| |||||||||||||
| DINAS PENDIDIKAN | |||||||||||||
| DINIYAH ULA SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI-BANYUMAS | |||||||||||||
| Jln Karangduren RT01/05 Desa Purwojati Kec. Purwojati Banyumas 53175 | |||||||||||||
SURAT PERNYATAAN PESERTA DIDIK DINIYAH ULA SHIDIQIIN WARA`
TAHUN PELAJARAN 2014 / 2015
| |||||||||||||
| Saya yang bertanda tangan dibawah ini : | |||||||||||||
| 1. | Nama lengkap | : | |||||||||||
| 2. | Kelas | : | |||||||||||
| 3. | NIS | : | |||||||||||
| 4. | Nama Orang tua | : | |||||||||||
| Dengan sungguh – sungguh dan penuh tanggung jawab | |||||||||||||
| MENYATAKAN | |||||||||||||
| bahwa selama menjadi peserta didik saya : | |||||||||||||
| a | Akan Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler wajib PRAMUKA | ||||||||||||
| b | Akan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pilihan: **) | ||||||||||||
| 1. Karate | 10. Seni Baca Al-Quran (Qiro’ah) | ||||||||||||
| 2. Futsal | 11. THC | ||||||||||||
| 3. Bola Basket | 12. Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) | ||||||||||||
| 4. Desain Grafis | 13. TEC | ||||||||||||
| 5. Bela Diri / Pencak Silat | 14. TONTI | ||||||||||||
| 6. Web Desain | 15. Bola Voli | ||||||||||||
| 7. Seni Tari | 16. Robotik | ||||||||||||
| 8. Paduan Suara | 17. PMR | ||||||||||||
| 9. Karawitan | |||||||||||||
| Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan tanpa tekanan dari pihak manapun serta diketahui/ disetujui orangtua/wali saya. | |||||||||||||
| ……….. | ……Juli 2014 | ||||||||||||
| Mengetahui / Menyetujui | |||||||||||||
| Orangtua/Wali siswa | Yang membuat pernyataan | ||||||||||||
| (………………………………) | (………………………….) | ||||||||||||
| Keterangan : | |||||||||||||
| **) Pilih maksimal 2 diantara poin B dengan cara melingkari nomornya | |||||||||||||
RARAS WURI MISWANDARU`S BLOG
Walau Aku dibenci karena kegiatan dakwah dan pendidikan yang Kujalankan, Insya allah akan tetap berjalan.
PENDIDIKAN DINIYAH NON FORMAL
Pendidikan Diniyah Non Formal (SHIDIQIIN WARA`) pertama didirikan oleh Kyai Muhammad Syechan Tahun 1975 diteruskan oleh Suharto AMd dan dilanjutkan Oleh Raras Wuri Miswandaru, SPdI.
PENDIDIKAN DINIYAH FORMAL
Pendidikan Diniyah Formal Merupakan Pelopor pertama dan Satu-satunya di Indonesia yang dilaksanakan di Emper Masjid belum punya gedung sendiri.
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Selasa, 15 September 2015
Angket dan Surat Pernyataan Pilihan Ekstrakurukuler
ANGKET EKSTRAKURIKULER DAN SURAT PERNYATAAN PESERTA DIDIK
0
mmmmm
Jumat, 10 Oktober 2014
Silabus Dan RPP PAI SD Kurikulum 2013-Download
Berikut kami lampirkan link unduhan untuk Silabus dan Contoh RPP Kurikulum 2013 PAI SDyang kiranya dapat membantu bapak/ibu guru pada bidangnya masing-masing karena pada kurikulum 2013 Mapel Guru PAI juga berkolaborasi pada Pendidikan Budi Pekerti kiranya sedikit ada hal baru dan inilah sedikit contoh yang kami bisa sediakan untuk kawan-kawan yang memerlukan.
Download Silabus PAI SD Kelas 1 Kurikulum 2013 (satu) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 2 Kurikulum 2013 (dua) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 3 Kurikulum 2013 (tiga) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 4 Kurikulum 2013 (empat) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 5 Kurikulum 2013 (lima) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 6 Kurikulum 2013 (enam) klik disini
Dan berikut contoh RPP PAI SD Kurikulum 2013 sebagai bahan referensi bagi bapak/ibu guna membuat Rencana pelaksanaan Pembelajaran yang lebih baik serta Program Semester atau Promes dan Prota PAI SD Kurikulum 2013 dan jika menginginkan pula tambahannnya silahkan klik download jadwal Pelajaran Kurikulum 2013
Klik link Berikut untuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PAI
RPP PAI SD Kelas 1 Kurikulum 2013 disini
RPP PAI SD Kelas 4 Kurikulum 2013 disini
Demikian RPP dan silabus PAI SD untuk K13 yang kami bisa sediakan sebagai bahan referensi dalam kegiatan Belajar dan Mengajar di Sekolah kawan-kawan semua semoga bermanfaat.
Download Silabus PAI SD Kelas 1 Kurikulum 2013 (satu) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 2 Kurikulum 2013 (dua) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 3 Kurikulum 2013 (tiga) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 4 Kurikulum 2013 (empat) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 5 Kurikulum 2013 (lima) klik disini
Download Silabus PAI SD Kelas 6 Kurikulum 2013 (enam) klik disini
Dan berikut contoh RPP PAI SD Kurikulum 2013 sebagai bahan referensi bagi bapak/ibu guna membuat Rencana pelaksanaan Pembelajaran yang lebih baik serta Program Semester atau Promes dan Prota PAI SD Kurikulum 2013 dan jika menginginkan pula tambahannnya silahkan klik download jadwal Pelajaran Kurikulum 2013Klik link Berikut untuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PAI
RPP PAI SD Kelas 1 Kurikulum 2013 disini
RPP PAI SD Kelas 4 Kurikulum 2013 disini
Demikian RPP dan silabus PAI SD untuk K13 yang kami bisa sediakan sebagai bahan referensi dalam kegiatan Belajar dan Mengajar di Sekolah kawan-kawan semua semoga bermanfaat.
Jumat, 23 Mei 2014
Kurikulum Pondok Pesantren Tradisional
Raras Wuri Miswandaru. Kurikulum Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional
Kurikulum pendidikan di pesantren saat ini tak sekedar fokus pada kita kitab klasik (baca : ilmu agama) tetapi juga memasukkan semakin banyak mata pelajaran dan keterampilan umum di Pesantren saat ini dikhotomi ilmu mulai tak populer beberapa pesantren bahkan mendirikan lembaga pendidikan umum yg berada dibawah DIKNAS Misal Undar JombangPondok pesantren Iftitahul Muallimin Ciwaringin Jawa barat dll.
Perkembangan yg begitu pesat dalam ilmu pengetahuan dan tehnologi menyebabkan pengertian kurikulum selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu namun demikian satu hal yg permanen disepakati bahwa Istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani semula populer dalam bidang olah raga yaitu Curere yg berarti jarak terjauh yg harus ditempuh dalam olahraga lari mulai start hingga finish. Kemudian dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya.
Dalam bahasa Arab Menurut Omar Muhammad (1979 : 478) term kurikulum dikenal dgn term manhaj yakni jalan terang yg dilalui manusia dalam hidupanya. Dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai jalan terang yg dilalui oleh pendidik dan peserta didik utk menggabungkan pengetahuan ketampilan sikap dan seperangkat nilai.
Secara etimologi artikulasi kurikulum dapat dibedakan menjadi duapertama dalam pengertian yg sempit disebut juga (pengertian tradisional) yakni sebagaimana dirumuskan Regan ( 1960 : 57) “ The curriculum has mean the subjects taught in school or the course of study “. Kurikulum adl mata pelajaran yg diajarkan di sekolah atau bidang studi.
Kedua dalam pengertian yg luas disebut juga (pengertian modern) yakni seperti dirumuskan Spear ( 1975 : 67) “The curriculum is looked as being composed of all the actual experience pupils have under school direction writing a courrse of study become but small prt of curriculum program”. Kurikulum adl semua pengalaman aktual yg dimiliki siswa di bawah pengaruh sekolah sementara bidang studi adl bagian kecil dari program kurikulum secara keseluruhan.
Rumusan ini dijustifikasi oleh sejumlah pakar lain seperti Saylor dan Alexander yg menyebutkan “The curriculum is the sum total of the school’s effort to influence learning whether in the calssroom on the playground or out of shoo” kurikulum adl keseluruhan usaha sekolah dalam mempengaruhi belajar anak yg berlangsung di dalam kelas di sekolah maupun di luar sekolah.
Melampaui pembagian diatas saat ini ada juga beberapa pakar seperti Lee and Lee ( 1940 : 211) yg menyebutkan bahwa “Curricuum is the strategy which we use in adapting this cultural geritage to the purpose of the shoo “ Kurikulum adl strategi yg digunakan utk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam mencapai tujuan sekolah.
Berdasarkan literatur yg ada yg dimaksud dgn kurikulum adl salah satu komponen utama yg diguanakan sebagai acuan utk menentukan isi pengajaran mengarahkan proses mekanisme pendidikan tolak ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan disamping fakyor-faktor yg lain. Oleh sebab itu keberadan kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan sangat penting. Kita selalu sering mendengar sorotan tajam bahwa kurikulum selalu tertinggal dgn perkembangan zaman.
Dengan demikian pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan. Dalam konteks pendidikan di pesantren Nurcholis Madjid mengatakan yg dikutip oleh Abdurrahman Mas’ud dkk bahwa istilah kurikulum tak terkenal di dunia pesantren (masa pra kemerdekaan) walaupun sebenar materi pendidikan sudah ada di dalam pesantren terutama pada praktek pengajaran bimbingan rohani dan latihan kecakapan dalam kehidupan di pesantren. Secara eksplisit pesantren tak merumuskan dasar dan tujuan pesantren atau mengaplikasikan dalam bentuk kurikulum. (2002:85)
Dewasa ini pesantren dihadapkan pada banyak tantangan termasuk di dalam modernisasi pendidikan Islam. Dalam banyak hal sistem dan kelembagaan pesantren telah dimodernisasi serta disesuaikan dgn tuntutan pembangunan terutama dalam aspek-aspek kelembagaan sehingga secara otomatis akan mempengaruhi ketetapan kurikulum.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa kurikulum pada dasar merupakan seperangkat perencanaan dan media utk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan lembaga pendidikan yg diidamkan. Pesantren dalam aspek kelembagaan mulai mengembangkan diri dgn jenis dan corak pendidikan yg bermacam-macam. Seperti Pesantren Tebuireng Jombang yg di dalam telah berkembang madrasah sekolah umum sampai perguruan tinggi yg dalam proses pencapaian tujuan institusional selalu menggunakan kurikulum. Tetapi pesantren yg mengikuti pola salafi (tradisional) mungkin kurikulum belum dimasukkan secara baik.
Maka dari pada itu kurikulum pondok pesantren tradisional status cuma sebagai lembaga pendidikan non formal yg hanya mempelajari kitab-kitab klasik. Meliputi : nahwu sorrof belaghoh tauhid tafsir hadist mantik tasawwuf bahasa arab fiqih ushul fiqh dan akhlak. Dengan demikian pelaksanaan kurikulum pendidikan pesantren ini berdasarkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yg dibahas dalam kitab. Jadi ada tingkat awal menengah dan lanjutan.
Jenjang pendidikan dalam pesantren tak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yg memakai sistem klasikal. Umum kenaikan tingkat seorang santri didasarkan kepada isi mata pelajaran tertentu yg ditandai dgn tamat dan berganti kitab yg dipelajarinya.
Apabila seorang santri telah mengusai satu kitab atau beberpa kitab dan telah lulus ujian yg diuji oleh Kiai maka ia berpindah kepada kitab lain yg lbh tinggi tingkatannya. Jelas penjenjangan pendidikan pesantren tak berdasarkan usia tetapi berdasarkan penguasaan kitab-kitab yg telah ditetapkan dari paling rendah sampai paling tinggi.
Sebagai konsekuensi dari cara penjenjangan di atas pendidikan pesantren biasa menyediakan beberapa cabang ilmu atau bidang-bidang khusus yg merupakan fokus masing-masing pesantren utk dapat menarik minat para santri menuntut ilmu di dalamnya. Biasa keunikan pendidikan sebuah pesantren telah diketahui oleh calon santri yg ingin mondok. (Sulthon dan Ridho 2006: 159-160)
Kendati beberapa pakar berbeda dalam merumuskan pengertian kurikulum tetapi mereka tak berbeda mengenai fungsi kurikulum yakni : sebagai sarana atau alat utk mencapai tujuan pendidikan sebagai pelestari nilai nilai budaya dan sebagai pedoman tentang jenis lingkup dan hirarki urutan isi dan proses pendidikan.
Kurikulum bagi pendidik berfungsi sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar peserta didik bagi tenaga kependidikan berfungsi sebagai pedoman dalam mengadakan supervisi bagi wali murid berfungsi utk memberikan informasi sekaligus dorongan agar membantu menggiatkan belajar yg relevan di rumah dan bagi perserta didik sendiri berfungsi sebagai informasi tentang jenis pengetahuan nilai nilai dan keterampilan yg telah diperoleh sebagai entri behaviornya.
Kurikulum Pendidikan pesantren menurut Hasan (2001 : 6 ) paling tak memiliki beberapa komponen antara lain : tujuan isi pengetahuan dan pengalaman belajar strategi dan evaluasi. Biasa komponen tujuan tersebut terbagi dalam beberapa tingkatan yakni tujuan pendidikan nasional tujuan institusional tujuan kurekuler dan tujuan instruksional. Namun demikian berbagai tingkat tujuan tersebut satu sama lain merupakan suatu kesatuan yg tak terpisahkan.
Komponen isi meliputi pencapaian target yg jelas materi standart standart hasil belajar siswa dan prosedur pelaksanaan pembelajaran. kepribadian. Komponen strategi tergambar dari cara yg ditempuh di dalam melaksanakan pengajaran cara di dalam mengadakan penilaian cara dalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan. Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup cara yg berlaku dalam menyajikan tiap bidang studi termasuk cara mengajar dan alat pelajaran yg digunakan.
Komponen evaluasi berisi penilaian yg dilakukan secara terus menerus dan bersifat menyeluruh terhadap bahan atau program pengajaran yg dimaksudkan sebagai feedback terhadap tujuan materi metode sarana dalam rangka membina dan mengembangkan kurikulum lbh lanjut.
Menurut Imam Bawani (1987 : 92) adl berbeda antara pendidikan Islam dgn pendidikan agama Islam. Bila disebut pendidikan Islam maka orientasi adl sistem yaitu sistem pendidikan yg Islami yg teori-teori disusun berdasarkan alqur’an hadits. Sedangkan pendidikan agama Islam adl nama kegiatan atau aktivitas dalam mendidikkan agama Islam.
Dengan kata lain pendidikan agama Islam adl sejajar dgn mata pelajaran lain di sekolah seperti pendidikan matematika ataupun pendidikan biologi. Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adl upaya sadar dan terencana dalam mempersiapkan peserta didik utk mengenal memahami menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dgn tuntunan utk menghormati penganut agama lain dalam hubungan dgn kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa.
Jadi kurikulum Pendidikan pesasntren adl bahan-bahan pendidikan agama Islam di pesantren berupa kegiatan pengetahuan dan pengalaman yg dgn sengaja dan sisteatis diberikan kepada santri dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Kurikulum Pendidikan pesasntren merupakan alat utk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Adapun lingkup materi pendidikan pesasntren adl : Al-Qur’an dan Hadits Keimanan akhlak Fiqh/ibadah dan sejarah dgn kata lain cakupan Pendidikan pesasntren ada keserasian keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dgn Allah diri sendiri sesama manusia makhluk lain maupun lingkungannya.
Untuk mencapai tujuan Pendidikan pesantren tersebut perlu rekonstruksi kurikulum agar lbh riil. Rumusan tujuan Pendidikan pesasntren yg ada selama ini masih bersifat general dan kurang mach dgn realitas masyarakat yg terus mengalami transformasi. Rekonstruksi disini dimaksudkan utk meningkatkan daya relevansi rumusan tujuan Pendidikan pesasntren dgn persoalan riil yg dihadapi masyarakat dalam hidup kesehariannya.
Prinsip pengembangan kurikulum Pendidikan pesasntren secara umum dapat dikelompkkan menjadi dua yakni prinsip umum yg meliputi prinsip relevansi prinsip fleksebelitas prinsip kontinoitas prinsip praktis prinsip efektifitas dan prinsip efisiensi. Sedangkan prinsip khusus mencakup prinsip yg berkenaan dgn tujuan Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn pemilihan isi Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn metode dan strategi proses pembelajaran Pendidikan pesantren prinsip yg berkenaan dgn alat evalusi dan penilaian Pendidikan pesasntren.
Mastuhu secara praktis memberikan konsep tentang model dan paradigma Pendidikan pesantren yg diharapkan menjadi orientasi dan landasan dalam kurikulum lembaga Pendidikan pesasntren yaitu :
Pendidikan pesantren yg dibangun atas dasar pemikiran yg Islami bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yg dilandasi kaidah – kaidah Islam. Kurikulum yg demikian biasa mengacu pada sembilan prinsip utama sebagai berikut :
Perkembangan yg begitu pesat dalam ilmu pengetahuan dan tehnologi menyebabkan pengertian kurikulum selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu namun demikian satu hal yg permanen disepakati bahwa Istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani semula populer dalam bidang olah raga yaitu Curere yg berarti jarak terjauh yg harus ditempuh dalam olahraga lari mulai start hingga finish. Kemudian dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya.
Dalam bahasa Arab Menurut Omar Muhammad (1979 : 478) term kurikulum dikenal dgn term manhaj yakni jalan terang yg dilalui manusia dalam hidupanya. Dalam konteks pendidikan kurikulum diartikan sebagai jalan terang yg dilalui oleh pendidik dan peserta didik utk menggabungkan pengetahuan ketampilan sikap dan seperangkat nilai.
Secara etimologi artikulasi kurikulum dapat dibedakan menjadi duapertama dalam pengertian yg sempit disebut juga (pengertian tradisional) yakni sebagaimana dirumuskan Regan ( 1960 : 57) “ The curriculum has mean the subjects taught in school or the course of study “. Kurikulum adl mata pelajaran yg diajarkan di sekolah atau bidang studi.
Kedua dalam pengertian yg luas disebut juga (pengertian modern) yakni seperti dirumuskan Spear ( 1975 : 67) “The curriculum is looked as being composed of all the actual experience pupils have under school direction writing a courrse of study become but small prt of curriculum program”. Kurikulum adl semua pengalaman aktual yg dimiliki siswa di bawah pengaruh sekolah sementara bidang studi adl bagian kecil dari program kurikulum secara keseluruhan.
Rumusan ini dijustifikasi oleh sejumlah pakar lain seperti Saylor dan Alexander yg menyebutkan “The curriculum is the sum total of the school’s effort to influence learning whether in the calssroom on the playground or out of shoo” kurikulum adl keseluruhan usaha sekolah dalam mempengaruhi belajar anak yg berlangsung di dalam kelas di sekolah maupun di luar sekolah.
Melampaui pembagian diatas saat ini ada juga beberapa pakar seperti Lee and Lee ( 1940 : 211) yg menyebutkan bahwa “Curricuum is the strategy which we use in adapting this cultural geritage to the purpose of the shoo “ Kurikulum adl strategi yg digunakan utk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam mencapai tujuan sekolah.
Berdasarkan literatur yg ada yg dimaksud dgn kurikulum adl salah satu komponen utama yg diguanakan sebagai acuan utk menentukan isi pengajaran mengarahkan proses mekanisme pendidikan tolak ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan disamping fakyor-faktor yg lain. Oleh sebab itu keberadan kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan sangat penting. Kita selalu sering mendengar sorotan tajam bahwa kurikulum selalu tertinggal dgn perkembangan zaman.
Dengan demikian pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan secara berkesinambungan. Dalam konteks pendidikan di pesantren Nurcholis Madjid mengatakan yg dikutip oleh Abdurrahman Mas’ud dkk bahwa istilah kurikulum tak terkenal di dunia pesantren (masa pra kemerdekaan) walaupun sebenar materi pendidikan sudah ada di dalam pesantren terutama pada praktek pengajaran bimbingan rohani dan latihan kecakapan dalam kehidupan di pesantren. Secara eksplisit pesantren tak merumuskan dasar dan tujuan pesantren atau mengaplikasikan dalam bentuk kurikulum. (2002:85)
Dewasa ini pesantren dihadapkan pada banyak tantangan termasuk di dalam modernisasi pendidikan Islam. Dalam banyak hal sistem dan kelembagaan pesantren telah dimodernisasi serta disesuaikan dgn tuntutan pembangunan terutama dalam aspek-aspek kelembagaan sehingga secara otomatis akan mempengaruhi ketetapan kurikulum.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa kurikulum pada dasar merupakan seperangkat perencanaan dan media utk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan lembaga pendidikan yg diidamkan. Pesantren dalam aspek kelembagaan mulai mengembangkan diri dgn jenis dan corak pendidikan yg bermacam-macam. Seperti Pesantren Tebuireng Jombang yg di dalam telah berkembang madrasah sekolah umum sampai perguruan tinggi yg dalam proses pencapaian tujuan institusional selalu menggunakan kurikulum. Tetapi pesantren yg mengikuti pola salafi (tradisional) mungkin kurikulum belum dimasukkan secara baik.
Maka dari pada itu kurikulum pondok pesantren tradisional status cuma sebagai lembaga pendidikan non formal yg hanya mempelajari kitab-kitab klasik. Meliputi : nahwu sorrof belaghoh tauhid tafsir hadist mantik tasawwuf bahasa arab fiqih ushul fiqh dan akhlak. Dengan demikian pelaksanaan kurikulum pendidikan pesantren ini berdasarkan kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yg dibahas dalam kitab. Jadi ada tingkat awal menengah dan lanjutan.
Jenjang pendidikan dalam pesantren tak dibatasi seperti dalam lembaga-lembaga pendidikan yg memakai sistem klasikal. Umum kenaikan tingkat seorang santri didasarkan kepada isi mata pelajaran tertentu yg ditandai dgn tamat dan berganti kitab yg dipelajarinya.
Apabila seorang santri telah mengusai satu kitab atau beberpa kitab dan telah lulus ujian yg diuji oleh Kiai maka ia berpindah kepada kitab lain yg lbh tinggi tingkatannya. Jelas penjenjangan pendidikan pesantren tak berdasarkan usia tetapi berdasarkan penguasaan kitab-kitab yg telah ditetapkan dari paling rendah sampai paling tinggi.
Sebagai konsekuensi dari cara penjenjangan di atas pendidikan pesantren biasa menyediakan beberapa cabang ilmu atau bidang-bidang khusus yg merupakan fokus masing-masing pesantren utk dapat menarik minat para santri menuntut ilmu di dalamnya. Biasa keunikan pendidikan sebuah pesantren telah diketahui oleh calon santri yg ingin mondok. (Sulthon dan Ridho 2006: 159-160)
Kendati beberapa pakar berbeda dalam merumuskan pengertian kurikulum tetapi mereka tak berbeda mengenai fungsi kurikulum yakni : sebagai sarana atau alat utk mencapai tujuan pendidikan sebagai pelestari nilai nilai budaya dan sebagai pedoman tentang jenis lingkup dan hirarki urutan isi dan proses pendidikan.
Kurikulum bagi pendidik berfungsi sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar peserta didik bagi tenaga kependidikan berfungsi sebagai pedoman dalam mengadakan supervisi bagi wali murid berfungsi utk memberikan informasi sekaligus dorongan agar membantu menggiatkan belajar yg relevan di rumah dan bagi perserta didik sendiri berfungsi sebagai informasi tentang jenis pengetahuan nilai nilai dan keterampilan yg telah diperoleh sebagai entri behaviornya.
Kurikulum Pendidikan pesantren menurut Hasan (2001 : 6 ) paling tak memiliki beberapa komponen antara lain : tujuan isi pengetahuan dan pengalaman belajar strategi dan evaluasi. Biasa komponen tujuan tersebut terbagi dalam beberapa tingkatan yakni tujuan pendidikan nasional tujuan institusional tujuan kurekuler dan tujuan instruksional. Namun demikian berbagai tingkat tujuan tersebut satu sama lain merupakan suatu kesatuan yg tak terpisahkan.
Komponen isi meliputi pencapaian target yg jelas materi standart standart hasil belajar siswa dan prosedur pelaksanaan pembelajaran. kepribadian. Komponen strategi tergambar dari cara yg ditempuh di dalam melaksanakan pengajaran cara di dalam mengadakan penilaian cara dalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan. Cara dalam melaksanakan pengajaran mencakup cara yg berlaku dalam menyajikan tiap bidang studi termasuk cara mengajar dan alat pelajaran yg digunakan.
Komponen evaluasi berisi penilaian yg dilakukan secara terus menerus dan bersifat menyeluruh terhadap bahan atau program pengajaran yg dimaksudkan sebagai feedback terhadap tujuan materi metode sarana dalam rangka membina dan mengembangkan kurikulum lbh lanjut.
Menurut Imam Bawani (1987 : 92) adl berbeda antara pendidikan Islam dgn pendidikan agama Islam. Bila disebut pendidikan Islam maka orientasi adl sistem yaitu sistem pendidikan yg Islami yg teori-teori disusun berdasarkan alqur’an hadits. Sedangkan pendidikan agama Islam adl nama kegiatan atau aktivitas dalam mendidikkan agama Islam.
Dengan kata lain pendidikan agama Islam adl sejajar dgn mata pelajaran lain di sekolah seperti pendidikan matematika ataupun pendidikan biologi. Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adl upaya sadar dan terencana dalam mempersiapkan peserta didik utk mengenal memahami menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi dgn tuntunan utk menghormati penganut agama lain dalam hubungan dgn kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa.
Jadi kurikulum Pendidikan pesasntren adl bahan-bahan pendidikan agama Islam di pesantren berupa kegiatan pengetahuan dan pengalaman yg dgn sengaja dan sisteatis diberikan kepada santri dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Kurikulum Pendidikan pesasntren merupakan alat utk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Adapun lingkup materi pendidikan pesasntren adl : Al-Qur’an dan Hadits Keimanan akhlak Fiqh/ibadah dan sejarah dgn kata lain cakupan Pendidikan pesasntren ada keserasian keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dgn Allah diri sendiri sesama manusia makhluk lain maupun lingkungannya.
Untuk mencapai tujuan Pendidikan pesantren tersebut perlu rekonstruksi kurikulum agar lbh riil. Rumusan tujuan Pendidikan pesasntren yg ada selama ini masih bersifat general dan kurang mach dgn realitas masyarakat yg terus mengalami transformasi. Rekonstruksi disini dimaksudkan utk meningkatkan daya relevansi rumusan tujuan Pendidikan pesasntren dgn persoalan riil yg dihadapi masyarakat dalam hidup kesehariannya.
Prinsip pengembangan kurikulum Pendidikan pesasntren secara umum dapat dikelompkkan menjadi dua yakni prinsip umum yg meliputi prinsip relevansi prinsip fleksebelitas prinsip kontinoitas prinsip praktis prinsip efektifitas dan prinsip efisiensi. Sedangkan prinsip khusus mencakup prinsip yg berkenaan dgn tujuan Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn pemilihan isi Pendidikan pesasntren prinsip yg berkenaan dgn metode dan strategi proses pembelajaran Pendidikan pesantren prinsip yg berkenaan dgn alat evalusi dan penilaian Pendidikan pesasntren.
Mastuhu secara praktis memberikan konsep tentang model dan paradigma Pendidikan pesantren yg diharapkan menjadi orientasi dan landasan dalam kurikulum lembaga Pendidikan pesasntren yaitu :
- Dasar Pendidikan Pendidikan pesasntren harus mendasarkan pada “teosentris’ dengan menjadikan “antroposentris” sebagai bagian esensial dari konsep teosentris. Hal ini berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya bersifat antroposentris semata.
- Tujuan Pendidikan kerja membangun kehidupan duniawiyah melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi kepada-Nya. Pembangunan kehidupan duniawiyah bukan menjadi tujuan final tetapi merupakan kewajiban yg diimani dan terkait kuat dgn kehidupan ukhrawiyah tujuan final adl kehidupan ukhrawi dgn ridla Allah SWT.
- Konsep manusia Pendidikan Islam memandang manusia mempunyaifitrah yang harus dikembangkan tak seperti pendidikan sekuler yg memandang manusia dgn tabularasa-nya.
- Nilai Pendidikan pesasntren berorientasi pada Iptek sebagai kebenaran relatif dan Imtaq sebagai kebenaran mutlak. Berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya berorientasi pada Iptek.
Pendidikan pesantren yg dibangun atas dasar pemikiran yg Islami bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yg dilandasi kaidah – kaidah Islam. Kurikulum yg demikian biasa mengacu pada sembilan prinsip utama sebagai berikut :
- Sistem dan pengembangan kurikulum hendak memperhatikan fitrah manusia agar tetap berada dalam kesucia dan tak menyimpang.
- Kurikulum hendak mengacu kepada pencapain tujuan akhir pendidikan Islam sambil memperhatikan tujuan – tujuan di bawahnya.
- Kurikulum perlu disusun secara bertahap mengikuti periodisasi perkembangan peserta didik.
- Kurikulum hendak memperhatikan kepentingan nyata masyarakat seperti kesehatan keamanan administrasi dan pendidikan. Kurikulum hendak pula disesuaikan dgn kondisi dan lingkungan seperti iklim dan kondisi alam yg memungkinkan ada perbedaan pola kehidupan agraris industri dan komersial.
- Kuirikulum hendak terstruktur dan terorganisasi secara integral.
- Kurikulum hendak realistis. Arti kurikulum dapat dilaksanakan sesuai dgn berbagai kemudahan yg dimiliki tiap negara yg melaksanakanya.
- Metode pendidikan yg merupakan salah satu komponen kurikulum ini hendak bersifat fleksibel.
- Kurikulum hendak efektif utk mencapai tingkah laku dan emosi yg positif.
- Kurikulum hendak memperhatiakan tingkat perkembangan peserta didik baik fisik emosional ataupun intelektualnya; serta berbagai masalah yg dihadapi dalam tiap tingkat perkembangan seperti pertumbuhan bahasa kamatangan sosial dan kesiapan religiusitas.
Rabu, 05 Maret 2014
Pengertian Standar Kompetensi (SK) Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator
Pengertian Standar Kompetensi (SK) Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator
BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam tiap jenjang pendidikan pasti ada standar kompetensi,
kompetensi dasar, dan indikator karena untuk mengetahui materi apa saja yang
akan dipelajari dan tujuan apa saja yang harus dicapai sehingga mudah karena
terarah dan merupakan program yang telah terstruktur dalam tiap sekolah.
Di mana dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator
dapat mengetahuai kemampuan, keterampilan dan sikap peserta didik sehingga
secara spesifisik dapat dijadikan untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran
dan juga dijadikan tolak ukur sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu pokok
bahasan atau mata pelajaran tertentu
Oleh karena itu, sangat penting sekali adanya standar
kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator dalam pendidikan karena sebagai
patokan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
1. Rumusan Masalah
A. Apakah pengertian Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar,
Indikator?
B. Sebutkan langkah-langkah penyusunan Kompetensi Dasar dan
Indikator?
C. Bagaimana perumusan Kompetensi Dasar dan Indikator?
D. Bagaimana penyusunan materi pokok/materi pembelajaran?
E. Tujuan
i.
Untuk mengetahui
pengertian Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator.
ii.
Untuk mengetahui
langkah-langkah penyusunan Kompetensi Dasar dan Indikator.
iii.
Untuk memahami perumusan
Kompetensi Dasar dan Indikator.
iv.
Untuk mengetahui cara
penyusunan materi pokok/materi pembelaj
BAB
II
PEMBAHASAN
1. A. Pengertian
Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), dan Indikator
2. Pengertian Standar Kompetensi
Standar Kompetensi mata pelajaran adalah
deskripsi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai setelah
siswa mempelajari mata pelajaran tertentu pada jenjang pendidikan tertentu
pula.[1] Menurut Abdul Majid Standar kompetensi merupakan kerangka yang
menjelaskan dasar pengembangan program pembelajaran yang terstruktur.[2] Pada
setiap mata pelajaran, standar kompetensi sudah ditentukan oleh para pengembang
kurikulum, yang dapat kita lihat dari standar isi. Jika sekolah memandang perlu
mengembangkan mata pelajaran tertentu misalnya pengembangan kurikulum muatan
local, maka perlu dirumuskan standar kompetensinya sesuai dengan nama mata
pelajaran dalam muatan local tersebut,[3]
1. Pengertian Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar adalah pengetahuan,
keterampilan dan sikap minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukkan
bahwa siswa telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan, oleh
karena itulah maka kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar
kompetensi.[4]
1. Pengertian indikator
Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh
perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik,
mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata
kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
Menurut Depag indikator adalah wujud dari kompetensi dasar yang
lebih spesifik. Sedangkan menurut E Mulyasa indikator merupakan penjabaran dari
kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda perbuatan dan respon yang
dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. Indicator juga dikembangkan
sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan potensi daerah dan peserta didik
dan juga dirumuskan dalam rapat kerja operasional yang dapat diukur dan
diobservasi sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan alat
penilaian.
Sedangkan menurut Darwin Syah indikator pembelajaran adalah
karakteristik, cirri-ciri, tanda-tanda perbuatan atau respon yang dilakuakan
oleh siswa, untuk menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kompetensi dasar
tertentu.
Jadi indikator adalah merupakan kompetensi dasar secara
spesifisik yang dapat dijadikan untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran
dan juga dijadikan tolak ukur sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu pokok
bahasan atau mata pelajaran tertentu
1. B. Langkah-langkah
penyusunan Kompetensi Dasar dan indicator
A. Langah-langkah Penyusunan Kompetensi Dasar
Adapun dalam mengkaji Kompetensi dasar mata pelajaran
sebagaimana yang tercantum pada standar isi dilakukan dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/ atau
tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada
distandar isi.
2. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran.
3. Pada dasarnya rumusan kompetensi dasar itu ada yang operasional
maupun yang tidak operasional karena setiap kata kerja tindakan yang berada
pada kelompok pemahaman dan juga pengetahuan yang tidak bisa digunakan untuk
rumusan kompetensi dasar. Sehinggah langkah-langkah untuk menyusun kompetensi
dasar adalah sebagai berikut:
1) Menjabarkan
Kompetensi yang dimaksud, dengan bertanya : “kemampuan apa saja yang harus
dimiliki siswa agar standar kompetensi dapat dicapai?” jawaban dari pertanyaan
tersebut kemudian didaftar baik yang menyangkut pengetahuan, sikap dan
keterampilan.
2) Tulislah
rumusan Kompetensi Dasarnya.
1. Langkah-langkah penyusunan Indikator
Sebelum melakukan penyusunan indicator, maka
harus diperhatikan terlebih dahulu komponen-komponen sebagai berikut :[5]
1. Indikator merupakan penjabaran dari KD yang menunjukkan
tanda-tanda, perbuatan atau respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta
didik.
2. Rumusan indicator menggunakan kerja operasional yang terukur
atau dapat diobservasi
3. Indikator digunakan sebagai bahan dasar untuk menyusun alat
penilaian.
Kata-kata Operasional yang Dijabarkan Dalam Membuat Indikator:
1. Kognitif Meliputi:
1) Knowledge (pengetahuan) yaitu,
menyebutkan, menuliskan, menyatakan, mengurutkan, mengidentifikasi,
mendefinisikan, mencocokkan, memberi nama, memberi leber, dan melukiskan.
2) Comprehension (pemahaman)
yaitu, menerjemahkan, mengubah, menggeneralisasikan, menguraikan, menuliskan
kembali, merangkum, membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, mengemukakan
pendapat, dan menjelaskan.
3) Application (penerapan) yaitu,
mengoperasikan, menghasilkan, mengatasi, mengubah, menggunakan, menunjukkan,
mempersiapkan, dan menghitung. Analysisi (analisis) yaitu, menguraikan,
membagi-bagi, memilih dan membedakan.
4) Syntnesis (sintesisi) yaitu,
merancang, merumuskan, mengorganisasikan, menerapkan, memadukan, dan
merencanakan.
5) Evaluation (evaluasi) yaitu,
mengkritisi, menafsirkan dan memberikan evaluasi.
1. Efektif meliputi:
1) Receiving (penerimaan) yaitu
mempercayai, memilih, mengikuti, bertanya, dan mengalokasikan.
2) Responding (menanggapi) yaitu,
konfirmasi, menjawab, membaca, membantu, melaksanakan, melaporkan, dan
menampilkan.
3) Valuing (penanaman nilai)
yaitu, menginisiasi, mengundang, melibatkan, mengusulkan, dan melakukan.
4) Organization (pengorganisasian)
yaitu, menverivikasi, menyusun, menyatukan, menghubungkan dan mempengaruhi.
5) Characterization
(karakterisasi) yaitu menggunakan nilai-nilai sebagai pandangan hidup,
mempertahankan nilai-nilai yang sudah diyakini.
1. Psikomotorik atau gerak jiwa meliputi:
1) Observing (pengamatan) yaitu
mengamati proses, memperhatikan pada tahap-tahap sebuah perbuatan, memberi
perhatian pada sebuah artikulasi.
2) Initation (peniruan) yaitu
melatih, mengubah, membongkar sebuah struktur, membangun kembali struktur dan
menggunakan sebuah model.
3) Practicing (pembiasaan) yaitu
membiasakan perilaku yang sudah dibentuknya, mengontrol kebiasaan agar tetap
konsisten.
4) Adapting
(penyesuaian) yaitu menyesuaikan model, mengembangkan model, dan menerapkan
model. [6]
Berikut ini urutan cara penyusunan Indikator :
1) Mengkaji KD tersebut untuk
mengidentifikasi indikatornya dan rumuskan indikatornya yang dianggap relevan
tanpa memikirkan urutannya lebih dahulu juga tentukan indikator-indikator yang
relevan dan tuliskan sesuai urutannya.
2) Kajilah apakah semua indikator
tersebut telah mempresentasikan KD nya, apabila belum lakulanlah analisis
lanjut untuk menemukan in dikator-indikator lain yang kemungkinan belum
teridentifikasi.
3) Tambahkan indikator lain
sebelumnya dan rubahlah rumusan yang kurang tepat dengan lebih akurat dan
pertimbangkan urutannya.
1. C. Perumusan
Kompetensi Dasar dan Indikator
A. Perumusan Kompetensi Dasar
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam merumuskan KD
diantaranya antara lain:
1. Meluas, artinya peserta didik memperoleh kesempatan yang luas
untuk mengembangkan pengalaman tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai
yang berkaitan pada saat pembelajaran berlangsung.
2. Seimbang, artinya dimana setiap peserta Kompetensi perlu dapat
dicapai melalui alokasi waktu yang cukup untuk pembelajaran yang efektif.
3. Relevan, maksudnya adalah dimana setiap Kompetensi terkait
dengan penyiapan peserta didik untuk meningkatkan mutu kehidupan melalui
kesempatan pengalaman.
4. Perbedaan, merupakan upaya pelayanan individual dimana peserta
didik perlu memahami apa yang perlu untuk dipelajari, bagaimana berfikir,
bagaimana berbuat untuk mengembangkan Kompetensi serta kebutuhan individu
masing-masing. (yulaewati 2004:20)[7]
Adapun Syarat yang harus dipenuhi untuk dapat merumuskan KD yang
baik adalah sebagai berikut:
1. Rumusan tujuan yang dibuat harus berpusat pada siswa, mengacu
kepada perubahan tingkah laku subjek pembelajaran yaitu siswa sebagai peserta
didik.
2. Rumusan KD harus mencerminkan tingkah laku operasional yaitu
tingkah laku yang dapat diamati dan diukur yang dirumuskan dengan menggunakan
kata-kata operadional.
3. Rumusan KD harus berisikan makna dari pokok bahasan atau materi
pokok yang akan diajarkan pada saat kegiatan belajar mengajar ).[8]
A. Perumusan Indikator
Pengembangkan indikator memerlukan informasi karakteristik
peserta didik yang unik dan beragam. Peserta didik memiliki keragaman dalam
intelegensi dan gaya belajar, oleh karena itu indikator selayaknya mampu
mengakomodir keragaman tersebut.
Peserta didik dengan karakteristik unik visual-verbal atau
psiko-kinestetik selayaknya diakomodir dengan penilaian yang sesuai sehingga
kompetensi siswa dan dapat terukur secara proporsional. Karakteristik sekolah
dan daerah juga menjadi acuan dalam pengembangan indikator karena target
pencapaian sekolah tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang melebihi standar
minimal dapat mengembangkan indikator lebih tinggi. termasuk sekolah bertaraf
internasional dapat mengembangkan indikator dari SK dan KD.
Dengan mengkaji tuntutan kompetensi sesuai rujukan standar
nasional yang digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga menjadi
pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Dalam merumuskan indikator
pembelajaran perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
1. Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi dua
indikator
2. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang
tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD.
3. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD
dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan
kebutuhan peserta didik.
4. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki
kompetensi.
5. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua
aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.
6. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata
pelajaran sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.
7. Rumusan indikator dapat dikembangkan
menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik.[9]
Contoh indikator pencapaian kompetensi:
Standar
Kompetensi
|
Kompetensi
Dasar
|
Indikator
|
Memahami ketentuan hukum Islam
tentang pengurusan jenazah.
|
Menjelaskan tatacara pengurusan
jenazah
|
o Mampu menjelaskan
langkah-langkah/tatacara memandikan jenazah
o Mampu menjelaskan tata
cara mengkafani jenazah
o Mampu menjelaskan tata
cara menshalatkan jenazah
o Mampu menjelaskan tata
cara menguburkan jenazah
|
Memperagakan
tatacara pengurusan
jenazah
|
Mampu memperagakan/mempraktikkan tata cara memandikan jenazah·
Mampu memperagakan/mempraktikkan tata cara mengkafani jenazah·
Mampu memperagakan/mempraktikkan tata cara menshalatkan jenazah·
Mampu memperagakan tata cara menguburkan jenazah·
|
1. D. Penyusunan
materi pokok/ materi pembelajaran
Komponen lain yang harus diperhatikan dalam perencanaan
pembelajaran adalah penentuan materi pokok. Materi pokok harus disusun
sedemikian rupa agar dapat menunjang tercapainya kompetensi. Materi pokok
adalah pokok-pokok materi pembelajaran yang harus dipelajari siswa sebagai
sarana pencapaian kompetensi dan yang akan dinilai dengan menggunakan
instrument penilaian yang disusun berdasarkan indicator pencapaian belajar.
Karena standar materi pokoktelah ditetapkan
secara nasional, maka materi pokok tinggal disalin dari buku Standar kompetensi
Mata Pelajaran. Sementara tugas para pengembang silabus adalah memberikan
jabaran/ materi pokok tersebut ke dalam uraian meteri atau biasa disebut materi
pembelajaran untuk memudahkan guru, sekaligus memberikan arah serta cakupan
materi pembelajarannya.[10]
Materi pokok disusun untuk pencapaian tujuan,
karenanya materi pokok dipilih sesuai dengan kompetensi dasar yang harus
dicapai. Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam menentukan materi
pokok adalah:[11]
a) Potensi peserta didik
b) Relevan dengan karakteristik
daerah
c) Tingkat perkembangan fisik,
intelektual, emosional, social, dan spiritual peserta didik
d) Kebermanfaatan bagi peserta didik
e) Struktur keilmuan
f) Aktualitas, kedalaman,
keluasan materi pembelajaran,
g) Relevan dengan kebutuhan
peserta didik dan tuntutan lingkungan
h) Sesuai dengan alokasi waktu
yang tersedia
i) Merumuskan kegiatan
pembelajaran.
Al-Qur’an-Hadis
Kelas VII, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI
|
KOMPETENSI DASAR
|
1.
Memahami
al-Qur’an dan al-Hadis sebagai pedoman hidup
|
1.1 Menjelaskan
pengertian dan fungsi al-Qur’an dan al-Hadis
1.2
Menjelaskan cara-cara menfungsikan al-Qur’an dan al-Hadis
1.3
Menerapkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam
|
Kelas VIII, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI
|
KOMPETENSI DASAR
|
1.
Membaca
al-Qur’an surat pendek pilihan
|
1.1
Menerapkan hukum bacaanQalqalah, tafkhim,
dan mad ‘aridh lissukun dalam al-Qur’an
1.2
Menerapkan hukum bacaan nun mati,
dan mim mati dalam al-Qur’an
|
Kelas IX, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI
|
KOMPETENSI DASAR
|
1.
Membaca
al-Qur’an surat pendek
pilihan
|
1.1
Menerapkan hukum mad silahdalam
QS al-Qaari’ah dan al-Zalzalah
1.2
Menerapkan hukum mad laazim mukhaffaf kilmi,
mutsaqqal kilmi, danFarqi dalam
al-Qur’an
|
Kelas X, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI
|
KOMPETENSI DASAR
|
1.
Memahami
pengertian al-Qur’an dan bukti keotentikannya
|
1.1 Menjelaskan pengertian
al-Qur’an menurut para ahli
1.2 Membuktikan keotentikan
al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya, dan
sejarahnya.
1.3 Menunjukkan prilaku
orang yang meyakini kebenaran al-Qur’an
|
Contoh, Seperti dalam Permenag Sebagai berikut:
BAB
III
PENUTUP
1. A. KESIMPULAN
Pengertian SK, KD, Indikator
1. Standar Kompetensi
Standar Kompetensi mata pelajaran adalah deskripsi pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai setelah siswa mempelajari mata
pelajaran tertentupada jenjang pendidikan tertentu pula.
1. Pengertian Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap
minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukkan bahwa siswa telah
menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan, oleh karena itulah maka
kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar kompetensi.
1. Pengertian indikator
Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh
perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
Langah-langkah Penyusunan Kompetensi Dasar dan Indikator
1. Langkah-langkah penyusunan Kompetensi dasar.
A. Menjabarkan Kompetensi yang dimaksud, dengan bertanya :
“kemampuan apa saja yang harus dimiliki siswa agar standar kompetensi dapat
dicapai?” jawaban dari pertanyaan tersebut kemudian didaftar baik yang
menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan.
B. Tulislah rumusan Kompetensi Dasarnya.
C. Langkah-langkah penyusunan Indikator
i.
Mengkaji KD tersebut
untuk mengidentifikasi indikatornya dan rumuskan indikatornya yang dianggap
relevan tanpa memikirkan urutannya lebih dahulu juga tentukan
indikator-indikator yang relevan dan tuliskan sesuai urutannya.
ii.
Kajilah apakah semua
indikator tersebut telah mempresentasikan KD nya, apabila belum lakulanlah
analisis lanjut untuk menemukan in dikator-indikator lain yang kemungkinan
belum teridentifikasi.
iii.
Tambahkan indikator lain sebelumnya
dan rubahlah rumusan yang kurang tepat dengan lebih akurat dan pertimbangkan
urutannya.
Perumusan Kompetensi Dasar dan Indikator
a) Perumusan Kompetensi Dasar
1. Meluas, artinya peserta didik memperoleh kesempatan yang luas
untuk mengembangkan pengalaman tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai
yang berkaitan pada saat pembelajaran berlangsung.
2. Seimbang, artinya dimana setiap peserta Kompetensi perlu dapat
dicapai melalui alokasi waktu yang cukup untuk pembelajaran yang efektif.
3. Relevan, maksudnya adalah dimana setiap Kompetensi terkait
dengan penyiapan peserta didik untuk meningkatkan mutu kehidupan melalui
kesempatan pengalaman.
b) Perumusan Indikator
1. Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi dua indicator
2. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang
tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD.
3. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu
tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.
4. Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator
penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Penyusunan materi pokok/ materi pembelajaran
Materi pokok harus disusun sedemikian rupa agar dapat
menunjang tercapainya kompetensi. Mat[eri pokok adalah pokok-pokok materi
pembelajaran yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi
dan yang akan dinilai dengan menggunakan instrument penilaian yang disusun
berdasarkan indicator pencapaian belajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Harjanto. 2010. Perencanaan
Pengajaran. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Majid, Abdul. 2012. Perencanaan Pembelajaran. Bandung
: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa. 2010. Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, Wina. 2008. kurikulum dan pembelajaran. Jakarta
: kencana prenada media group.
Suryosubroto.1998. Tata Laksana Kurikulum. Jakarta:
Rineka Cipta.
Uno, Hamzah. 2010. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta:
Bumi
Aksara.
[1] Wina
sanjaya, kurikulum
dan pembelajaran (Jakarta
: kencana prenada media group, 2008), hlm. 170
[2] Abdul
majid, Perencanaan
Pembelajaran (Bandung
: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 42
[3] Wina
sanjaya, kurikulum
dan pembelajaran, hlm.
171
[4] Ibid.,
, hlm.
171
[5] Suryosubroto, Tata Laksana Kurikulum, (Jakarta:
Rineka Cipta, 1998), 31
[6] Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hal 143.
[7] Hamzah
B. Uno. 2010, Perencanaan
Pembelajaran.( Jakarta:
Bumi Aksara). 37
[8]Ibid.,58
[9] Harjanto. 2010, Perencanaan
Pengajaran.( Jakarta: PT. Rineka Cipta), 74
[10] Abdul
majid, Perencanaan
Pembelajaran, hlm. 44
[11] Wina sanjaya, kurikulum
dan pembelajaran, hlm.
171
PONPES SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI
Sholawat_Badar-Puput_Novel-TOPGAN
Blogger templates
href="http://www.yayasangurungajiindonesia.com" ' rel='canonical'/>>






9/15/2015 09:30:00 AM
simbah wuri


