Tampilkan postingan dengan label Akper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akper. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Desember 2014

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Tuberkulosa Paru

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Tuberkulosa Paru


Pengertian

Tuberkulosis paru adalah infeksi kronis akut atau sub akut pada parenkim paru yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. Infeksi dapat terjadi di seluruh tubuh namun tersering pada jaringan paru-paru.


Etiologi dan Cara Penyebaran

Mycobacterium tuberculosis (paling banyak), Mycobacterium bovis, Mycobacterium kansasii dan Mycobacterium intracellulare.

Sumber penularan utama adalah penderita BTA Positif (Mycobacterium tuberculosis) yang disebarkan pada saat batuk atau bersin, batuk, bicara atau bernyanyi (droplet dengan ukuran 1 - 5 microns). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar dalam beberapa jam dan orang dpt terinfeksi jika droplet terhirup saat bernafas. Adapun faktor predisposisi tertularnya Tb paru yaitu factor yang melemahkan atau keadaan imunitas yang menurun, misalnya diabetes, alcohol, malnutrisi, penyakit paru kronik.

Klasifikasi Mycovbacterium Tuberkulosa

1. Populasi A : dalam kelompok ini kuman tumbuh berkembang biak terus menerus dengan cepat. Kuman-kuman ini banyak terdapat pada dinding/lesi yg pH nya netral.

2. Populasi B : dalam kelompok ini kuman tumbuh sangat lambat dan berada dalam lingkungan asam (pH rendah). Lingkungan asam ini melindungi kuman terhadap obat anti tuberkulosis tertentu.

3. Populasi C : pada kelompok ini kuman berada dalam keadaan dormant (tidak ada aktivitas). Hanya kadang-kadang kuman ini mengadakan metabolisme secara aktif dalam waktu singkat.

4. Populasi D : dalam kelompok ini terdapat kuman-kuman yang sepenuhnya bersifat dormant (complete dormant), sehingga sama sekali tidak b isa dipengaruhi oleh obat anti tuberkulosis. Jumlah populasi ini tidak jelas dan hanya dapat dimusnahkan oleh mekanisme pertahanan tubuh manusia itu sendiri.

Sifat Mycobacterium Tuberkulosa

Kuman Tb dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini karena kuman berada dalam sifat dormant sehingga kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Jika dalam ruangan lembab dan gelap, kuman dapat bertahan bertahun-tahun.

Tanda dan Gejala

Gejala pada pernafasan diantaranya : batuk, krekels di atas apeks paru, sesak nafas dan nyeri dada. Sedangkan gejala umum antara lain : demam, berkeringat malam, sakit kepala,takikardi, anoreksia, penurunan BB, malaise/keletihan, llimfe membengkak, menstruasi tak teratur, keluhan tidak bisa tidur.

Patofisiologi

Secara patogenesis, bahan lipid dan karbohidrat dinding M. Tuberculosis dapat meningkatkan virulensi dengan menghalangi fusi fagolisosom, sehingga bakteri dapat bertahan dalam sel.

Reaksi hipersensitivitas yang terjadi saat proses inflamasi adalah reaksi hipersensitivitas lambat (tipe IV). Reaksi terhadap basil tuberkel ini terbentuk dalam 2-4 minggu setelah infeksi awal. Individu yang tersensitisasi akan menunjukan reaksi indurasi yang berlebih (> 5 mm) pada tes PPD. Namun hasil tes positif hanya menunjukan sensitivitas, bukan penyakit aktif. Setelah sensitisasi terjadi selama fase infeksi, reaksi peradangan nonspesifik berubah menjadi granuloma yang sering disertai nekrosis kaseosa. Peningkatan resistensi terjadi berupa kemampuan menghambat replikasi kuman interseluler.


Jika dilihat dari pajanan terjadinya penyakit, tuberkulosa terbagi menjadi dua, yaitu primer dan post primer (sekunder)

1. Primer

Bentuk ini terjadi pada penderita yang sebelumnya tidak pernah terpapar dengan kuman tuberculosis atau saat orang pertama kali terpapar kuman TB. Setelah terinhalasi, kuman Tb sebagian hancur (melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus), sebagian berkembang biak selanjutnya membentuk sarang primer + limfangitis local + limfadenopati regional (kompleks primer). Lesi biasanya terjadi di dekat pleura pada bagian inferior lobus atas atau bagian superior lobus bawah. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan komplek primer sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Pada tuberkel lama dengan jaringan parut mungkin tidak ditemukan kuman tetapi mengandung kuman yang infektif, kadang bertahan sampai beberapa puluh tahun. Tuberkulosis primer biasanya asimptomatik.

Pada fase ini dapat terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening (kelenjar limfe) bronkus atau hilus ipsilateral berakibat terjadinya lesi campuran paru dan kelenjar getah bening (kompleks ghon).

Pada kebanyakan kasus, infeksi tidak berkembang dan menghasilkan jaringan parut dan kalsifikasi lokal. Kadang-kadang terjadi pneumonia primer progresif. Komplikasi lain adalah tuberkulosis milier diseminata, yang terjadi bila kuman tuberkulosis masuk ke dalam peredaran darah.

2. Post Primer

Tuberculosis post primer menunjukan infeksi aktif pada penderita yang sebelumnya telah mengalami sensitisasi. Kebanyakan kasus merupakan reaktivasi bakteri dorman dari lesi primer. Proses ini meliputi pembentukan sarang di region atas paru-paru (apical posterior lobus superior atau inferior). Hal ini menunjukan M. tuberculosis memilih lokasi dengan pO2 yang tinggi. 3-10 minggu kemuadian menjadi tuberkel . Post primer terjadi beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer (akibat penurunan daya tahah tubuh, infeksi HIV, status gizi buruk).



Akibat dari proses di atas mengarah pada terjadinya penyakit paru restriktif, dimana terjadinya kehilangan daerah pertukaran gas, baik secara anatomis maupun fungsional. Selain itu penyakit paru restriktif menyebabkan penurunan komplians paru, kapasitas vital, kapasitas residu fungsional dan kapasitas difusi.

Penatalaksanaan Umum

Pemberian antibiotik (RHEZS), analgesic, terapi O2, diet TKTP, isolasi pernafasan dan operasi(drainase, reseksi paru).

Proses Keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas

b. Riwayat Kesehatan

1) Keluhan utama

Keluhan yang sering muncul biasanya, sesak atau nyeri dada.

2) Riwayat kesehatan sekarang

Penjabaran dari keluhan utama (PQRST)

3) Riwayat kesehatan dahulu

Dikaji terutama riwayat merokok, kontak dengan penderita Tb paru, riwayat penyakit saluran pernafasan lain, riwayat pekerjaan yang berkaitan dengan zat polutan.

4) Riwayat kesehatan keluarga

Dikaji riwayat Tb paru di keluarga dan pengobatannya.

c. Kondisi tempat tinggal dan lingkungan

Dikaji kondisi rumah dan lingkungan meliputi sumber polutan, pemaparan sinar matahari, kelembaban ruangan, ventilasi

d. Aktivitas sehari-hari

Dikaji pola nutrisi, eliminasi, aktivitas, personal higiene dan pola tidur.

e. Pemeriksaan Fisik (dilakukan persistem)

1) System persarafan, biasanya ditemukan pasien sadar, gelisah, hingga penurunan kesadaran.

2) System pernafasan, klien biasanya terlihat sesak, nyeri dada, respirasi meningkat, mungkin batuk produktif atau darah (haemaptoe), suara nafas ronchii/gargling, terdapat perubahan perbandingan diameter anteroposterior dada, deviasi trakea, vocal premitus menurun.

3) System kardiovaskuler, biasanya heart rate meningkat lemah, penurunan tekanan darah, mungkin peningkatan JPV, sianosis perifer, konjungtiva pucat.

4) System gastrointestinal, mungkin terjadi penurunan bising usus, nafsu makan berkurang, keluhan mual muntah akibat obat Tb paru.

5) System perkemihan, biasanya ditemukan urine kemerahan sebagai efek samping obat Tb paru.

6) System endokrin, biasanya ditemukan hipermetabolisme akibat infeksi, pembesaran KGB, gula darah meningkat.

7) System reproduksi, biasanya ditemukan gangguan menstruasi pada wanita, penurunan hasrat sexual.

8) System integument, biasanya ditemukan peningkatan diaforesis, kulit pucat dengan turgor jelek, kehilangan lemak sub kutan.

9) System musculoskeletal, biasanya ditemukan penampilan kurus, bentuk tulang dada berubah, penurunan kekuatan otot, penurunan tonus otot.

f. Aspek psikososial dan spiritual

Biasanya terdapat gangguan konsep diri pada penderita, merasa dikucilkan akibat pandangan negative masyarakat.

g. Aspek pengetahuan

Perlu dikaji pemahaman penderita TB paru dan keluarganya berkenaan dengan kemampuan dalam perawatan dan pengobatan Tb paru.

h. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan diagnostic meliputi Pemeriksaan dahak (BTA), Foto roentgen, Darah, Mantoux test.

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan

a. Ggn oksigenasi ; ventilasi b.d akumulasi secret di jalan nafas

Tujuan : jalan nafas bersih

Tindakan :

1) Obs TTV

2) Observasi RR, kedalaman, suara paru tambahan dan pgn otot aksesori pernafasan.

3) Catat sifat sputum; jumlah, warna, bau dan konsistensi

4) Atur posisi tidur; semi fowler

5) Ajarkan klien batuk efektif,serta lakukan fisioterapi dada, postural drainage

6) Berikan klien hidrasi adekuat dgn jml sesuai keb. tubuh serta berikan minum air hangat.

7) Kolaborasi untuk pemberian terapi mukolitik dan berikan sesuai program.

b. Gangguan pertukaran gas b.d penurunan fungsi paru

Tujuan : pertukaran gas adekuat

Tindakan :

1) Obs frekuensi,kualitas pernafasan.

2) Obs tanda cyanosis.

3) Obs bunyi nafas, catat peningkatan/penurunan ronki, krekels.

4) Baringkan dlm posisi semi fowler.

5) Kolab pemeriksaan AGD (PO2, PCO2, HCO3, sat O2, BE)

6) Bimbing klien untuk nafas dalam.

7) Berikan oksigen sesuai program pengobatan.

8) Anjurkan klien untuk tirah baring selama periode akut

c. Gangguan rasa nyaman nyeri dada

Tujuan : nyeri berkurang/hilang

Tindakan :

1) Berikan tindakan untuk meningkatakan rasa nyaman (relaksasi, distraksi)

2) Jika mungkin kolaborasi analgetik

3) Minimalkan aktivitas

4) Pengaturan posisi dada semi fowler

5) Ciptakan lingkungan yang tenang

d. Resiko penyebaran infeksi

Tujuan : infeksi tidak berlanjut, tidak menular kepada orang lain

Tindakan :

1) Identifikasi keluarga atau orang lain yang dapat tertular infeksi

2) Anjurkan klien batuk, bersin dengan menutup mulut

3) Anjurkan klien mengeluarkan dahak pada tempat yang telah disediakan (pot sputum tertutup), ajarkan cara pembuatannya.

4) Tekankan pentingnya tidak mengehentikan obat Tb paru.

5) Identifikasi faktor resiko individu terhadap kemungkinan kekambuhan ulang (alkoholisme, merokok, malnutrisi, lingkungan rumah yang tidak sehat). Segera lakukan pencegahan.

e. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia

Tujuan : nutrisi klien terpenuhi

Tindakan :

1) Kaji status nutrisi(BB)tiap hari.

2) Kolaborasi dgn bagian gizi u/ pemberian diet TKTP.

3) Berikan penjelasan pada klien ttg pentingnya intake nutrisi dlm proses penyembuhan penyakit

4) Atur posisi yang nyaman saat makan (semi fowler)

5) Motivasi klien u/ menghabiskan porsi makannya

6) Motivasi u/ istirahat sblm makan u/ mengurangi keletihan

7) Berikan makan dlm jumlah kecil tapi sering

8) Berikan makan dlm keadaan hangat

9) Motivasi pada orang terdekat untuk membawakan klien makan kesukaanya yang tidak bertentangan dengan program pengobatan

10) Pantau presentase makanan yang dimakan

f. Aktivitas intoleran b.d keletihan, kelemahan,dispneu

Tujuan : aktivitas terpenuhi sesuai kemampuan klien

Tindakan :

1) Obs derajat intoleransi aktivitas yang dilaporkan

2) Kaji kekuatan otot klien

3) Observasi frekuensi pernafasan dalam berespons terhadap aktivitas yang dilakukan klien

4) Bantu aktivitas klien selama klien masih lemah.

5) Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan klien

6) Bantu dan instruksikan klien u/ merencanakan waktu istirahat diantara waktu aktivitas

7) Berikan terapi oksigen sesuai indikasi

8) Instruksikan dan bimbing klien u/ menggunakan teknik bernafas adaptif

9) Bimbing dan awasi klien dalam melakukan ROM

10) Pantau tanda progresi penyimpangan saat beraktivitas dan segera kolaborasi dengan dokter

g. Gangguan pola tidur; kurang dari kebutuhan b.d batuk,sesak

Tujuan : kebutuhan tidur klien terpenuhi

Tindakan :

1) Berikan obat-obatan (antitusif, mukolitik,bronkodilator) menjelang tidur.

2) Atur posisi semi fowler

3) Ciptakan suasana tenang,batasi pengunjung saat istirahat

4) Hindari obs,pemberian terapi saat klien tidur

5) Pertahankan pemberian oksigen saat tidur

6) Dorong dan bantu klien dalam melakukan perawatan di malam hari (membereskan tempat tidur,cuci kaki, cuci tangan, gosok gigi)

7) Gunakan alat bantu tidur (mandi air hangat, makanan kecil, dipijat, membaca, relaksasi, berdoa, minum susu hangat)






Persiapan Perawatan Di Rumah

1. Kaji tingkat pengertian proses penyakit,ketakutan,salah persepsi

2. Jelaskan sifat penyakit dan tujuan pengobatan serta prosedur

3. Jelaskan pentingnya higiene (batuk ke dalam tempat sputum, cara membuang sputum, memalingkan muka jika batuk, menghindari kontak langsung dengan sputum)

4. Jelaskan pentingnya diit TKTP

5. Jelaskan pentingnya isolasi pernafasan

6. Jelaskan pentingnya melakukan latihan, istirahat,menghindari keletihan

7. Jelaskan pentingnya u/ menghindari kontak dkt org lain

8. Jelaskan pentingnya perawatan jalan berkelanjutan

9. Diskusikan gejala untuk dilaporkan pada dokter (batuk darah, nyeri dada, kesulitan bernafas, hilang pendengaran, vertigo)

10. Diskusikan pengobatan: nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek samping

11. Jelaskan pentingnya untuk menghindari minum obat yang dijual bebas tanpa konsultasi dengan dokter

Jumat, 03 Oktober 2014

Kurikulum Mata Kuliah D3 Akademi Keperawatan

KURIKULUM PROGRAM DIPLOMA TIGA (D-III) KEPERAWATAN

Kurikulum Program Diploma III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang, terdiri atas lima kelompok :
  1. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) bertujuan untuk memberikan pengayaan wawasan, pendalaman dan pembentukan kepribadian khususnya didasarkan pada Jiwa Keislaman dan Kemuhammadiyahan.
  2. Mata Kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK) bertujuan untuk memperkuat penguasaan dan memperluas wawasan kompetensi keilmuan keperawatan.
  3. Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB) bertujuan memperkuat penguasaan  dan memperluas wawasan kompetensi keahlian dalam berkarya di masyarakat
  4. Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB) bertujuan untuk memperkuat penguasaan dan memperkuat wawasan perilaku berkarya  yang sesuai di masyarakat
  5. Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB) bertujuan untuk menunjang upaya pemahaman serta penguasaan ketentuan yang berlaku dalam berkehidupan di masyarakat.

Semester I
No.KodeMata KuliahSKS
1.0210300640Fisika dan Biologi2
2.0110301731Pancasila dan Kewiraan2
3.0210300122Anatomi Fisiologi4
4.0410301235Konsep Dasar Keperawatan4
5.0410301054Kebutuhan Dasar Manusia I4
6.0110300189Bahasa Indonesia2
7.0210300876Ilmu Gizi2
8.0110300044AIK I1
9.0110300203Bahasa Inggris Keperawatan I2
Jumlah23
 
Semester II
No.KodeMata KuliahSKS
1.0420300537Etika Keperawatan Islam2
2.0210300242Biokimia2
3.0210301639Mikrobiologi dan Parasitologi2
4.0510302682Sosiologi2
5.0410301055Kebutuhan Dasar Manusia II6
6.0210300575Farmakologi2
7.0210302402Psikologi2
8.0120300045AIK II1
9.0220301759Pelayanan Prima Islami1
10.0120300204Bahasa Inggris Keperawatan II2
Jumlah22
 
Semester III
No.KodeMata KuliahSKS
1.0410301214Komunikasi Dalam Keperawatan2
2.0410302372Promosi Kesehatan2
3.0410300395Dokumentasi Keperawatan2
4.0310301121Keperawatan Medikal Bedah I5
5.0410301127Keperawatan Profesional2
6.0310301099Keperawatan Jiwa I4
7.0120300046AIK III1
8.0210301746Patologi3
Jumlah21

Semester IV
No.KodeMata KuliahSKS
1.0310301122Keperawatan Medikal Bedah II6
2.0310301091Keperawatan Anak I4
3.0310301118Keperawatan Maternitas I4
4.0410301962Pengantar Riset Keperawatan2
5.0120300047AIK IV1
6.0510301082Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan3
Jumlah20

Semester V
No.KodeMata KuliahSKS
1.0310301104Keperawatan Keluarga2
2.0310301096Keperawatan Gerontik2
3.0310301113Keperawatan Komunitas I4
4.0320301265Laboratorium Ketrampilan Keperawatan2
5.0310301102Keperawatan Kegawatdaruratan I2
Jumlah12

Semester VI
No.KodeMata KuliahSKS
1.0310301100Keperawatan Jiwa II2
2.0310301119Keperawatan Maternitas II2
3.0310301123Keperawatan Medikal Bedah III2
4.0310301124Keperawatan Medikal Bedah IV4
5.0310301114Keperawatan Komunitas II2
6.0310301092Keperawatan Anak II2
7.0310301103Keperawatan Kegawatdaruratan II1
8.0310301036Karya Tulis Ilmiah4
Jumlah

Kamis, 06 Februari 2014

Makalah Gangguan Proses Pikir Keperawatan

Makalah Keperawatan

MAKALAH GANGGUAN PROSES PIKIR (WAHAM)

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Waham merupakan salah satu gangguan orientasi realitas. Gangguan orientasi realitas adalah ketidakmampuan klien menilai dan berespons pada realitas. Klien tidak dapat membedakan rangsangan internal dan eksternal, tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Klien tidak mampu memberi respons secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan.
Gangguan orientasi realitas disebabkan oleh fungsi otak yang terganggu yaitu fungsi kognitif dan isi fikir; fungsi persepsi, fungsi emosi, fungsi motorik dan fungsi sosial. Gangguan pada fungsi kognitif dan persepsi mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. Gangguan fungsi emosi, motorik dan sosial mengakibatkan kemampuan berespons terganggu yang tampak dari perilaku non verbal (ekspresi muka, gerakan tubuh) dan perilaku verbal (penampilan hubungan sosial). Oleh karena gangguan orientasi realitas terkait dengan fungsi otak maka gangguan atau respons yang timbul disebut pula respons neurobiologik.


B.    Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Waham?
2.      Apa saja tanda dan gejala dari Waham?
3.      Apa itu macam – macam Waham?
4.      Apa saja penyebab dan akibat dari Waham?

C.    Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu supaya pembaca dapat mengerti dan memahami definisi dari Waham, tanda gejala waham, macam – macam waham dan pembaca juga dapat mengetahui penyebab dan akibat dari gangguan proses pikir waham.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999).
Waham adalah keyakinan tentang suatu pikiran yang kokoh, kuat, tidak sesuai dengan kenyataan, tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang budaya, selalu dikemukakan berulang-ulang dan berlebihan biarpun telah dibuktikan kemustahilannya atau kesalahannya atau tidak benar secara umum. (Tim Keperawatan PSIK FK UNSRI, 2005).
Waham adalah keyakinan keliru yang sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan menggunakan logika (Ann Isaac, 2004)

B.    Tanda dan Gejala :
1.      Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran,
2.      kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan
3.      Klien tampak tidak mempunyai orang lain
4.      Curiga
5.      Bermusuhan
6.      Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
7.      Takut, sangat waspada
8.      Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
9.      Ekspresi wajah tegang
10. Mudah tersinggung

C.     Macam – macam waham yaitu :
1.      Waham agama: percaya bahwa seseorang menjadi kesayangan supranatural atau alat supranatural
2.      Waham somatik: percaya adanya gangguan pada bagian tubuh
3.      Waham kebesaran: percaya memiliki kehebatan atau kekuatan luar biasa
4.      Waham curiga: kecurigaan yang berlebihan atau irasional dan tidak percaya dengan orang lain
5.      Siar pikir: percaya bahwa pikirannya disiarkan ke dunia luar
6.      Sisip pikir: percaya ada pikiran orang lain yang masuk dalam pikirannya
7.      Kontrol pikir: merasa perilakunya dikendalikan oleh pikiran orang lain

D.    RENTANG RESPON WAHAM

Respon Adaptif <-----------------------------------> Respon Maladaptif
Pikiran Logis                         Distorsi Pikiran                          Gangguan Pikiran
1. Persepsi Kuat                 1. Ilusi                                   1. Sulit Berespon
2. Emosi Konsisten            2. Reaksi Emosi                     2. Emosi
Dengan Pengalaman              Berlebihan                          3. Perilaku kacau
3. Perilaku Sesuai
4. Berhubungan Sesuai

E.     Penyebab
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan.
Tanda dan Gejala :
1.       Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
2.        Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
3.        Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
4.        Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
5.        Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakhiri kehidupannya. ( Budi Anna Keliat, 1999)

F.     POHON MASALAH

Resiko ----- Resiko Perilaku Kekerasan


CP ---------- Perubahan proses pikir: waham


Etiologi ---- Gangguan konsep diri: harga diri rendah


G.   Akibat dari Waham
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
Tanda dan Gejala :
1.      Memperlihatkan permusuhan
2.      Mendekati orang lain dengan ancaman
3.      Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
4.      Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
5.      Mempunyai rencana untuk melukai

H.    Proses Berpikir
Proses berpikir itu meliputi proses pertimbangan (“judgment”), pemahaman (”comprehension”), ingatan serta penalaran (“reasoning”). Proses berpikir yang normal mengandung arus idea, symbol dan asosiasi yang terarah kepada tujuan dan yang dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas dan yang menghantarkan kepada suatu penyelesaian yang berorientasi kepada kenyataan.
Berbagai macam factor mempengaruhi proses berpikir itu, umpamanya factor somatic (gangguan otak, kelelahan), factor psikologik (gangguan emosi, psikosa) dan factor social (kegaduhan dan keadaan sosial yang lain) yang sangat mempengaruhi perhatian atau konsentrasi si individu. Kita dapat membedakan tiga aspek proses berpikir yaitu: bentuk pikiran, arus pikiran dan isi pikiran, ditambah dengan pertimbangan.
Gangguan bentuk pikiran, Dalam kategori ganggauan bentuk pikiran termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logik, dan terarah kepada tujuan.
1.      Dereisme atau pikiran dereistik, titik berat pada tidak adanya sangkut paut terjadi antara proses mental individu dan pengalamannya yang sedang berjalan. Proses mentalnya tidak sesuai dengan atau tidak mengikuti kenyataan, logika, atau pengalaman. Umpamanya seorang kepala kantor pemerintah pernah mengatakan, “Seorang pegawai negeri dan seorang warga negara yang baik harus kebal korupsi, biarpun gajinya tidak cukup, biarpun keluarganya menderita; bila tidak tahan silakan keluar…”, atau seorang lain lagi, “Kita harus memberantas perjudian dan pelacuran, karena hal-hal itu merupakan ‘exploitation de I’home parr I’home’; adalah ‘homo homini lupus’ adalah ‘machiavellisme’; karena itu kita harus mengikis habis segala bentuknya, tanpa kecuali…”.
2.      Pikiran otistik; menandakan bahwa penyebab distorsi arus asosiasi ialah dari dalam pasien itu sendiri dalam bentuk lamunan, fantasi, waham atau halusinasi. Cara berpikir seperti ini hanya akan memuaskan keinginannya yang tak terpenuhi tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya; hidup dalam alam pikirannya sendiri. Kadang-kadang istilah ini dipakai juga untuk pikiran dereistik.
3.      Bentuk pikiran yang non-realistik: bentuk pikiran yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan, umapamanya: menyelidiki sesuatu yang spektakuler dan revolusioner bila ditemui; mengambil kesimpulan yang aneh serta tidak masuk akal (merupakan gejala yang menonjol pada skizoprenia hebefrenik di samping tingkah laku kekanak-kanakan). Dibedakan dari pikiran dereistik dan otistik tapi kadang-kadang ketiga gangguan bentuk pikiran ini dijadikan satu dengan salah satu istilah itu.



I.       Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1.      Masalah keperawatan : Perubahan proses pikir : waham
Data Subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan/ realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung.
Diagnosa Keperawatan
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham.
Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah.

Intervensi Keperawatan :
1.      Diagnosa 1: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berubungan dengan waham.
Tujuan umum :
Klien tidak menciderai diri, orang lain, dan lingkungan.
Tujuan khusus :
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksinya.
Tindakan :
Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).
Jangan membantah dan mendukung waham klien : katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi : katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.
2.      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.
Rasional : Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi klien dari pada hanya memikirkannya.
Tindakan :
Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
3.      Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Rasional : Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa nyaman dan aman.
Tindakan :
Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
4.      Klien dapat berhubungan dengan realitas.
Rasional : Menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang ada.
Tindakan :
Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.
5.      Klien dapat menggunakan obat dengan benar.
Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek samping obat.
Tindakan :
Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.
Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
6.      Klien dapat dukungan dari keluarga.
Rasional : Dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan mambentu proses penyembuhan klien.
Tindakan:
Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang : gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga







BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan selalu dikemukakan berulang-ulang. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilannya.




DAFTAR PUSTAKA

Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 thed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
http://iloslayers.blogspot.com/2011/05/asuhan-keperawatan-pasien-dengan.html
http://gladiolstrange.blogspot.com/2009/05/gangguan-pikir-bentuk-isi-dan-arus.html
sumberhttp://rikiariyantojampang.blogspot.com/2013/10/blog-post.html

PONPES SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI

Sholawat_Badar-Puput_Novel-TOPGAN

Blogger templates

href="http://www.yayasangurungajiindonesia.com" ' rel='canonical'/>>

Adsendiri

Pasang Iklan Disini

adsend

Pasang Iklan Disini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls