Tampilkan postingan dengan label Alquran dan Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alquran dan Hadits. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2014

Pengertian Dan Asal Kata Dinnul Islam-Diniyah

Di dalam Al-Qur’an, perangkaian kata ad-dîn yang paling penting adalah dengan kata al-Islâm pada ayat seperti yang terdapat dalam QS. Âlu `Imrân, 3:19 dan 85;  dan al-Mâ’idah, 5:3. Term al-Islâm, meskipun sudah amat dikenal, perlu dikemukakan mengingat penggunaan kata tersebut oleh Al-Qur’an menjangkau hal yang lebih luas. Dalam bentuk al-Islâm terdapat sebanyak delapan kali, bentuk muslim dua kali, bentuk muslimûn dan muslimîn tiga puluh enam kali, bentuk muslimayn (tatsniyyah) satu kali, bentuk muslimah dan muslimâtmasing-masing satu dan dua kali, bentuk aslamâaslamtuaslamtumaslamnâ,aslamûaslama (kata kerja bentuk lampau) seluruhnya empat belas kali, bentukaslim dan aslimû (bentuk perintah) semuanya tiga kali dan bentuk kata kerjaimperfect (yuslimuslimanuslimatuslimûnayuslimûna) masing-masing satu kali, serta bentuk as-silm satu kali. 
Beberapa di antara bentuk-bentuk kata tersebut digunakan untuk Nabi Ibrâhîm dan anak cucunya seperti dalam QS. al-Baqarah, 2:128, 131, 132, dan 133; Âlu `Imrân, 3:67; dan al-An`âm, 6:163. Kata-kata tersebut juga digunakan secara eksplisit untuk umat-umat pada masa lampau yang beriman (QS. al-Hajj, 22:78), untuk Nûh (QS. Yûnus,10:72), untuk para nabi yang berhukum kepada Taurat (QS. al-Mâ’idah, 5:44), untuk Ratu Saba’ dan rakyatnya (QS. an-Naml, 28:31, 38, 42, dan 44), untuk umat Nabi Mûsâ dan tukang sihir Fir’aun yang beriman (QS.  Yûnus, 10:84 dan al-A’raf, 7:126), untuk Nabi Yûsuf (QS. Yûsuf, 12:101), dan untuk murid-murid Nabi `Îsâ yang disebut al-hawâriyyûn (QS. Âlu `Imrân, 3:52), bahkan untuk semua yang ada di langit dan di bumi (QS. Âlu `Imrân, 3:83).
Arti dari Islam adalah menyerah kepada Alloh dengan bertauhid kepada-Nya di atas ajaran-ajaran Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam. Islam adalah agama AllohSubhanahu wa Ta`ala satu-satunya. Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan AllohSubhanahu wa Ta`ala dan diridhoi-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Tidak ada satu agama pun akan diterima Alloh Subhanahu wa Ta`ala selain Islam. Barang siapa yang datang di hari kiamat dengan beragama selain Islam, maka orang itu (na`udzubillah) akan kekal di neraka Jahannam.

Arti kata Diniyah maksudnya adalah keagamaan Islam sehingga pendidikan diniyah maksudnya adalah pendidikan agama Islam yang berdasarkan alquran dan sunnah, Diniyah disini bisa diartikan sebagai nilai juga sebagai lembaga pendidikan Islam
Dalil Addin atau Diniyah Atau Dinnul Islam, Dinul Qoyim, Dinul Qoyimah
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam”. {QS. Ali Imron [3]: 19}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa menganut dien selain dari Dien Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (dien itu) dari padanya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi”.{QS. Ali Imron [3]: 85}
Islam adalah agama tauhid. Seluruh nabi dan rosul yang diutus Alloh Subhanahu wa Ta`ala hanya meng-ajarkan, menanamkan dan menda`wahkan tauhid, (beribadah serta mengabdi hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta`ala saja, tidak kepada yang lain-Nya). Tidak ada satupun di antara mereka yang mengajar-kan syirik.  
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untukmenyerukan): “Beribadahlah hanya kepada Alloh (saja), dan jauhilah Thogut”,{QS. An Nahl [16]: 36}
Islam adalah agama para rosul, sejak Nabi Adam `alaihis salam sampai Nabi kita dan junjungan kita, Muhammad Ibnu Abdillah Shallallohu `alaihi wa sallam.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrohim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrohim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya  Alloh telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah kalian mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kalian hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kalian ibadahi sepeninggalku”. Mereka menjawab: “Kami akan beribadah kepada Robb-mu dan Robb bapak-bapakmu : Ibrohim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Robb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya”. {QS. Al Baqoroh [2]: 132-133}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

(ikutilah) agama orang tua kalian Ibrohim. Dia (Alloh) telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rosul itu menjadi saksi atas diri kalian dan supaya kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia.” {QS. Al Hajj [22]: 78}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

Dia telah mensyari’atkan bagi kalian agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa-apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrohim, Musa dan `Isa yaitu: Tegakkan-lah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentang-nya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allohmenarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)”{QS. Asy Syuro [42]: 13}
Agama yahudi bukanlah agama nabi Musa `alai-his salam dan agama nasranibukanlah agama nabi `Isa `alaihis salam. Kedua nabi tersebut dan seluruh para nabi telah diutus dengan membawa agama Islam.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman tentang perkataan Nuh `alaihis salam kepada kaumnya:

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Jika kalian berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun dari kalian, upahku tidak lain hanyalah dari Alloh, dan aku diperintah untuk menjadi  orang-orang Islam (Muslimin)”. {QS. Yunus [10]: 72}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman ke-pada Alloh, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar orang-orang Islam (Muslimin)”. {QS. Yunus [10]: 84}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Maka tatkala `Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia: “Siapakah  yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama)Alloh“. Para Ha-wariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh. Kami beriman kepada Alloh dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam”. {QS. Ali Imron [3]: 52}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut ‘Isa yang setia: “Berimanlah kalian kepada-Ku dan kepada rosul-Ku“. Mereka menjawab: “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rosul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam”{QS. Al Maidah [5]: 111}
Islam adalah agama yang sempurna, kesempurnaan Islam adalah mutlak dari semua segi, baik aqidahnya, hukum-hukumnya maupun segi-segi yang lainnya. Hal itu dikarenakan Islam adalah haq dan karena Islam datang dari Zat Yang Maha SempurnaAlloh `Azza Wa Jalla. Kesempurnaan Islam bertolak dari kesempur-naan Alloh Subhanahu wa Ta`alaIslam adalah agama yang abadi, tidak akan punah sepanjang zaman dan tidak akan tertinggal oleh zaman manapun.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian ni`mat-Ku, dan telah Ku ridhoi Islam itu jadi agama kalian”. {QS. Al Maidah [5]: 3}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah selain agama Alloh yang mereka cari, pada-hal kepada-Nya-lah berislam (berserah diri) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Alloh-lah mereka dikembalikan“. {QS. Ali Imron [3]: 83}
Islam diturunkan untuk jaya selamanya, untuk selalu berada di tingkat tertinggi di atas semua agama yang ada di bumi ini. Hal itu dikarenakan Islam ada-lah haq dan agama-agama lainnya adalah bathil. Ke-jayaan Islam tidak akan pudar selamanya. Pemeluk-nya pun akan tetap jaya selama mereka berpegang teguh kepada Islamyang murni.
Betapa suatu kaum tidak akan jaya kalau mereka mengikuti petunjuk-petunjuk Zat Yang Maha Menge-tahui tentang hal-hal yang goib maupun yang dzohir (tampak)? Betapa tidak akan jaya ketika suatu kaum tunduk menyerah kepada Ilah Yang Maha Agung yang ditanganNya-lah kejayaan itu sendiri? Dialah yang memberikan kejayaan kepada orang yang dike-hendaki-Nya dan menanggalkannya dari orang-orang yang dikehendaki-Nya.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang mengutus Rosul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dime-nangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya” {QS. At Taubah [9]: 33}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dialah yang mengutus rosul-Nya dengan membawa pe-tunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas semua agama. Dan cukuplah Alloh sebagai saksi”{QS. Al Fath [48]: 28}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang mengutus rosul-Nya dengan membawa pe-tunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas semua agama meskipun orang-orang musyrik mem-benci yang demikian”. {QS. Ash Shof [61]: 9}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kemulyaan di sisi orang-orang kafir itu? Sesungguhnya semua kemuliaan adalah kepunyaan Alloh{QS. An Nisaa’  [4]: 139}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Alloh kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya lah naik per-kataan-perkataan yang baik dan amal yang solih dinaik-kan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejaha-tan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur”. {QS. Faathir [35]:10}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: “Wahai Robb Yang mempunyai kerajaanEngkau berikan kerajaan (kekuasaan) kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau rebut kerajaan (kekuasaan) dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yangEngkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tanganEngkaulah segala ke-bajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” {QS. Ali Imron [3]: 26}
Ketika para pemeluk dienul Islam meninggalkan pasal-pasal dari agama suci ini, maka merekapun mulai meninggalkan kejayaan mereka sendiri seperti halnya yang terjadi pada abad terakhir ini. Untuk itu, tiada jalan lain untuk mengembalikan kejayaan mereka selain kembali berpegang teguh kepada agama Islam yang murni.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Alloh, niscaya Diaakan menolong kalian dan meneguh-kan kedudukan kalian”{QS. Muhammad [47]: 7}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Alloh pasti menolong orang yang me-nolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa”. {QS. Al Hajj [22]: 40}
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan wajib pada Kami untuk menolong orang-orang yang beriman”. {QS. Ar Ruum [30]: 47}

Selasa, 11 Februari 2014

Makalah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Raras Wuri Miswandaru. 

Pendahuluan
Manusia diciptakan saling keterkaitan satu dengan lainnya. Dalam artian, manusia membutuhkan manusia lainnya untuk menjalani hidupnya. baik dalam hal yang bersifat kecil dan terlebih dalam hal yang begitu penting.
Namun tidak ada orang yang paling berjasa dalam hidup kita selain orang tua kita sendiri. Mereka memberikan kasih sayang yang sungguh luar biasa kepada kita sejak kita lahir hingga kapan pun mereka akan tetap memberikan kasih sayangnya kepada kita.
Tanpa sedikit pun mengeluh mereka membesarkan kita dengan penuh kesabaran, memberi makan kita dengan penuh keikhlasan, mendidik kita dengan penuh cinta, dan banyak lagi jasa-jasa orang tua yang tidak akan pernah akan terbalas.
Lalu apa yang akan kita lakukan untuk membalas semua kebaikannya?
Allah memerintahkan kita sebagai orang muslim untuk berbakti kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya ;
قَالَ اللهُ تَعَالَى : }وَوَصَّيْنَا الإِْنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا{ (العنكبوت : 8)
“ Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya” (Al Ankabut 8).
Dalam makalah ini kami mencoba memaparkan hal-hal yang seringkali terlupakan oleh seorang anak, yaitu keikhlasan dan kesadaran akan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Kami sadari masiah jauh mencapai suatu kesempurnaan dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami harapkan tegur sapa akrab, berupa kritik maupun saran kepada kami untuk kedepannya.

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
A. Makna Berbakti kepada Kedua Orang Tua.
Makna berbakti kepada kedua orang tua yakni berusaha membalas semua yang telah diberikan kedua orang tua kita, meskipun semua kebaikan mereka tidak akan pernah bisa terbalas oleh seorang anak. Oleh karena itu kita harus berusaha sebisa mungkin membuat orang tua kita bangga membuat mereka bahagia.
Tanpa sedikit pun mengeluh mereka membesarkan kita dengan penuh kesabaran, memberi makan kita dengan penuh keikhlasan, mendidik kita dengan penuh cinta, dan tentu saja masih banyak lagi jasa-jasa orang tua yang tidak akan pernah akan terbalas.
Selain itu sebagai anak kita harus mentaati semua yang diperintahkan oleh kedua orang tua kita namun dalam batasan tidak keluar dari aturan-aturan Allah SWT. dan Rasul-Nya.
B. Keutamaan Berbakti kepada Kedua Orang Tua.
Rasulullah SAW. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan ‘Abdullah bin Mas’ud.
عَنْ عَبْدِ الَّلهِ مَسْعُوْدٍ ر قَالَ سَاَلْتُ النَّبِيَّ ص اَيُّ الْعَمَلِ اَحَبُّ الَّئ الَّلهِ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَئ وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ اَيُّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَينِ قُلْتُ ثُمَّ اَيُّ قَالَ الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ.
“ Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud ra. Bahwa ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW. ‘perbuatan apa yang paling disukai Allah?’ Nabi menjawab : ‘Shalat pada awal waktu.’ Kemudian apa lagi? Nabi menjawab : ‘Berbakti kepada orang tua.’ Kemudian apa lagi?’ Nabi menjawab : ‘Jihad di jalan Allah.’ “
Dan dalam keterangan lain,
Amr Radhiyallahu Anhuma berkata, “Seseorang datang meminta izin untuk berjihad brsama Nabi SAW. Nabi bersabda, ‘Apakah orang tuamu masih hidup?’ ia menjawab ‘ya’ Nabi bersabda “Berjihadlah dengan izin kedua orang tuamu”. (Dikeluarkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).
Lihatlah bagaimana berbuat baik dan memberikan pelayanan kepada orang tua lebih diutamakan ketimbang jihad?
Rasullullah SAW. bersabda, Maukah aku beritahu kalian tentang dosa yang paling besar? “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.”Lanjutan hadits ini adalah : ….Asalnya Rasulullah bersandar lalu tegak duduk dan bersabda, “ ketahuilah, dan ucapan dusta serta sumpah palsu“ beliau terus-menerus mengucapkan kata itu hingga kami ( para shahabat ) berkata, ”seandainya saja beliau diam“.
Keterangan di atas menunjukan bahwasanya termasuk dosa besar apabila seorang anak mendurhakai orang tua, baik itu menyakiti hati mereka, mengucapkan kata-kata yantg tak pantas kepada mereka ataupun tidak menghormati mereka sebagai orang yang telah melahirkan, mengurus, membimbing hingga kelak kasih dan sayang mereka tak akan pernah hilang atau pun berkurang kepada kita.
C. Mendahulukan Ibu.
Dalam kedua kitab shahih diriwayatkan :
جاء رجل الى رسول الله ص فقال }يا رسول الله من احقّ النّاس بحسن الصحبه ؟ قال: )امّك( ثمّ من؟ قال:)ثمّ امّك( قال: ثمّ من ؟ قال: )ثمّ امّك( قال: ثمّ من؟ قال )ثمّ ابوك{( رواه البخاري
“Seseorang datang kepada Rasulullah SAW. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak mendapat perlakuan baik ? Rasulullah SAW. menjawab, “ ibumu.” Ia bertanya, kemudian siapa lagi ? beliau menjawab “ ibumu “. Kemudian siapa lagi ? beliau menjawab “ ibumu”. Ia menjawab lagi kemudian Rasulullah menjawab, “ ayahmu ”. HR. al-Bukhariy.
Takhrij Hadits.
Selain Imam al-Bukhoriy yang meriwayatkan hadits diatas ,Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam at-Tirmidzi, dan Imam Ibnu majah pun meriwayatkan juga. Matan diatas adalah yang dicatat oleh Imam al-Bukhariy dalam kitab adab, Babul Birri wa Shilah dengan sanad sebagai berikut; Kata beliau, telah menceritakan kepada kami Quttaybah bin Said, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari ‘Umarah bin al-Qa’qa, bin Syubrumah, dari Abi Zur’ah, Dari Abu Hurayrah r.a. Imam Muslim meriwayatkan hadits ini melalui sanad yang sama, dengan matan yang berbeda namun sema’na.
Imam Abu Daud dan at-Tirmidzi juga meriwatkan hadits yang semakna. Diterima dari Bahiz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya yaitu Mu’awiyyah bin Haydah. Ia bertanya kepada Rasulullah Saw,
من ابرّ؟ قال امّك، ثمّ امّك، ثمّ امّك، ثمّ اباك، ثمّ الاقرب فالاقرب...
“Kepada siapa saya harus berbuat baik?” Jawab Rasulullah Saw, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian keluarga paling dekat kemudian keluarga yang dekat...”
Melihat susunan sanad yang dilalui Imam Abu daud dan Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga memperkirakan bahwa seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw. yang dimaksud oleh Abu Hurayrah itu adalah Mu’awiyyah bin Haydah.
Rasulullah SAW. mengulangi kewajiban berbakti kepada ibu hingga tiga kali sedangkan kepada ayah hanya satu kali. Hal itu disebabkan derita seorang ibu lebih besar dari pada ayah dan kasih sayang yang diberikannyua juga lebih besar daripada ayah. Belum lagi jika dibandingkan dengan beratnya mengandung, kontraksi, melahirkan, berjaga malam dan masih banyak lagi.
Jadi, dari keterangan diatas bahwasanya seorang anak dianjurkan lebih mengutamakan seorang ibu ketimbang ayah, yang dilihat dari pengorbanan seorang ibu lebih besar dari pengaorbanan seorang ayah.
الجتّة تحت اقدام الا مّهات
“ Surga terletak dibawah telapak kaki para ibu “
D. Durhaka kepada Kedua Orang Tua.
Allah SWT. berfirman :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ….
“ Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak mu dengan sebaik-baiknya…
إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ
…Jika salah seseorang diantara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ AH “….
Artinya, janganlah berkata-kata kasar kasar kepada keduanya jika mereka telah tua dan berumur. Selain itu wajib bagimu untuk memberikan pengabdian kepada mereka sebagaimana mereka berdua memberikan pengabdian padamu. Keutamaan biasanya lebih dimiliki yang pertama, bagaimana mungkin kedua pengabdian itu bisa disamakan? Kedua orang tuamu menahan segala derita mengharapkan agar kamu bisa hidup. Sedangkan jika kamu menahan derita karena keduanya, kamu mengharapkan kematiannya. Allah melanjutkan firmannya,
 وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا. )الا سراء : 23 )
“…dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (al-Isra’ : 23)
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا. [ الا سراء : 24 ]
“Ya Allah limpahkanlah rahmatmu kepada ibu bapakku sebagaimana mereka mengurus ketika aku masih kecil “.
Allah Ta’ala berfirman,
.....أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ
“Agar kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, dan kepada-Ku lah kembalimu”. ( Luqman : 14 ).
Ada tiga ayat yang diturunkan dan dikaitkan dengan tiga hal, tidak dterima salah-satunya jika tidak dengan yang dikaitkannya :
Ø Firman Allah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Maka barangsiapa taat kepada Allah namun tidak taat kepada Rasul, ketaatannya tidak diterima“.
Ø Firman Allah, “Dan dirikanlah shalat serta tunaikan zakat”. maka barangsiapa yang melakukan shalat namun tidak mengeluarkan zakat maka tidaklah diterima.
Ø Firman Allah, “Agar kamu bersyukur kepadaku dan kepada kedua orang tua mu“. Barang siapa yang bersyukur kepadaku namun tidak bersyukur kepada ibu bapak tentu saja itu akan sia-sia.
E. Hikmah Berbakti Kepada Orang Tua.
Berbakti kepada orang tua adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim. Oleh karena itu seorang anak akan mendapatkan hikmah apabila ia melaksanakan kewajiban tersebut, diantaranya :
Ø Mendapatkan ridha Allah SAW.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “ Keridhaan Allah ada dalam keridhaan ibu bapak dan kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan orang tua”. ( Diriwayatkan Tirmidzi dari hadits Abdullah Bin Amr ). Amr Radhiyallahu Anhumaberkata, “ Seseorang datang meminta izin untuk berjihad brsama Nabi SAW. Nabi bersabda, ‘ Apakah orang tuamu masih hidup?’ ia menjawab ‘ya’ Nabi bersabda “Berjihadlah dengan izin kedua orang tuamu”.
( Dikeluarkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim ).
Ø Terhindar dari dosa besar.
Dalam kitab shahih Bukhari dan shahih muslim, Rasulullah SAW. bersabda, Maukah aku beritahu kalian tentang dosa yang paling besar? Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Lanjutan hadits ini adalah : ….Asalnya Rasulullah bersandar lalu tegak duduk dan bersabda, “ ketahuilah, dan ucapan dusta serta sumpah palsu “ beliau terus-menerus mengucapkan kata itu hingga kami ( para shahabat ) berkata,” seandainya saja beliau diam “.
Ø Sebab bertambahnya rizki.
Dijelaskan dalam hadits Anas Bin Malik, Rasulullah SAW. bersabda : “ Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan ditambahkan rizkinya, maka hendaklah dia ihsan kepada orang tuanya dan menyambung hubungan kekerabatanya “.
Ø Menjamin terlahirnya anak-anak shaleh.
Diriwayatkan dalam hadits Ibnu Umar, Rasulullah bersabda : “ berbuatlah ihsan kepada bapak-bapak kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbuat Ihsan kepada kalian. Peliharalah kesucian diri kalian, niscaya istri-istri kalian akan memelihara kesucian diri mereka “.
Ø Balasan surga dari Allah SAW.
Didalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, Nasa’i, dan Hakim dari hadits jahimah, Rasulullah bersabda, “ Surga terletak dibawah telapak kaki para ibu “oleh karena itu, kita harus berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu yang dinilai pengorbanan dan kasih sayangnya lebih besar ketimbang ayah.
F. Do’a Kepada Kedua Orang Tua.
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا. [ الا سراء : 24 ]
“ Ya Allah limpahkanlah rahmatmu kepada ibu bapakku sebagaimana mereka mengurus ketika aku masih kecil “
Banyak ayat Al Qur’an maupun Al-Hadits yang menerangkan bahwa berbuat baik kepada ibu bapak itu wajib. Bahkan, termasuk amal yang paling utama setelah beribadah dengan ikhlas kepada Allah SWT.
Allah SWT. berfirman :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ….
“ Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak mu dengan sebaik-baiknya….. ( Al Israa ( 17 ) : 23 ).
َاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا......
“ Beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kamu sekutukan dia dengan sesuatu apapun dan berbaktilah kepada ibu bapakmu… ( An-Nisa : 36 ).
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Pt. InterMasa, Jakarta.
Zakaria, Aceng. Terjemah Al-Hidayah III, tt.
Adz-Dzahabi, AL-KABAIR Galaksi Dosa, Darul Falah.
Bulughul Maram, CV. A. Hassan, Diponegoro Bandung, 1986.
Ust. H. Muhammad Rahmat Najieb, S.Pd , Percikan Do’a, PT Raja Grafindo PersadaJakarta.
Ust. H. Muhammad Rahmat Najieb, S.Pd, Ibumu, Ibumu... Bapakmu, Majalah Risalah, tt.
sumberhttp://blog.rizqisme.web.id/2010/02/berbakti-kepada-kedua-orang-tua.html

PONPES SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI

Sholawat_Badar-Puput_Novel-TOPGAN

Blogger templates

href="http://www.yayasangurungajiindonesia.com" ' rel='canonical'/>>

Adsendiri

Pasang Iklan Disini

adsend

Pasang Iklan Disini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls