ohiu Pulau Binongko. Sehingga mulai saat itu keduanya saling membenarkan bahwa keduanya memang bersaudara, anak cucu dari Raja Patua Sumahil Tahim Alam, selanjutnya sebagai fakta sejarah tempat uji coba kesaktian itu, disebut Oihu artinya berarti saudara (Toih’u atau Oih’u), papar La Baru. ”Raja Pati LaSoro yang dikenal Sakti Mandraguna, usianya tercatat lebih kurang 600 tahun, selain itu mempunyai kelebihan atau dalam bahasa Wali (Cia-Cia) disebut (Kalabia Mimbali)”.
Sementara itu La Ode Illa dalam keterangannya kepada Radar Buton mengatakan, Kapitan Waloindi pada tahun 1975, seorang sejarawan Wali bernama Ama Huji, ketika ditemui 4 orang peneliti sejarah yang berasal dari Sumatera, kala itu disaksikan oleh La Ode Illa, La Ode Sehe mantan Kepala Desa Wali yang pernah menjabat pada tahun 1955 - 1979, dan selanjutnya diamini oleh LaOde Jaidi (Iyaro Agama Sarano Wali), sempat mendiskusikan asal-usul Kapitan Waloindi, tepatnya di Baruga Sarano Wali Binongko.
Dalam penjelasannya Iyaro Agama, Raja Pati La Soro yang sering dikenal dengan nama Kapitan Waloindi, berasal dari daerah mongol, namun sebelumnya dalam pencarian sanak saudaranya beliau sempat singga di Gorontalo, selanjutnya menuju ke Binongko. Menariknya dalam kisah pencarian Raja Pati Lasoro ini, setibanya di Binongko, dia La Soro di kabarkan mencari anak cucu Patua (Sumahil Tahil Alam).
Selanjutnya Iyaro Agama menjelaskan, perjuangan Kapitan Waloindi di pulau Tukang Besi ini, sangat besar pengaruhnya. Pasalnya, di Kepulauan Tukang Besi pada saat itu, sedang gencarnya perebutan kekuasaan antara perampok Bajak Laut dari wilayah Tobelo, Ternate, maupun Kerajaan Buton. Karena itu dibutuhkan peranan seorang pahlawan seperti halnya Kapitan Waloindi. Bersama para pejuang lainnya di Kepulauan Tukang besi maka dibangunlah kekuatan Bala tentara, yang hingga saat ini, tidak akan terlupakan dalam lembaran sejarah kerajaan Binongko, karena jasanya menumpas para Bajak laut, hingga saat ini cerita sejarah Kapitan Waloindi dimasyarakat daerah Wakatobi masih selalu diperdengarkan hingga saat ini.
Selanjutnya pada Abat 1334 M, kerajaan Binongko di Wali Koncu patua ketika di taklukan oleh Sapati Baaluwu atas nama kerajaan Buton, maka pada saat itu, empat kerajaan bersaudara Bitokawa masing-masing kerajaan berpusat di Patua Tomia, di Palea Kahedupa, Kerajaan Wanse di Liya Wangiwangi.
Hal ikhwal ditaklukannya kerajaan Bitokawa oleh Kerajaan Buton kala itu, sesuai nara sumber sejarah diwilayah Buton, antara Kapitan Waloindi dan Sapati Baaluwu, sempat terjadi pertempuran antara keduanya selama sehari. Namun karena keduanya tidak nampak akan adanya yang kalah dan menang, maka Kapitan Waloindi, meminta agar pertempuran dihentikan sementara. Dalam jedah waktu tersebut Kapitan Waloindi ketika menatap roman muka Sapati Baaluwu, maupun gerak gerik lawannya itu, yang tidak ada gentarnya.
Maka keduanya berinisiatif, untuk saling membuka rahasia, selanjutnya berunding, untuk tidak memperpanjang pertempuran, guna tidak memakan banyak korban nyawa. Dan dalam bahasa rahasia Kapitan Waloindi memulai membuka Rahasia hidupnya, kalau ingin mengalahkan Kapitan Waloindi, Rahasianya tersimpan ditelapak kakinya. Sapati Baaluwu, mendengar terbukanya Rahasia Kapitan Waloindi...dia berjanji telah tiba saatnya, ”Engkaulah Sapati Baaluwu yang meneruskan Kerajaan Binongko, untuk dipersatukan di bawah naungan Kerajaan Butuni (Buton). Dan bertindaklah yang adil, bijaksana dalam setiap langkahmu”, ungkap Kapitan Waloindi.
Bukti sejarah pertempuran kedua pendekar ini sampai saat ini, masih ada di pantai Pasir Palahidu, dimana secara Haebu (Rahasia), Kapitan Waloindi menyerahkan dengan suka relah telapak kakinya kepada Sapati Baaluwu untuk dibelah kakinya. Dan sejak itu tempat pertarungannya di sebut Pallahidu (Pala artinya Telapak, Hidu artinya Hidup atau Hayat). Hal ini, juga diakui oleh sumber Radar Buton La Herani: pada tahun 2002. Selanjutnya Kapitan Waloindi berkata kepada masyarakatnya, dan sanak keluarganya, ”Kujalau (Aku jalan kaki lewat laut), Jalan tete, jalan tete (Kepergian seorang Kakek), Tamosio-siomo (kita akan berpisah-pisah), Mina dhi Wali Saranakamo LaOde (di Wali akan diserahkannya kepemimpinannya), Asumawimo di Watu Maria Khu Rumope Dhi Ambo Soea (Kumenumpang dipeluruh meriam atau Bedil, Kumenuju Ambon, Soea), sumber La Isamu Kaluku pada tahun 2004.
Diriwayatkan juga, setelah Kapitan Waloindi dibelah kakinya oleh Sapati Baaluwu, maka Kapitan Waloindi menghilang secara misterius menuju Timur, Ambon, dan tinggal di Gunung Soea, untuk melanjutkan pertapaannya. Keberadaan Kapitan Waloindi, di gunung Soea Ambon tidak diketahui orang-orang Bitokawa (Wakatobi), maupun orang Buton yang lebih dahulu bermukim di Ambon, kecuali orang-orang yang bisa memegang rahasia (Manusia Rahasia), baru dapat mengenalnya.
Pada tahun 1511 M, setelah sekian lama Kapitan Waloindi bermukim di gunung Soea Ambon. Namun tidak seorangpun yang tahu kalau beliau adalah seorang yang Ksatria dan mandraguna. Beliau dianggap orang biasa saja. Kapitan Waloindi mulai dikenal sebagai pendekar setelah dia masuk tentara Protugis pada tahun 1511 M, selanjutnya bertempur dengan unifprm pasukan tentara Protugis, menyerang dan memukul mundur pasukan Belanda. Karena itu, maka dia Kapitan Waloindi serya membangkitkan semangat rakyat Ambon Maluku, dia juga membentuk pasukan bala tentara untuk menghadapi ancaman penjajah Belanda (VOC).
Sebagai teman karib Kapitan Waloindi yang setia masing-masing; LaTulukabesi (Raja Hitu), Paulus Tiahahu, Cristina Marta Tiahahu (seorang anak putri Paulus Tiahahu) dan Kapitan Patipelohi (Patipelong), berjuang bahu membahu untuk mengusir penajajah Belanda, kala itu, dikenal dengan merebut Benteng Duursetede Ambon dari tanggal 15-16 Mei 1817.
Setelah menguasai Benteng Duursetede Ambon, dia Kapitan Waloindi yang lebih akrab dipanggil sahabat-sahabatnya dengan nama Patimura, karena Hatinya murah, mulia. Selain itu Kapitan Waloindi juga dipanggil oleh sahabat-sahabatnya La Hatimura atau LaMura. Disebutkannya dengan nama Patimua itu, karena dia Raja Pati yang berhati mulia (bermurah hati), beliau relah membantu orang-orang yang lemah dan teraniaya, sehingga gelarnya semakin lama, maka oleh sahabat-sahabat, mengkukuhkan namanya menjadi, ”Thomas Matulesi Patimura”. Berdasarkan kajian riwayat sejarah lisan kuno Wali Binongko, yang digantung oleh Belanda didepan Benteng Victoria Kota Ambon pada tanggal 16 Desember 1817 itu, adalah bukan Patimura, melainkan seorang mata-mata Belanda yang kebetulan wajahnya sama, mirip dengan Patimura.
Sedangkan Kapitan Waloindi atau Patimura telah merubah wajah bersama La Tulukabesi (Raja Hitu), Paulus Tiahahu, Cristina Tiahahu, dan Kapitan Patipelohi kala itu sedang dalam tahanan Belanda, selanjutnya mereka diasingkan ke tanah jawa. Namun ketika diberangkatkan dengan kapal, sesampainya di sekitaran Laut Buru, kapal tersebut kehabisan makanan dan air minum. Maka kalangan pendekar yang menjadi tahanan Belanda dikapal tersebut, melakukan pemberontakan, dan membunuh habis para penghianat (Belanda) selanjutnya mengarahkan kapal tersebut ke Pulau Tukang Besi, tepatnya dipantai Patuhuno (orang yang turun), dan saat ini disebut ”Patuno”, pulau wangi-wangi.
Keberadaan tahanan Belanda ini, setibanya di pulau Wangiwangi disambut dengan gembira oleh masyarakat Wangiwangi. Namun mata-mata Belanda sebaliknya tidak tinggal diam, malah melaporkannya, berada di pulau Wangiwangi. Raja Hitu (Latulukabesi), bersama Paulus Tiahahu, dan Cristina Tiahahu mendengar telah diketahui oleh mata-mata Belanda tentang keberadaannya di Wangiwangi, setelah mendapat tumpangan mereka kembali ke Ambon, tanpa diketahui oleh mata-mata Belanda.
Sedangkan Kapitan Patipelohi (Patipelong) menuju ke Pulau Tomia dan kawin dengan putri Ince Suleman (Dato Suleman) penyiar agama Islam di Tomia. Sementara Kapitan Waloindi kekampung halaman di Binongko menemui anak cucunya yang kala itu dia tinggalkan kurang lebih 483 tahun.
Ironisnya, setibanya Kapitan Waloindi di Binongko terdengar oleh mata-mata Belanda dan akhirnya beliau dicari oleh Belanda hingga sampai ke pulau Binongko. Namun ketika Kapal Belanda yang memuat 7 Kompi Bala Tentara Belanda untuk menangkap Patimura, malah yang terjadi sebaliknya tentara Belanda dihabisi oleh Kapitan Waloindi.
Sebagai Bukti peninggalan sejarah, kapal Belanda yang berlabuhnya di Taduna itu oleh masyarakat Binongko, tempat itu diberi nama kampung Nato, letaknya tidak jauh dari pantai perkampungan Walanda (Belanda), meskipun hingga saat ini masih dirahasiakan.
Kampung lama atau Kampung Molengo atau mangingi, disinilah Kapitan Waloindi menghembuskan nafas terakhirnya, dan nama Kapitan Waloindi telah diabadikan menjadi nama desa, di kecamatan Togo Binongko Wakatobi. Kesaktian Kapitan Waloindi di Zaman seperti ini, sepertinya tidak masuk akal, namun tidak salah untuk kita kagumi, karena hal itu terjadi pada zamannya.

Kamis, 16 Oktober 2014

Pangeran Diponeoro Tokoh dan Pahlawan Islam


Diponegoro, Singa Jawa dari Keraton Yogjakarta


Beliau seorang Mujahid keturunan Raja Yogjakarta. Seluruh nafas kehidupannya diabadikan untuk kemerdekaan Tanah Jawa, dengan bersendikan ajaran agama Islam.

Tegalrejo 29 Juli 1825. Wilayah di bawah pimpinan Chevallier pasukan gabungan Belanda dan orang-orang patih Darurejo IV menyerbu laskar-laskar Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo, sebuah desa kecil yang terletak di barat laut Keraton Yogjakarta. Dentuman meriam dan bunyi letupan senapan membahana di seluruh penjuru desa.

Menghadapi serangan itu, kedua Pangeran bersama laskarnya segera menyingkir ke tempat yang lebih aman. Mereka menyadari, perang di medan yang amat sempit tidak menguntungkannya. Pangeran Diponegoro akhirnya memilih tempat yang lebih strategis untuk basis peperangannya di bukit Selangor, sebuah tempat yang dikelilingi lembah , benteng-benteng alam dan Gua, yang biasa dipergunakan bertapa. Tempat itu terletak 10 Km di sebelah barat daya kota Yogjakarta. Sedangkan keluarganya diungsikan ke desa Dekso.

Di lain pihak, Chevallier terus melancarkan serangan dahsyat dengan mengerahkan seluruh pasukan dan persenjataan yang dimiliki. Alhasil, Chavalier dalam waktu singkat mampu menguasai Tegalrejo. Sayangnya, Tegalrejo telah kosong melompong. Bakar…. Bakar saja rumah Diponegoro sampai habis! Seru Chavalier di tengah kemarahan dan kedongkolan hatinya karena buruannya telah kabur.

Tanpa membuang waktu lagi, tentara gabungan itu membakar rumah Diponegoro dan puluhan rumah lain di sisi kanan kirinya. Dari kejauhan, di balik bukit terjal, di atas Kuda Getayu, Pangeran Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi beserta seluruh anggota laskarnya menyaksikan dengan sedih pembumihangusan puluhan rumah tersebut.

Sebaliknya berita penyerangan Belanda ke Tegalrejo cepat menjalar ke seluruh pelosok Yogjakarta dan Surakarta. Sebagian besar rakyat tanpa dikomando berduyun-duyun datang ke Selangor lengkap dengan persenjataannya. Dari Surakarta, datang ulama Bayat, dan laskar-laskar yang di komandoi oleh Kyai Mojo dan Tumenggung Prawirodigdoyo. Dari kesultanan Yogjakarta, tidak kurang 74 bangsawan akhirnya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro di Selangor. Diantara kerumunan Bangsawan itu, terdapat Sentot Prawirodirjo, seorang Senopati muda yang belum berusia 18 tahun, putra Raden Ronggo Prawirodirjo III. Seperti halnya sang ayah, Sentot kemudian tampil sebagai pejuang besar yang sangat di takuti pihak Belanda.

Propaganda perang melawan bangsa kafir segara dilakukan di mana-mana, di Yogjakarta, Jayanegara segera membuat surat edaran untuk seluruh rakyat Mataram. Isinya mengajak berjuang bersama Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi mengusir kaum penjajah Kafir Belanda. Di wilayah luar Yogjakarta, seperti Kedu, Banyumas dan sekitarnya, ajakan jihad fi sabilillah di sampaikan oleh Kyai Kasan Besari yang disambut rakyat dengan gegap gempita.

Sesuai dengan saran Sinuhun Paku Buwono VI, laskar-laskar Diponegoro menggunakan taktik dan strategi perang “Dhedhemitan” alias “Gebag ancat nrabas geblas”. Menyerbu secara tiba-tiba dan kemudian dengan cepat menghilang dibalik hutan-hutan, Gua, Bukit, atau kegelapan malam.

Rupanya taktik dan perang anggota laskar Diponegoro sangat menakutkan pihak Belanda. Tidak mengherankan, bila pada tahun-tahun pertama pihak Belanda kewalahan dan banyak mengalami kekalahan.

Kemenangan pertama Pangeran Diponegoro dan laskarnya didapat di desa Pisangan, perbatasan Muntilan dan Yogjakarta. Laskar Diponegoro yang dipimpin oleh Mulyo Santiko dengan gagah berani mencegah iring-iringan pasukan Belanda yang berjumlah sekitar 120 orang yang berusaha masuk ke Yogjakarta. Mereka berhasil menghancurkan seluruh pasukan Belanda itu. Uang sebesar 50.000 gulden dapat dirampas berikut alat-alat perangnya. Kemenangan pertama ini segera di ikuti oleh kemenangan-kemenangan berikutnya. Pada 6 Agustus 1825, pasukan Diponegoro yang dipimpin para panglimanya yang gagah berani berhasil menghancurkan markas Belanda di Pacitan, menyusul kemudian Purwodadi.

Kemenangan demi kemenangan tentu saja dapat mengobarkan semangat rakyat untuk bersama-sama bangkit melawan Kafir Belanda. Perangpun makin meluas sampai ke Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang dan Madiun.

Kekalahan beruntun yang dialami Belanda, memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda segera mengirim Letnan Jenderal Markus De Kock ke Jawa Tengah sebagai panglima angkatan perang Belanda. Jenderal De Kock mendapat kekuasaan untuk menjalankan segala tindakan dalam menangani peperangan.

Jenderal De Kock dengan licik segera menyebarkan politik pecah belah, dan mengadu domba. Ia segera menemui dan memaksa Sunan Pukubuwono VI, dan Mangkunegoro II, dan Paku Alam I agar bersedia membantu Belanda. Ia juga mengerahkan bantuan pasukan pribumi itu untuk menggempur markas pasukan Diponegoro di Selarong. Namun, beruntung gerakan pasukan gabungan ini sudah dapat di ketahui oleh mata-mata Pangeran Diponegoro. Semua laskar dan pimpinannya segera bersembunyi. Akibatnya, ketika pasukan Belanda menguasai Selarong pada malam hari, mereka hanya menemukan bukit dan Gua yang sudah kosong. Pasukan Belanda pun mundur dan kembali pulang dengan tangan hampa.

Tidak beberapa lama tentara Belanda pulang, malam itu juga Pangeran Diponegoro segera mengadakan pertemuan dengan para Senopatinya. Mereka membahas untuk segera memindahkan markasnya di Selarong. Semua sepakat. Desa Deksa yang jaraknya sekitar 23 Km dari Yogjakarta dijadikan markas baru.

Pertempuran kembali berkobar diseluruh Mataram. Hasilnya pada Januari 1826 Pangeran Diponegoro berhasil merebut dan menguasai daerah Imogiri dan Pleret, di susul daerah Lengkong, Kasuran dan Delangu.

Bagi pihak Belanda, kekalahan beruntun itu justru membuat Jenderal De Kock makin nekad. Ia mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat Belanda untuk menambah anggaran perang. Anggaran itu rencananya untuk membuat benteng Stelsel. Tujuannya untuk mempersempit ruang gerak Pasukan Diponegoro di daerah-daerah yang di kuasai Belanda. Pelaksanaan benteng Stelsel juga dimaksudkan untuk mengadakan tekanan kepada Pangeran Diponegoro agar bersedia menghentikan peperangan.

Di wilayah Mataram kemudian muncul benteng-benteng Belanda yang kukuh, seperti di Bantul, Paluwatu, Pasargede, Jatinom, dan Delangu. Tidak kurang dari 165 buah benteng telah di dirikan Belanda untuk mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro. Tekanan dari Belanda ini masih ditambah dengan adanya Bupati-bupati daerah yang memihak kepada Belanda, sehingga sangat menyulitkan komunikasi laskar Diponegoro antar daerah. Akibatnya, perlawanan itu menjadi mudah dipatahkan oleh pasukan Belanda. Pasukan Bulkiyo mulai menghadapi masa-masa sulit.

Di tengah kesulitan itu, Pangeran Diponegoro mengumpulkan para sesepuh dan Senopati membahas perkembangan dan situasi di medan perang. Pertemuan itu dilakukan di pesanggrahan Bagelan. Hasilnya mereka tetap melanjutkan perjuangan sampai kemerdekaan bumi tanah Jawa tercapai. Akibatnya, tidak sedikit laskar Pengeran Diponegoro yang gugur. Pangeran Kusumowijoyo yang mengobarkan pertempuran di Keraton Surakarta, akhirnya gugur di Lembah Kali Serang. Ia kemudian dikenal dengan nama Pangeran Serang, dan istrinya Raden Ajeng Kusriyah juga gugur di Dekso, Kulon Progo. Tidak berapa lama kemudian, gugur pula Tumenggung Prawirodigdoyo dari Gagatan. Ia gugur di medan tempur Klengkong saat memimpin 100 prajuritnya melawan tentara Belanda yang jumlahnya berlipat-lipat dengan dukungan meriam dan senjata laras panjang.

Belum lagi hilang rasa duka, kabar yang mengejutkan menyusul, Gusti Pangeran Notodiningrat bersama istri dan ibundanya dan tidak kurang dari 200 pengikutnya menyerah kepada Belanda di Yogjakarta. Dengan keberhasilan Belanda mempengaruhi Pangeran Notodiningrat Jenderal De Kock semakin gila mendekati pemimpin-pemimpin laskar Pangeran Diponegoro. Ia menjanjikan kedudukan dan hadiah-hadiah berlimpah bila mau menyerah dan mendukung Belanda. Satu bulan kemudian, Belanda kembali berhasil membujuk salah seorang panglima laskar Diponegoro, yaitu Pangeran Arya Papak dan Tumenggung Ario Sosrodilogo.

Kiai Mojo yang menjadi tulang punggung kekuatan pasukan perang Pangeran Diponegoro, akhirnya juga menyerah kepada pasukan Belanda. Menyerahnya Kiai Mojo merupakan pukulan berat bagi Pangeran Diponegoro dan laskar-laskarnya. Tetapi Pangeran Diponegoro bertekad untuk tidak menyerah dan tetap mengobarkan perlawanan.

Pada 20 Desember 1828, Laskar Pangeran Diponegoro segera melancarkan serangan dahsyat terhadap markas Belanda di Nanggulan. Dalam pertempuran itu Kapten Van Inge tewas, sedang dari pihak pasukan Diponegoro kehilangan Senopatinya yang gagah berani, Pangeran Prangwedono.

Berita hancurnya benteng Nanggulan, membuat jenderal De Kock semakin ketakutan, sebab ia selalu melihat sosok Senopati Sentot sebagai momok yang sangat berbahaya. Karena jenderal De Kock terus berupaya membujuk Sentot dengan berbagai cara agar mau menyerah. Tapi, Senopati muda itu tetap menolaknya. Belum berhasil membujuk Sentot, ia berhasil memperalat dan menekan Pangeran Ario Prawirodiningrat, Bupati Madiun, untuk menyerah. Sebabnya, jika tidak mau menyerah taruhannya adalah nyawa sepupunya.

Setelah Pangeran Ario Prawirodiningrat menyerah, menyusul Sentot Prawirodirjo dan Pangeran Mangkubumi. Menyerahnya dua Pangeran yang gagah berani ini membuat Pangeran Diponegoro kembali terpukul telak dan membawa beban moral, tidak hanya dalam dirinya, tetapi juga kepada seluruh prajurit Bulkiyo. Belum lagi batin Pangeran Diponegoro sembuh di akhir tahun 1829, satu persatu Senopati daerah menyusul jejak Senopati Sentot dan Pangeran Mangkubumi, antara lain, Pangeran Ario Suriokusumo, Kerto Pengalasan, pahlawan medan tempur Pleret, dan Pangeran Joyosudirjo

Rupanyan Pangeran Diponegoro tak bergeming, meski hatinya tertekan, ia tetap melanjutkan perjuangannya dan tetap menaruh kepercayaan atas kesetiaan rakyat Bagelan, Banyumas, dan Kedu. Usaha Jenderal De Kock untuk mempercepat peperangan rupanya tidak berhasil. Meski jauh sebelumnya Jenderal ini sudah menjanjikan 20.000 ringgit kepada siapa saja yang sanggup menangkap hidup atau mati Pangeran Diponegoro. Segenap rakyat dan laskar-laskar Pangeran Diponegoro tidak mau mengkhianati pemimpin yang agung ini.

Tapi, Jenderal De Kock tidak putus asa, melalui Kolonel Cleerrens, akhirnya bisa membujuk putra Pangeran Diponegoro, yaitu Pangeran Dipokusumu, untuk menyerah. Penyerahan putra kesayangannya itu benar-benar membuat Pangeran Diponegoro terluka. Maka pada bulan Februari 1830, ketika Kolonel Cleerens menawarkan jalan perundingan, terpaksa Pangeran Diponegoro menerimanya dengan berat hati. Dua musuh bebuyutan inipun bertemu di Remo Kamal, Bagelan, Purworejo, pada tanggal 16 Februari 1830. Cleerens kemudian mengusulkan agar kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di kaki bukit Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal markus De Kock dari Batavia.

Dengan janji tidak dikhianati, Pangeran Diponegoro bersedia mengadakan perundingan. Pada bulan Maret 1830, ia dengan pasukannya tiba di tempat perundingan, dirumah Residen Magelang. Bersama Kolonel Cleerens, Pangeran Diponegoro menuju ruang kerja Jenderal De Kock. Beberapa putra Diponegoro dan perwira Belanda ikut menyaksikan jalannya perundingan tingkat tinggi tersebut.

Sekitar dua jam sudah perundingan berlangsung, tapi belum membuahkan hasil. Berkali-kali Jenderal De Kock mencoba membujuk agara Pangeran Diponegoro mengurangi tuntutannya. Tapi Pangeran Diponegoro tetap teguh pada pendiriannya. Mendirikan sebuah Negara merdeka yang bersendikan agama Islam. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, apabila perundingan menemui jalan buntu, Pangeran Diponegoro boleh meninggalkan ruangan itu dengan bebas. Tapi kenyataannya, Jenderal De Kock curang, “Tangkap tangkap Diponegoro dan semua pengikutnya”, teriak De Kock kepada pasukannya sambil menodongkan pistol kearah Pangeran Diponegoro. Sejurus kemudian, Pangeran Diponegoro beserta para pengikutnya ditangkap dan dijebloskan dalam sebuah penjara yang amat pengap. Hari- hari terakhir pangeran Diponegoro dihabiskan di dalam penjara.
(http://kisahislami.com/pangeran-diponegoro-singa-jawa-dari-keraton-yogjakarta/)

Minggu, 06 Oktober 2013

Riwayat Singkat Nabi Muhammad SAW


Nama `            : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim.  
Tarikh lahir      : Subuh hari Isnin, 12 Rabiulawal bersamaan 20 April 571 Masehi (dikenali sebagai Tahun Gajah; sempena peristiwa tentera bergajah Abrahah yang menyerang kota Kaabah).  
Tempat lahir     : Di rumah Abu Talib, Makkah Al-Mukarramah.  
Nama bapa      : Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim.  
Nama ibu         : Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf.  
Pengasuh 1      : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapa Rasulullah SAW).  
Ibu susu 1        : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).  
Ibu susu 2       : Halimah binti Abu Zuaib As-Saadiah (lebih dikenali Halimah As-Saadiah.
                         Suaminya bernama Abu Kabsyah).  

USIA 5 TAHUN
Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.

USIA 6 TAHUN
Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa ' (sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah). Baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapa Rasulullah SAW) dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muttalib.

USIA 8 TAHUN
Datuknya, Abdul Muttalib pula meninggal dunia. Baginda dipelihara pula oleh bapa saudaranya, Abu Talib. USIA 9 TAHUN (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun). Bersama bapa saudaranya, Abu Talib bermusafir ke Syam atas urusan perniagaan. • Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendita Nasrani bernama Bahira (Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa itu.

USIA 20 TAHUN
Terlibat dalam peperangan Fijar . Ibnu Hisyam di dalam kitab ' Sirah ' , jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah 14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja. Menyaksikan ' perjanjian Al-Fudhul ' ; perjanjian damai untuk memberi pertolongan kepada orang yang dizalimi di Makkah.

USIA 25 TAHUN
Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah. Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah. Baginda SAW bersama-sama Abu Talib dan beberapa orang bapa saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapa saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu. Mas kahwin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

USIA 35 TAHUN
Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Kaabah. Pembinaan semula Kaabah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk Makkah. Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan ' Hajarul-Aswad ' ke tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan batu tersebut. USIA

40 TAHUN
Menerima wahyu di gua Hira ' sebagai perlantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.

USIA 53 TAHUN
Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Saidina Abu Bakar Al-Siddiq. Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal/ 24 September 622M.

USIA 63 TAHUN
Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah/ 8 Jun 632 Masihi.

ISTERI-ISTERI RASULULLAH SAW
Khadijah Binti Khuwailid. Saudah Binti Zam'ah. Aisyah Binti Abu Bakar (anak Saidina Abu Bakar). Hafsah binti ' Umar (anak Saidina ' Umar bin Al-Khattab). Ummi Habibah Binti Abu Sufyan. Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah). Zainab Binti Jahsy. Maimunah Binti Harith. Safiyah Binti Huyai bin Akhtab. Zainab Binti Khuzaimah (digelar ' Ummu Al-Masakin ' ; Ibu Orang Miskin).

ANAK-ANAK RASULULLAH SAW
Qasim Abdullah Ibrahim Zainab Ruqaiyah Ummi Kalthum Fatimah Al-Zahra '

ANAK TIRI RASULULLAH
SAW Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah al-Tamimi (anak kepada Saidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).

SAUDARA SESUSU RASULULLAH SAW
IBU SUSUAN/SAUDARA SUSUAN Thuwaibah Hamzah Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad SAUDARA SUSUAN Halimah Al-Saidiyyah Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Mutallib Abdullah bin Harith bin Abdul ' Uzza Syaima ' binti Harith bin Abdul ' Uzza ' Aisyah binti Harith bin abdul ' Uzza

BAPA DAN IBU SAUDARA RASULULLAH SAW
(ANAK-ANAK KEPADA ABDUL MUTTALIB) Al-Harith Muqawwam Zubair Hamzah *** Al-Abbas *** Abu Talib Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza) Abdul Ka ' bah Hijl Dhirar Umaimah Al-Bidha (Ummu Hakim) Atiqah ## Arwa ## Umaimah Barrah Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam) *** *** Sempat masuk Islam. ## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya. Sabda Rasulullah SAW: "Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai aku. Dan sesiapa yang mencintai aku nescaya dia bersama-samaku di dalam syurga." (Riwayat Al-Sajary daripada Anas ) Nabi Muhammad SAW - Manusia agung

KENALI NABI MUHAMMAD S.A.W.
SECARA LAHIRIAH.
Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua muka dengan Baginda lantas melafazkan keIslaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda. Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:
• Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah saw
• Aku melihat cahaya dari lidahnya.
• Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari terbit.
• Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.
• Rasulullah umpama matahari yang bersinar.
• Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.
• Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.
• Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.
• Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.
• Wajahnya seperti bulan purnama.
• Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.
• Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
• Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.  
• Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
• Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
• Mulut baginda sederhana luas dan cantik.
• Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
• Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.
• Janggutnya penuh dan tebal menawan.
• Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.
• Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.
• Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.
• Rambutnya sedikit ikal.
• Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah bahu tapi disisir rapi.
• Rambutnya terbelah di tengah.
• Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat.
• Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa.  
• Seimbang antara kedua bahunya.  
• Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar dan tersusun dgn cantik.
• Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.  
• Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.  
• Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.  
• Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
• Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan putih.  
• Warna putihnya lebih banyak.  
• Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.  
• Warna kulitnya putih tapi sihat.

Putra Putri Nabi Muhammad SAW

Putra Putri Nabi

Abdullah bin Muhammad
Putra beliau dari Khadijah, meninggal ketika masih kecil.


Ibrahim bin Muhammad (wafat 10 H)
Putra Nabi dari Mariah Qibtiah. Dia hanya hidup selama 18 bulan. Nabi menyaksikan ketika dia menghembuskan nafas yang terakhir sambil meneteskan air mata, beliau berkata “mata boleh meneteskan air, hati boleh bersedih, tapi kita tidak boleh mengucapkan kalimat yang tidak diridai Allah”.


Qasim bin Muhammad
Putra beliau dari Khadijah yang meninggal ketika masih kecil.

Putri Nabi

Fatimah binti Muhammad (wafat 11 H)
Putri bungsu Rasulullah SAW dari Khadijah yang paling disayangi oleh Rasulullah SAW. Dia tergolong wanita Quraisy yang genius dan pintar bicara. Dia menikah dengan Ali bin Abu Thalib. Dari perkawinan ini lahirlah Hasan, Husain, Ummi Kultsum dan Zainab. Dia meninggal 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah. Dan dari Fatimah Az-Zahro¡¦ini lahirlah dzuriyah Rasul sampai sekarang, yang di masyarakat lazim dijuluki Sayid, Habib ataupun Syarief.


Ruqaiah binti Muhammad (wafat 2 H)
Putri Rasulullah SAW. dari Khadijah yang dipersunting oleh Utbah bin Abu Lahab sewaktu Jahiliah. Setelah munculnya Islam dan turunnya ayat yang berarti “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan dia juga akan celaka” (S. Al-Masad ayat 1)dia langsung dicerai oleh suaminya atas perintah Abu Lahab. Dia memeluk Islam bersama ibunya. Kemudian dia dinikahi oleh Usman bin Affan dan ikut bersama suaminya hijrah ke Abessina (habasyah ), kemudian mereka kembali dan menetap di Madinah seterusnya meninggal di kota itu pula.


Ummi Kultsum binti Muhammad (wafat 9 H/639 M)
Putri Rasulullah dari Khadijah yang dipersunting oleh Utaibah bin Abu Lahab pada masa Jahiliah. Setelah turunnya ayat yang artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia juga akan binasa.” (S. Al-Masad ayat 1) ia dicerai oleh Utaibah atas perintah Abu Lahab. Sepeninggal kakaknya, Ruqaiyah, istri pertama Usman dia dinikahi oleh Usman bin Affan. Dia ikut berhijrah ke Madinah.


Zainab binti Muhammad (wafat 8 H.)

Putri sulung Rasulullah yang dipersunting oleh Abul Ash bin Rabi’. Dia memeluk agama Islam dan ikut hijrah ke Madinah, sementara suaminya bertahan dalam agamanya di Mekah sampai dia tertawan dalam perang Badar. Di saat itu, Rasulullah meminta kepadanya untuk menceraikan Zainab, lalu diceraikannya. Setelah dia masuk Islam, Rasulullah SAW. mengawinkan mereka kembali.

PONPES SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI

Sholawat_Badar-Puput_Novel-TOPGAN

Blogger templates

href="http://www.yayasangurungajiindonesia.com" ' rel='canonical'/>>

Adsendiri

Pasang Iklan Disini

adsend

Pasang Iklan Disini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls