Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2016

Visi Raras: Banyumas Cablaka untuk Keadilan Soial & Demokrasi

Raras Wuri Miswandaru..Visi Raras: Banyumas Cablaka untuk Keadilan Sosial dan Demokrasi

Visi Misi Raras Wuri Calon Bupati Banyumas Pembina Pemuda Pakarti YGNI Purwojati-Media CerdikGuru Ngaji
Visi Raras Calon Bupati: Banyumas Cablaka untu Keadilan Sosial & Demokrasi
Raras Wuri Miswandaru, SPdI, MPdI yang memiliki niat untuk maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Banyumas merupakan bentuk kepedulian Raras akan pembangunan Banyumas. Oleh karena itu Raras mempersiapkan segala sesuatunya untuk dapat mewujudkan hal tersebut. Hal pertama yang diperlukan oleh seorang pemimpin adalah memiliki visi jauh kedepan sebagai landasan pembangunan. Seorang pemimpin tidak memiliki visi yang jelas, apalagi visi tersebut dibuat oleh orang lain tim suksesnya misalnya maka hal sangat membahayakan bagi daerah tersbut maupun bagi dirina sendiri.

Raras Wuri Miswandaru, memiliki visi dalam pembangunan Kabupaten Banyumas adalah Banyumas Cablaka merupakan kependekan dari "Tercapainya Banyumas yang Citra baik, Agamis, Berbudaya, Layak Lingkungan dan Keadilan -Sosial.(CABLAKA)" Visi merupakan brand politik dan sosial bagi Simbah Wuri Miswandaru, sehingga apabila ada pihak lain yang meniru dianggap melanggar paten seseorang.
Visi Misi Raras Wuri Calon Bupati Banyumas Pembina Pemuda Pakarti YGNI Purwojati-Media CerdikGuru Ngaji
Calon Bupati dari Warga Purwojati Banyumas

Raras Wuri atau dikenal Simbah Wuri merupakan Ketua Yayasan Guru Ngaji Indonesia Kab. Banyumas dan Pimpinan dan Guru Ngaji Pondok Pesantren Shidiqiin Wara` YGNI Purwojati serta Rumah Piramida. Memiliki dan memegang teguh sifat CABLAKA dalam kehidupan sehari-hari artinya selalu memegang sifat (Shidiq/Jujur/apa adanya) kalau salah ya salah maka jangan perlu ditutup-tutupi walau itu keluarga sendiri. Cablaka memiliki arti yang sangat mendalam bagi budaya dan orang Banyumas (Wong Penginyongan).

Seandainya tidak didukungpun dalam mewujudkan visi tersebut lewat jalur politik maka akan diwujudkan dalam kehidupan sosial masyarakat yang selama ini telah diterapkan. Bagi dirinya untuk didukukung dalam tahap awal karena belum mengertina masyarakat itu sudah menjdai hal biasa. Dalam kehidupan sehari-hari langkah dan visinyauntuk memperbaiki lingkungan selalu mendapat pertentangan hal ini dianggap sudah menjadi bagian berdemokrasi.

Kehidupan yang berkeadilan sosial dan berdemokrasi Pancasila menjadi tujuan landasan pemikiran Raras Wuri dalam ikut membangun daerahnya menurut keahlian dan sumber daya yang ada. Sehingga untuk ikut membangun Kabupaten baik pemerintahan dan masyarakat tidak harus ikut duduk dalam Pemerintahan.

Untuk mempermudah tercapinya visi tersebut maka dibentuklah Rumah Piramida sebagai pusat kajian dan informasi mengenai Banyumas Cablaka.


Rabu, 01 April 2015

Pengertian Banyu Perwitasari

Pengertian Banyu Perwitasari 
Banyu Perwitasari berasal dari 3 kata yaitu :
Banyu    =  air
Perwita  =  Bersih
Sari        = inti
jadi Banyu perwitasari adalah air bersih yang paling inti. ini hanyalah sebuah istilah dan ungkapan dalam ilmu tasawuf jawa budaya jawa yang artinya air kehidupan. Kisah ini bisa dilihat dalam tokoh bima mencari banyu perwitasari tersebut. Kita ketahui bahwa wayang di jawa dengan yang dari India sangat berbeda ceritanya. wayang dijawa dibuat oleh para wali. Sehingga cerita wayang disesuaikan dengan dengan keislaman dan budaya jawa. Sehingga nusantara sukses menjadi negeri Islam yang paling terbesar karena jasa dan metode dakwah mereka.

Banyu  perwitasari dalam falsafah jawa tersebut orang yang menginginkan kebenaran sejati maka harus mengikuti metode bima dalam mencari banyu perwitasari tersebut. seperti inilah kisahnya:

Dari berbagai kisah Bima Suci yang bervariatif itu dapat ditemukan benang merahnya.
Alkisah, Bima atas perintah gurunya (Durno) mencari “Banyu Perwitasari”. Dalam perjalanan mencari air kehidupan, Bima menuju hutan Tibaksara (berarti landeping cipta) yang terletak di gunung ReksaMuka (yang artinya yang berda di muka). Di hutan ini Bima dihadang oleh dua raksasa Rukmuka (berarti kamukten) dan Rukmokala (yang berarti Kamulyan). Bima mampu mengalahkan ke dua raksasa itu.
Untuk menemukan air perwitasari, pendita Druna menyuruh Bima untuk pergi ke hutan Tebrasara yang terletak di lereng gunung Reksamuka. Dalam perjalanan menuju tempat itu, ada banyak godaan yang dilalui oleh Raden Bima. Ketika berada di hutan itu, ia diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat itu, Bima berhasil menyingkirkan dan membunuh keduanya.

Pencarian di hutan Tebrasara ini sangat sarat dengan makna. Tebrasara berasal dari kata tebra dan sara. Tebra berarti rasa prihatin, sementara sara berarti tajamnya pisau. Tebrasara merupakan sebuah lambang cita-cita untuk sampai kepada landeping cipta. Daya akal manusia harus benar-benar tajam. Ketajaman itu diraih dengan memelihara diri sendiri. Tidak mengherankan jika hutan itu digambarkan ada di gunung Reksamuka. Reksa berarti memelihara dan muka berarti wajah artinya memelihara nafsu yang berasal panca indera. 

Untuk memperoleh “inti sari pengetahuan sejati” (Perwitasari), Bima harus melalui samadi (yang dilambang dengan hutan Tebrarasa  dan gunung Reksomuka =Mata/pemahaman yang mendalam). Bima tidak bisa mencapai titik penyatuan mata batin dalam samadi kalau tidak ‘membunuh’ pikiran tentang kamukten dan kamulyan.
Kisah selanjutnya, Bima tahu bahwa air ‘perwitasari’ tidak terletak di hutan Tebrarasa yang ada di gunung Reksamuka, tetapi di dasar samudera. Maka perjalanan dilanjutkan ke dasar samudra (samudra pangaksama=pengampunan). Dalam samudra bertarung dengan naga (simbol kejahatan/keburukan) dan Bima berhasil membunuhnya.
Untuk memperoleh air perwitasari tidak cukup dengan membuang kamukten dan kamulyan tetapi harus juga berani mengampuni kepada orang-orang yang bersalah dan membunuh kejahatan yang ada dalam dirinya (masuk samudra pengampunan dan membunuh naga kejahatan).
Setelah melampaui berbagai rintangan, akhirnya Bima ketemu Dewaruci, yang persis dengan dirinya namun dalam ukuran kecil. Bima masuk ke badan Dewaruci melalui telinga kanan dan di dalam diri Dewaruci, Bima melihat seluruh isi semesta alam.
Bima dengan samadi secara benar : menutup mata, mengatur nafas, konsentrasi dengan pikiran dan perasaan yang bersih (Cipta Hening). Dalam samadi ini, Bima menerima Terang atau wahyu sejati dalam samadi: “manunggaling kawula gusti”, kesatuan manusia dengan Tuhan. Dalam jati diri terdalam, manusia bersatu dengan Tuhan. Kemanunggalan ini yang menjadikan manusia mampu melihat hidup yang sejati. Dalam istilah kejawen: Mati sakjroning urip, urip sakjroning mati. Inilah perjalanan rohani untuk masuk dalam “samudera menanging kalbu”.
Kisah ini mengandung maksud bahwa orang yang menginginkan ilmu sejati sebagai makhluk tuhan itu harus bisa mengendalikan hawa dan nafsunya. dengan proses mempelajari dan melaksanakan Islam secara sebenarnya bukan hanya kulit tapi isinya juga. Syariat sholat adalah beirisi gerakan dan bacaaan tertentu yang diperintahkan. tetapi hakikatnya adalah bentuk pengabdian dan penyerahan totalitas kepada aturan dan perintah allah.
Orang yang menginginkan banyu perwitasari maka harus melalui tahapan tahap diantaranya:
  1. Bertaubat dengan sebenarnya ( melalui samudra pangaksama = ampunan)
  2. Mengendalikan fikiran secera jerni ( melalui hutan Tikbrasara)
  3. mengndalikan nafsu aal panca indera ( Teksamuka = menjaga yang ada dimuka, mata, telinga, mulut dan hidung dari hal-hal buruk)
  4. Memahami ajaran fiqih benar
  5. Mengendalikan nafsu yang menginginkan kekayaan dan kedudukan dengan secara berlebihan.


Banyu perwita sari juga dapat ditemui dalam Islam walau tidak sama persis tetapi inti ajarannya adalah sama , ada dikisahkna dalam Nabi Musa belajar ilmu kepada Nabi Khidir. Nabi musa ditolak ioleh nabi khidir sebagai murid karena tidak akan sabar dalam menuntut ilmu kepada nabi khidir. Nabi khidir protes bagaimana bisa tahu kalau belum menjdai muridnya. Akhirnya tetap diterima oleh nabi Khidir namun tetap tidak lulus jadi murid karena tidak sabar dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Nabi Khidir.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pengertian Studi Kultural-Culture Study-Kajian Budaya

Kajian budaya atau Studi Kultural (Culture Study) adalah bidang akademik yang didasarkan pada teori kritis dan kritik sastra. Karakteristik interdisipliner, studi budaya menyediakan jaringan refleksif intelektual mencoba untuk menempatkan pasukan membangun kehidupan kita sehari-hari. Ini menyangkut dinamika politik budaya kontemporer, serta yayasan sejarahnya, konflik, dan sifat-sifat yang menentukan. Hal ini dibedakan dari antropologi budaya dan studi etnis di kedua tujuan dan metodologi. Para peneliti berkonsentrasi pada bagaimana media tertentu atau messagerelates ideologi, kelas sosial, kebangsaan, etnis, seksualitas dan / atau gender, bukannya menyelidiki suatu budaya tertentu atau wilayah dunia. [1]
Cultural studies pendekatan holistik mata pelajaran, menggabungkan teori feminis, teori sosial, teori politik, sejarah, filsafat, teori sastra, teori media, kajian film / video, studi komunikasi, ekonomi politik, studi terjemahan, studi museum sejarah dan seni / kritik untuk mempelajari budaya fenomena di berbagai masyarakat. Dengan demikian, kajian budaya berusaha untuk memahami cara-cara di mana makna dihasilkan, disebarluaskan, dan diproduksi melalui berbagai, kepercayaan praktek dan lembaga. Juga politik, ekonomi dan bahkan struktur sosial dalam budaya tertentu.
Sejarah

Istilah ini diciptakan oleh Richard Hoggart pada tahun 1964 ketika ia mendirikan Pusat Studi Budaya Birmingham Kontemporer atau CCCS [rujukan?]. Sejak itu menjadi sangat terkait dengan Stuart Hall, yang berhasil Hoggart sebagai Direktur.
Dari tahun 1970, merintis kerja Stuart Hall, bersama dengan rekan-rekannya Paul Willis, Dick Hebdige, Tony Jefferson, Michael Green dan Angela McRobbie, menciptakan sebuah gerakan intelektual internasional. Banyak budaya studi sarjana dipekerjakan Marxistmethods analisis, mengeksplorasi hubungan antara bentuk-bentuk budaya (suprastruktur) dan bahwa dari ekonomi politik (dasar). Pada 1970-an, kelas politik tangguh bekerja British berada di penurunan. Inggris industri manufaktur yang memudar dan serikat gulungan yang menyusut. Namun jutaan warga Inggris kelas pekerja mendukung munculnya Margaret Thatcher. Untuk Stuart Hall dan teori Marxis lainnya, ini pergeseran loyalitas dari Partai Buruh ke Partai Konservatif adalah bertentangan dengan kepentingan kelas pekerja dan harus dijelaskan dalam hal politik budaya.


Dalam rangka untuk memahami situasi politik yang berubah kelas, politik dan budaya di Inggris, ulama di CCCS beralih ke karya Antonio Gramsci, seorang pemikir Italia tahun 1920-an dan 30-an. Gramsci telah peduli dengan masalah yang sama: mengapa buruh Italia dan petani memilih fasis? Dengan kata lain, mengapa orang yang bekerja memilih untuk memberikan kontrol yang lebih kepada perusahaan dan melihat hak-hak mereka sendiri dan kebebasan dibatalkan? Gramsci dimodifikasi klasik Marxisme dalam melihat budaya sebagai instrumen kunci kontrol politik dan sosial. Dalam pandangan ini, kapitalis digunakan tidak hanya kekerasan (polisi, penjara, represi, militer) untuk mempertahankan kontrol, tetapi juga merambah budaya sehari-hari orang yang bekerja. Dengan demikian, rubrik kunci untuk Gramsci dan untuk studi budaya adalah bahwa hegemoni budaya.




Menurut Stuart Hall representasi merupakan media penyampaian pesan, berekspresi dan mengkomunikasikan ide, konsep atau perasaan kita, yang kesemuanya merupakan transmisi penyampai makna ( Stuart Hall, 1997:4-5). Berangkat dari paradigma postrukturalisme dan teori postkolonial ,pendekatan cultural studies memposisikan pengetahuan bukan sebagai suatu kebenaran obyektif, melainkan sebagai suatu produk kita mengkategorisasikan dunia melalui pengertian yang dibangun secara diskursif ( Kristeva, 1986). Postrukturalis, dalam pandangan Michel Foucault melihat pengetahuan lahir dari suatu proses diskursif.
Michel Foucault
Michel Foucault
Menurut Foucault, pengetahuan berkenaan pula dengan relasi kekuasaan, seperti yang dikatakannya : “ Power produces knowledge, in the sense that what is considered ‘true’, knowledge about a topic is constructed through discourse. It is discursive knowledge which has the power to make itself true” ( Stuart Hall, 1997: 49). Jadi, dalam pengertian ini, kekuasan telah menciptakan pengetahuan mengenai apa yang kita anggap sebagai suatu “kebenaran”, pengetahuan dikonstruksikan melalui wacana yang kemudian secara diskursif telah menciptakan kekuasan untuk menjadikannya sebagai kebenaran. Foucault kemudian melanjutkan analisisnya mengenai relasi antara pengetahuan dan kekuasaan sebagai berikut : “ Knowledge produced by discourse is a kind of power because ‘those who known in a particular way will be subject (i.e. subjected) to it “ ( Stuart Hall, 1997 : 295). Konstruksi sosial dalam pandangan postrukturalis menurut Foucault ini telah memberi pengaruh yang besar dalam analisis konteks  yang secara spesifik melatarbelakangi suatu wacana dan terutama relasi yang dinamis antara pengetahuan dan kekuasaan. Pengetahuan bukan hanya diciptakaan melalui relasi kekuasaan tetapi juga melahirkan bentuk kekuasaan baru.
Sementara itu, melanjutkan analisis konstruksi sosial postrukturalis, teori postkolonial membahas bagaimana wacana memeroleh kekuasaan dan menggunakannya sebagai alat. Stuart Hall membedakan setidaknya ada tiga fungsi kekuasaan yang telah mencipakan relasi tentang keberbedaan ( differences). Pertama, kekuasaan sebagai cara untuk mengkategorikan masyarakat ke dalam kategori dikotomis seperti “ western non western”. “developed third world”, “civilised-uncivilised”; Kedua, kekuasaan sebagai cara membandingkan kedua kondisi dikotomis tersebut; Ketiga, sebagai framework atau bingkai untuk mengorganisasikan relasi kekuasaan dan menentukan bagaimana kita berpikir serta berbicara.
Homi K Bhabha
Homi K Bhabha
Stuart Hall memang dianggap oleh banyak kalangan sebagai salah satu tokoh intelektual yang amat mewarnai perkembangan cultural studies, cara pandangnya banyak dipengaruhi oleh pemikiran intelektual postrukturalis seperti Edward Said, Homi Bhabha dan Gayatri Spivak. Berdasarkan karya Edward Said, “Orientalism”, dunia direpresentasikan secara polaris sehingga menciptakan kategori “ the others” atau mereka yang lain, yang berbeda  dan karenanya juga menciptakan pembedaan antara “ mereka” dan “kita”. Karya Said sendiri memamg mengundang banyak polemik dikarenakan thesis-nya yang mengatakan bahwa “ Timur”telah menjadi subyek yang pasif bagi proyek modernitas “Barat”.
Edward Said
Edward Said
Studi Said ini dibangun melalui studi interpretatif terhadap karya kesustraan “Barat “ (Western) yang memfokuskan setting narasinya pada konteks Asia (Orientalism). Edward Said ( lewat studi atas novel-novel Barat yang dihasilkan antara lain oleh Flaubert, Austen, Conrad, de Nerval ) menggagas teori mengenai Orientalisme dengan asumsi bahwa ada kaitan erat antara imperialisme Barat dengan unsur-unsur yang didukung oleh kebudayaan Barat. Melalui analisis Foucauldian tentang relasi kekuasaan, Said ( 1995) mencoba memetakan bagaimana “Timur” telah menjadi subyek yang pasif bagi proyek imperialisme Barat, di mana kehendak untuk menguasai ( dominasi) dijalankan secara manipulatif bahkan seringkali melalui proses inkorporasi secara laten dimiliki oleh kelompok  sub-ordinan ( Timur). Thesis Said mengenai Orientalisme ini dianggap terlalu berlebih-lebihan dalam memposisikan ”Timur” sebagai proyek pasif yang sama sekali tidak  memiliki ruang ataupun bentuk-bentuk artikulasi dalam melakukan perlawanan terhadap dominasi peradaban Barat, meski begitu setidaknya Said telah membuka cakrawala baru mengenai  “ bagaimana kita mengkategorisasikan dunia melalui pengalaman kita melihat dunia “.
Gayatri Spivak
Gayatri Spivak
Homi Bhabha dan Gayatri Spivak, kemudian mengembangkan gagasan mengenai studi pasca kolonial dengan fokus studi representasi, yakni apa yang kini dihadirkan sebagai bagian dari wajah dunia. Bhabha menekankan bahwa, apa yang dihadirkan saat ini di dunia merupakan perwujudan representasi dari budaya hybrid (cultural hybrids). Hybridity mendeskripsikan bagaimana wacana mengenai kolonial dan imperial secara inheren bersifat tidak stabil bahkan “split”, sehingga setiap praktek dari dominasi, bahasa menjadi wujud dari hybridity itu sendiri ( Bhabha, 1994). Analisis Bhabha ini didasari oleh studinya mengenai stereotype kolonial di mana dalam konteks persebaran otoritas imperial, misalnya stereotype kekejaman kebangsawanan (the nobel savage) dan kecurangan timur (the wily oriental) dikonstruksikan sebagai suatu “ sifat yang alamiah “ dan konstruksi ini dikonfirmasikan terus-menerus oleh para kolonialis (colonialiser). Dalam penjelasan yang lain, Bhabha menggambarkan stereotype tersebut seringkali bersifat kontradiktif, di mana subyek kolonial ( colonial subject) yang “kejam” digambarkan sebagai “ para abdi yang patuh dan taat” ( karena mereka adalah the bearer of food), mereka seringkali berjiwa mistis dan berfikir secara primitif sehingga karenanya adalah subyek yang tidak berdosa (innocent).
Ambivalensi relasi yang dilahirkan dalam konteks kolonialisme ini melahirkan struktur agensi baru sebagaimana yang ditegaskan oleh Spivak sebagai suatu transformasi yang memungkinkan kondisi dari suatu yang mustahil menjadi niscaya ( the transformation of condition of impossibility into possibility). Suatu gambaran menarik mengenai bagaimana suatu kondisi yang mustahil menjadi suatu yang mungkin terjadi diilustrasikan oleh Bhabha dalam interpretasinya terhadap sekelompok orang-orang desa di luar kota Delhi pada tahun 1817. Para penduduk desa bertahan pada tradisi vegetarian meskipun mereka telah masuk Kristen, dikarenakan argumen bahwa mereka hanya layak menerima sakramen apabila mereka beriman pada hari akhir ( evangelical utterance) dan mereka yang beriman bukan muncul dari sekelompok orang pemakan daging (Bhabha, Sign Taken for Wonders, 1994:102). Bhabha menggambarkan situasi ini sebagai suatu perlawanan yang luar biasa, karena ketika penduduk lokal (native) menginginkan Gospel yang bersifat lokal ( an Indianised Gospel), mereka menggunakan unsur hibridity sebagai cara mempertahankan kekristenan mereka; yang ini diartikan sebagai suatu transformasi dari bentuk konversi yang mustahil menjadi niscaya. Dari konteks ini teori mengenai hibridity dipahami bukan hanya sebagai suatu peralihan dua wujud yanh menjadi suatu wujud baru, melainkan juga melahirkan bentuk-bentuk resistensi yang baru dan juga bentuk-bentuk negosiasi baru ( Spivak, sebagaimana yang dikutip dalam Bart Moore Gilbert, 1997). Melalui struktur agensi baru ini, relasi kekuasaan tidak lagi dikacamatai sebagai bentuk hegemoni lama di mana unsur budaya dominan secara represif memaksakan pengaruhnya secara total terhadap unsur budaya subordinan, karena relasi kekuasaan didalamnya bersifat dinamis sehingga kompetisi antara unsur-unsur kebudayaan memusatahilkan absolutisme dalam praktek kebudayaan.
Ambilavensi relasi dalam konteks postkolonialisme juga melahirkan bentuk-bentuk wacana mengenai “perbedaan” sebagai suatu medan bagi perjuangan identitas (a field of identity struggle). Perspektif postkolonial secara metodologis telah memungkinkan (enabling ) dikotomi kategori orientalis mengenai “majikan-budak (master-slaves), penjajah-yang dijajah (coloniser-colonised), kulit hitam-putih (white-black), mereka yang beradab-tidak beradab (civilsed-uncivilsed)” Kategori “ the other” yakni mereka yang marginal secara artikulatif merupakan fokus bagi analisis kritis ketika konteks modernitas lebih dimaknai sebagai wilayah pertentanagan bagi eksistensi kelompok marginal ( subaltern group). Spivak menggambarkan “subaltern group” sebagai orang-orang biasa yang jauh dari pusaran pertentangan wacana. Kepentingan artikulatif mereka senantiasa dimediasi dan diartikulasikan oleh kelompok-kelompok lain yang lebih dominan misalnya, kalangan intelektual (akademisi ), politisi, para administrator dan isntitusi lain (Spivak, Can the Subaltern speak?, 1988). Dalam studinya mengenai “disenfrancised women” ( Kaum wanita yang kehilangan suara/haknya) Spivak mengilustrasikan bahwa dalam sekelompok perempuan India “Sati”( yakni para janda yang mengorbankan dirinya melalui kematian/bunuh diri), seringkali diam dan tidak berdaya, tidak lain karena suara mereka tidak pernah diberdayakan. Dari situ, ada suatu mata rantai yang hilang ketika kepentingan artikulasi seringkali terdistorsi dan bahkan lenyap dari wacana dominan karena tergantikan oleh media artikulasi lain ( intelektual, institusi patriarkhis, administrator, politisi dan lain-lain) yang memiliki kepentingan kekuasaan terhadap kompetisi wacana dominan. Studi Spivak inilah yang kemudian menginisiasi wacana mengenai kritik postkolonial untuk “merekam suara mereka yang diam” ( to record the silence) sehingga “perbedaan”   (differences) memiliki ruang artikulasi bukan hanya untuk dipahami tetapi juga untuk diakui, pada konteks inilah perjuangan bagi identitas dimunculkan.

Lash Scott menulis:Dalam karya Hall, Hebdige dan McRobbie, budaya populer datang kedepan ... Apa yang Gramsci memberikan ini adalah pentingnya persetujuan dan budaya. Jika Marxis mendasar melihat kekuatan dalam hal kelas-kelas versus-, maka Gramsci memberikan kepada kita soal aliansi kelas. Munculnya kajian budaya itu sendiri didasarkan pada penurunan keunggulan mendasar kelas-versus-kelas politik [2].
Edgar dan Sedgwick menulis:
Teori hegemoni adalah penting pusat untuk pengembangan kajian budaya Inggris [khususnya CCCS]. Ini memfasilitasi analisis dari cara di mana kelompok subordinat aktif melawan dan menanggapi dominasi politik dan ekonomi. Kelompok-kelompok bawahan yang dibutuhkan tidak perlu dipandang sebagai dupes pasif dari kelas dominan dan ideologi. [3]
Ini garis pemikiran membuka lembaga kerja berbuah menjelajahi, pandangan teoritis yang dimasukkan kembali, kapasitas aktif kritis terhadap semua orang. [Rujukan?] Pengertian badan telah dilengkapi banyak penekanan ilmiah tentang kelompok orang (misalnya kelas pekerja, primitif, terjajah masyarakat, perempuan) yang politik kesadaran dan ruang lingkup aksi pada umumnya terbatas pada posisi mereka dalam struktur ekonomi dan politik tertentu. [rujukan?] [riset asli?] Dengan kata lain, banyak ekonom, sosiolog, ilmuwan politik dan sejarawan secara tradisional gagal mengakui bahwa orang-orang biasa memang berperan dalam membentuk dunia mereka atau outlook. Meskipun antropolog sejak 1960-an telah dilatardepankan kekuatan agen untuk struktur kontes, pertama dalam karya transactionalists seperti Fredrik Barth dan kemudian dalam karya terinspirasi oleh teori resistensi dan pasca-kolonial teori. [Rujukan?] [Riset asli?]
Pada kali, asmara cultural studies 'dengan gagasan badan hampir mengecualikan kemungkinan penindasan, mengabaikan fakta bahwa subaltern memiliki politik mereka sendiri, dan romanticizes lembaga, melebih-lebihkan potensi dan kegunaan. [Rujukan?] [Riset asli?] Populer pada 1990-an, banyak budaya studi sarjana menemukan cara-cara kreatif konsumen menggunakan dan menghancurkan komoditas dan ideologi yang dominan. [rujukan?] Orientasi ini telah datang di bawah api untuk berbagai alasan. [rujukan?]
Kajian budaya kekhawatiran itu sendiri dengan makna dan praktek kehidupan sehari-hari. Praktek-praktek budaya terdiri dari cara orang melakukan hal-hal tertentu, seperti menonton televisi atau makan di luar, dalam budaya tertentu. Dalam setiap praktek yang diberikan, orang menggunakan berbagai objek (asiPods atau salib). Oleh karena itu, bidang ini mempelajari makna dan menggunakan atribut masyarakat untuk berbagai benda dan praktek. Baru-baru ini, ascapitalism telah menyebar ke seluruh dunia (suatu proses yang berhubungan dengan globalisasi), studi budaya telah mulai menganalisis bentuk-bentuk lokal dan global perlawanan terhadap hegemoni Barat. [Rujukan?]
Pergerakan menuju globalisasi di dunia kita berfungsi sebagai alasan penting untuk memeriksa Cultural Studies. Menurut Richard Longworth, penulis "Tertangkap di Tengah: Heartland Amerika di Era Globalisasi," itu baru saja dimulai. Kita sekarang dalam tahap re-penemuan bukannya industrialisasi. Dalam 20 tahun terakhir, teknologi komunikasi telah membuat ini mungkin dan telah bergerak sangat cepat [4]. Karena kita meningkat di seluruh dunia komunikasi, globalisasi memiliki efek besar pada bagaimana kita melihat Cultural Studies karena kita terus-menerus terkena ideologi media massa. Selain itu, kebudayaan manusia itu sendiri menjadi lebih bersatu sebagai akibat dari globalisasi. Misalnya, Stuart Hall telah berupaya untuk menggabungkan daerah topik banyak studi, seperti hubungan interpersonal dan pengaruh dari media. Dia percaya kita harus mempelajari suasana pemersatu di mana mereka semua terjadi dan dari mana mereka berasal-kebudayaan manusia [5] ini budaya manusia mulai menjadi lebih dan lebih bersatu sendiri karena globalisasi dan karena itu dapat diperiksa lebih lanjut melalui Cultural Studies. .

Selasa, 22 April 2014

Garap Sawah Sendiri Ogah #Generasiburuh OK

SimbahWuri. Generasi Muda Indonesia sekarang sudah mengikuti strategi barat yaitu agar generasinya hanya mencari pekerjaan bukan membuat pekerjaan sendiri, hal ini memang keinginan barat agar Indonesia tidak bisa maju dan berkembang dan terus menjadi kacung asing. Apa yang tidak ada di Indonesia ?
Indonesia mempunyai bonus demografi, sumber daya alam, teknologi dan politik yang bagus tapi kenapa generasi kita sangat senang mencari pekerjaan ?


Hal ini tentunya tidak bisa disalahkan kepada generasinya karena banyal faktor yang menyebabkannya diantaranya adalah :

  1. Kurikulum pendidikan yang sudah diset  ikut kemauan asing
  2. Pemerintahan yang tidak memperhatikan bidang pertanian secara serius
  3. Lahan pertanian yang dikuasai konglomerat melebihi batas.
  4. Tidak adanya insntif buat generasi muda yang mau mengerjakan pertanian, perikanan, perkebunan dan lainnya.dll
Padahal buruh Indonesia dihargai sangat murah dibanding dengan negara-negara lain. kita tidak merasa dijajah oleh asing dengan menjilat dan menjadi kacung bangsa asing. sangat ironi sekali melihat prinsip hidup generasi muda bangsa Indonesia. Mau kemana bangsa ini, apakah seluruh kekayaan dan tanah kita dijual keasing?

Masih sangat banyak kesempatan yang bisa diraih dengan tidak meninggalkan desa kampung halaman untuk berjuang membangun ussaha ddan wilayahnya, harus kita akui bahwa generasi kita adalah generasi malas yang hanya mau menjadi kacung bukan bagaimana menjadi tuan dinegeri sendiri.

Anak lulusan SMA atau SMK akan bangga telah menjadi buruh yang digaji pas-pasan waktu kerjanya siang malam ridak dihargai, alangkah bodohnya kita kalau perilaku seperti ini akan diwariskan ke anak cucu kita. 
Jangan mau jadi #GenerasiBuruh tapi #GenerasiUsahawan .. Tolak Pemimpin yang akan menjadi kacung asing atau konglomerat penghisap kekayaan rakyat

Minggu, 19 Januari 2014

Contoh Pantun Jenaka Lama Dan Terbaru

Oh bulan kemana bintang
Atas pucuk kayu ara
Oh tuan kemana hilang
Dalam bilik anak dara

Atas pucuk kayu ara
Lebat daunnya pokoknya rindang
Hilang kedalam bilik nak dara
Cuma meminta rokok sebatang

Ambil segulung rotan saga
Sudah diambil mari diurut
Duduk termenung harimau tua
Melihat kambing mencabut janggut

Sudah diambil mari diurut
Diurut dibawah pokok sena
Melihat kambing mencabut janggut
Gajah pula mengorek telinga

Ambilkan bilah pokok sena
Jadikan lata tempat berhandai
Andaikan gajah korek telinga
Giliran buaya hajat berinai

Buah mangga buah kedongdong
buah nanas buah apel
buah manggis buah duren
itulah nama" buah buahan.

Jalan jalan ke kota Sumedang
Ada kambung makan rumput
Anak Anak pada senang
Melihat banci bergoyang dangdut

Masak air biar mateng
Sambil nunggu cuci sepeda 
Eh lo jangan sok ganteng
Muka lo kaya ketek kera


kalau kamu mencari berita
jangan baca berita basi
Kalau kamu mencari cinta
Jangan cari cinta yang imitasi


buka facebook
harus pakai kata sandi
kamu bau ketek
karena gak mandi

Pergi ke pasar naik onta
Membeli anting intan permata
Gak peduli situ udah tua
Yang penting saling mencinta

Buat apa panen kelapa
Kalau belum tumbuh tunas
Buat apa membeli vespa
Cicilan kompor saja belum lunas

Selasa, 24 September 2013

KAMUS BASA JAWA – INDONESIA


KAMUS BASA JAWA – INDONESIA


Katrangan  (Keterangan)
(ta) tembunga aran = kata benda
(tg) tembung ganti = kata ganti
(tk) tembung kriya = kata kerja
(tkr) tembung katrangan = kata keadaan
(tpw) tembung panguwuh = kata seru
(tpr) tembung pangarep = kata depan
(tpy) tembung panyambung = kata sambung
(ts) tembung sipat = kata sifat
(tsd) tembung sandhangan = kata sandang
(tw) tembung wilangan = kata bilangan
A
abab (ta)        hawa mulut
abang (ts)        merah
aba-aba (ta)        aba-aba
abar (tk)        menguap (zat cair)
abuh (ts)        bengkak
abrit ; abrit (ts)        merah
abyor (ts)        bertebaran memenuhi (mis. bintang bertebaran memenuhi langit)
acung (tk)        menunjuk ke atas/ unjuk jari
ada-ada (ta)        inisiatif
adang (tk)        menanak nasi
adas (ta)        nama tanaman
adi (ts)        bernilai tinggi; mempunyai kelebihan
adil (ts)        adil
adhang (tk)        menunggu di tempat yang akan dilewati
adhem (ts)        dingin
adhep (tk)        hadap
adhi (ta)        adik
adoh (tkr)        jauh
adol (tk)        menjual
adu (tk)        adu
adus (tk)        mandi
agama (ta)        besar; agung
agul-agul (ta)        andalan; jagoan
agung (ta)        api
agem (tk)        pakai
ageman (ta)        pakaian
ageng (ts)        besar
agni (ta)        api
aja (tpw)        jangan
ajag (ta)        anjing hutan
ajak (ts)        ajak
ajang (ta)        wadah
ajar (tk)        ajar, belajar
ajeg (tkr)        tetap
ajeng (tsb)        akan
aji (ta)        nilai; harga
ajur (ts)        hancur
akas (tkr)        alon
akas (ts)        perai, keras (untuk nasi)
ala (ts)        buruk
alangan (ta)        halangan
alas (ta)        hutan
alem (tk)        puji
aleman (ts)        manja
alesan (ta)        alasan
aling-aling (tk)        bersembunyi di balik
alis (ta)        alis
alok (tk)        berkata
alu (ta)        antan
alum (ts)        layu
alun-alun (ta)        lapangan di tengah kota
alus (ts)        halus
aluwung (tpb)        lebih baik
ama (ta)        hama
aman (ts)        aman
amarga (tpy)        karena
amargi; amargi (tpy)        karena
amba (ts)        lebar/luas
ambah (tk)        jejak/jelajah/datangi
ambal (tk)        ulang
ambar (tk)        tersebar (untuk bau harum)
ambeg (ts)        berwatak
ambèn (ta)        balai-balai
ambèr (tkr)        meluap (air)
ambet; ambet (ta)        bau
amblas (tk)        lenyap seketika
ables (tk)        melesak
ambrol (tk)        runtuh
ambruk (tk)        tumbang/roboh
ambu (ta)        bau
ambung (tk)        cium
ambus (tk)        endus
mbyar (tk)        berserakan
ambyuk (tk)        menjatuhkan diri
ambyur (tk)        mencemplungkan diri ke dalam air
amèk (tk)        mencari
amem (ts)        melempem
amem (ts)        sunyi
amis (ts)        anyir
ampas (ta)        ampas
ampek (tkr)        sulit bernafas; sesak (untuk dada)
ampil; ampil (tk)        pinjam
ampak-ampak (ta)        kepulan debu
amping-amping (tk) berlindung di balik sesuatu
ampo (ta)        nama jajanan terbuat dari tanah jenis tertentu
amrih (tpy)        agar, supaya
anak (ta)        anak
anda (ta)        tangga
andaka (ta)        banteng
andika (tg)        anda
ancang-ancang (ta) persiapan, mengambil kuda-kuda
ancas (ta)        tujuan
ancur (ta)        air raksa
ancik (tk)        menginjak
ancer-ancer (ta)        prakiraan; ancar-ancar
andhap (ta)        bagian bawah/rendah
andhang (ta)        tangga kayu berkaki empat
andheng-andheng (ta) tahi lalat
andhong (ta)        sejenis kereta kuda
andum (tk)        berbagi
angen-angen (ta)        pemikiran/ingatan
anget (ts)        hangat
angga (ta)        tubuh
anggak (ts)        sombong
anggara (tg)        selasa
anggarbini (tk, ts)        hamil
anggep (tk)        anggap
angger (tsb)        asalkan
angger-angger (ta)        peraturan
anggur (ta)        anggur
anggon (tk)        tempat
angin (ta)        angin
angin-angin (tk)        mencari udara
angkah (ta)        maksud
angkara (ta)        angkara
angker (ts)        angker
angler (tkr)        nyenyak
angluh (tkr)        dengan penuh rasa tidak berdaya mengahadapi situasi yang ada
angon (tk)        mengembala
angop (tk)        menguap
angsal (tk)        dapat
angslé (ta)        nama minuman
angslup (tk)        tenggelam
angur (tsb)        masih lebih baik
angus (ta)        angus
anjlok (tk)        turun tiba-tiba
anjok (tpr)        tiba di
anèh (ts, tkr)          aneh
anèm (ts)          muda
anom (ts)          muda
antawecana (ta)       Penggambaran sinopsis cerita, adegan, tokoh pagelaran wayangyang
disampaikan oleh dalang dengan cara dilagukan
antem (tk)        pukul/hantam
anteng (tk,ts)        tenang
antop (tk)        bersendawa
antuk (tk)        dapat
anyang (tk)        tawar (harga)
anyang-anyangen (ts)        merasa seperti ingin kencing
anyar (ts)        baru
anyel (ts)        jengkel
anyep (ts)        tawar
anyep (ts)        dingin (tubuh atau bagian tubuh)
anyes (ts)        dingin (benda)
apa (tg)       apa
apal (ts))        hafal
apem (ta)        apam
apes (tk)        sial
apek (ts)        bau tidak sedap yang berasal dari barang usang atau kamar yang lama
tertutup
api-api (tk)       pura-pura
apik (ts)        baik
apu (ta)        kapur sirih;
apura (ta)        maaf
apus (ta)        sejenis bambu
apus (tk)        bohong
ara-ara (ta)        padang
arah (ta)        arah
aran (ta)        nama
arang (tkr)        jarang
arang-arang (ts)        jarang
aren (ta)        enau
areng (ta)        arang
arep (tsb)        hendak
arga (ta)        gunung
ari (tg)        adik
ari-ari (ta)        tali pusat
aris (tkr)        lugas
arit (ta)        sabit
arsa (tkr)        akan ; depan
arta (ta)        uang
aruh-aruh (tk)        menyapa
arus (ts)        anyir
arwah (ta)        arwah
asal (ta)        asal
asat (ts)        habis airnya (untuk sungai, danau, dsb.)
asah (tk)        asah
asih (ta)        kasih
asin (ts)        asin
asrep; asrep (ts)        dingin
asma (ta)        nama
asmara (ta)        asmara
asmarandana (tg)        nama metrum macapat
asor (ts)        nista
asor (tkr)        kalah
asrep; asrep (ts)        dingin
asri (ts)        menyenangkan untuk dipandang
asta (ta)        tangan
asta (tk)        bawa
asu (ta)        anjing
asung (tk)        menghaturkan
asem (ta)        asam (buah)
ati (ta)        hati
ati-ati (tkr)        hati-hati
atis (ts)        dingin (untuk hawa, udara)
atos (ts)        keras
atur (tk)        atur
aturi (tk)        beri; persilakan
atus (ts)        tidak lagi mengandung air
awak (ta)       badan, tubuh
awan (ta, tk)        siang
awang (tk)        berhitung tanpa alat bantu
awang-awang (ta)        langit bebas
awas (ts)        tajam (pengelihatan)
awas (tpw)        awas
awèh (tk)        beri
awèt (ts)        tidak cepat rusak
awit (tpy)        karena
awis ; awis (tkr)        mahal
awis-awis; awis-awis (ts) jarang
awoh (tk)        berbuah
awon awon (ts)        jelek/buruk
awor (tk, tkt)        bercampur dengan
awrat (tk)        berat
awu (ta)        abu
awur (tk)        sebar
awur (tk, tkt)        asal-asalan
awut (tk)        membuat berantakan
ayahan (ta)        kewajiban
ayam; ayam (ta)        ayam
ayem (ts)        tentram (hati)
ayo (tpw)        ayo
ayom (tk)        perlindungan
ayu (ts)        cantik
aywa (tpw)        jangan

B

bab (ta)        bab, hal, mengenai
babad (ta)        cerita sejarah
babagan (tsb)        tentang
babak-bundhas (ts) babak-belur
babal (ta)        putik buah nangka
babar (ts)        menjadi banyak
babaran (tk)        bersalin
babat (ta)        bagian dalam usus sapi
babat (tk)        tebang
babit (tk)        mengayunkan benda dengan menahan ujungnya
babon (ta)        induk ayam
babu (ta)        perempuan pembantu
babut (ta)        permadani
bacem (tk)        peram; dimasak dengan bumbu tertentu
bacin (ts)        bau bangkai
bacut (tk)        lanjut
badan (ta)        diri
badhé (tk)        tebak
badhé; badhe (tsb)        akan
badheg (ts)        bau busuk
badhèk (ta)        air tapai
badhug (ta)        tembok rendah untuk meletakkan sesuatu
bagaskara (ta)        matahari
bagus (ts)        tampan
bahu (ta)        100 m2
bahu (ta)        bahu; tenaga
bahureksa (ta)        penguasa
bajang (ts)        kerdil
bajing (ta)        tupai
bajul (ta)        buaya
bakal (ta)        bahan pakaian
bakal (tsb)        akan
bakar (tk)        bakar
bakda (tkr)        setelah
bakul (ta)        pedagang
balang (tk)        lempar
balé (ta)        rumah/bangunan
balèn (tk)        rujuk
bali (tk)        pulang
balung (ta)        tulang
banaspati (ta)        hantu berbentuk api
bandar (ta)        agen besar, cukong
bandar (ta)        pelabuhan
bandhul (ta)        bandul
banger (ts)        bau busuk (misalnya dari air keruh)
banget (tkr)        sangat
bangga (tk)        meronta
bangir (ts)        mancung
bangka (tk)        mati (kasar)
bangké (ta)        bangkai
bangkèkan (ta)        pinggang
bangkèlan (ta)        buntalan besar
bangku (ta)        bangku
bangsa (ta)        bangsa
banda (tk)        mengikat kedua tangan ke belakang
bandayuda (tk)        berperang
bandan (ta)       tawanan
bandha (ta)       harta
banon (ta)        batu bata
bantah (ta)        bantah
bantal (ta)        bantal
bantala (ta)        tanah
banting (tk)        banting
banyak (ts)        angsa
banyu (ta)        air
bapa (tg)        bapa/ayah
bapang (ta)        parit/ genangan air
bar (tkr)        selesai
barang (ta)        barang
barang (ta)        pertunjukan kesenian berkeliling
barat (ta)        angin
barep (ts)        sulung
barès (ts)        terus terang
baris (tk)        baris
baruna (tg)        dewa lautan
barung (ts)        besar; utama
baskara (ta)        matahari
bata (ta)        bata
batang (tk)        tebak
bathang (ta)        bangkai
bathara (tsd)        sebutan untuk dewa
bathari (tsd)        sebutan untuk dewi
bathok (ta)        tempurung
bathuk (ta)        dahi
bathi (ta)        keuntungan
batih (ta)        keluarga
baut (ts)        pintar; trampil
bawa (ta)        pembukaan gending
bawang (ta)        bawang
bawang lanang (ta)        bawang berumbi tunggal
bawèl (ts)        nyinyir
bawéra (ts)        subur (untuk lahan)
baya (ta)        buaya
bayan (ta)        petugas keamanan desa
bayar (tk)        bayar
bayem (ta)        bayam
bayèn (tk)        melahirkan
bayi (ta)        bayi
bayu (ta)        angin
bebana (ta)        permintaan sebagai syarat
bebandan (ta)        tawanan
bebasan (tsb)        seperti; layaknya
bebaya (ta)        bahaya
bebayu (ta)        otot
bebedhag (tk)        berburu
bebucal; bebucal (tk)        berhajat besar
bebudhen (ta)        kepribadian
bebuwang (tk) berhajat besar
bebed (ta)        kain panjang yang dipakai pria
bèbèk (ta)        itik
bebrayan (tk)        berkeluarga
bebungah (ta)        hadiah
bebendhu (ta)        hukuman
bedhigasan (ts)       tingkahnya tidak karuan; tidak bisa diam
bengkok (ta)        tanah yang hak garapnya diberikan kepada lurah sebagai bagian dari
fasilitas jabatan
becik (ts)        baik
becus (ts)        mampu
béda (ts)        berbeda
béda (tk)        goda
bedaya (ta)        tarian sakral yang menjadi ciri khas keraton
bédhah (ts)        terbuka paksa
bedhidhing (ta)        udara dingin di musim kemarau
begawan (ta)        pendeta
begundhal (ta)        kaki-tangan
beja (ts)        beruntung
bejat (ts)        rusak
béka (tk)        meronta
bekasakan (ta)        hantu hutan
beksa (ta)        tari
beksan (ta)        tarian
belang (ta, ts)        belang
belèk (tk)        iris sepanjang garis tengah
bèlèk (ta)        kotoran mata
belik (ta)        sumber air
beling (ta)        kaca
bena (ta, ts)        banjir
bendara (ta)        majikan
bendha (ta)        nama pohon
bendhé (ta)        gong kecil
bendhel (ta)        ikatan
bendho (ta)        alat pemotong (sejenis celurit)
bendhol (ta)        bengkak
bener (tkr)        benar
bengawan (ta)        sungai
bengep (ts)        sembab
bengi (ta)        malam
benik (ta)        kancing baju
bening (ts)        jernih
benjut (ts)        menjadi empuk karena tekanan/hantaman
beras (ta)        beras
bèrèng (ta)        luka di sudut bibir
berèt (ts)        tergores
besar (ta)        nama bulan dalam kalender jawa
bèsèr (ts)        sebentar-sebentar kencing
besèt (ts)        sayat
besmi (tk)        bakar
besus (ts)        pandai; trampil
bethèk (ta)        pintu pagar
bekti (ta)        bakti
beta (tk)        bawa
betah (tkr)        betah; enggan pergi
betah; betah (tk)        butuh
beton (ta)        biji nangka
beya (ta)        biaya
binarung (tkr)        seiring; diiringi
bingar (ts)        ceria
binggel (ta)        gelang kaki
bingget (ta)        tanda dikulit akbiat jepitan atau lilitan yang ketat
biyèn (tkr)        dahulu
blaka (tk)        berterus terang
blalak-blalak (ts)        membeliak; besar (untuk mata)
blanak (ta)        jenis ikan
blatèr (ts)        ramah; mudah bergaul
blarak (ta)        daun kelapa kering
bledhèg (ta)        guntur
bledhèh (tk)        terbuka kancingnya (untuk baju)
blèdru (tkr)        salah pilih/tertukar karena mirip
bléncong (ta)        lampu minyak untuk penerangan dalam pagelaran wayang kulit
bléndrang (ta)        sisa masakan bersantan yeng sudah dipanaskan berkali-kali
blereng (ts)        tidak nampak jelas; kabur
blesek (tk)        membenamkan ke dalam tumpukan
blirik (ts)        berbintik kecil  (mis. panci, ayam)
bloloken (tkr)        silau
blondho (ta)        endapan yang dihasilkan dalam pembuatan minyak kelapa
blorok (ts)        bulunya berbintik hitam putih (untuk ayam betina)
bluluk (ta)        buah kelapa yang masih sebesar telur
bocah (ta)        anak
bodho (ts)        bodoh
bodong (ts)        pusar yang menonjol keluar
boga (ta)        pangan
bojo (ta)        suami/isteri
bokong (ta)        pantat
bokor (ta)        mangkuk besar
bolong (ts)        berlubang
bolot (ta)        daki
bonang (ta)        alat musik pukul, bagian dari gamelan
bong (tk)        bakar
bong (ta)        makam Cina
bong (ta)        tukang khitan
borok (ta)        luka lama
boyong (tk)        pindah
brabak (tk)        berubah merah (wajah)
brahala (ta)        raksasa sebesar gunung
brahmana (ta)        pendeta
brambang (ta)        bawang merah
bramantya (ts, ta)        marah, kemarahan
brangasn (ts)        mudah marah
branta (ta)        asmara
brastha (tk)        berantas
bréwok (ta)        bercambang
brindhil (ts)        habis jarena dicabuti
brodhol (ts)        terlepas ikatannya
brudhul (tk)        keluar berama-ramai/berbarengan
brobos (tk)        masuk melalui celah atau kolong
brojol (tk)        keluar sebelum waktunya; keluar dari bungkusan
brongkos (tg)        nama masakan
brukut (ts)        terbungkus rapat
brutu (ta)        tunggir ayam
bubar (ts)        bubar; selesai
bubul (ta)       semacam bisul di telapak kaki
bubur (ta)       bubur
bubut (tk)       mencabuti
buda (tg)        rabu
budeg (ts)        tuli
budeng (tg)        kera hitam
bujana (ta)        hidangan
bujel (ts)        tumpul
bulak (ts)        pudar warnanya
bulak (ta)        daerah terbuka/ padang
bulan (ta)        bulan
bumbu (ta)        bumbu; rempah-rempah
bumbung (ta)        tempat berbentuk pipa besar atau terbuat dari bambu
bumpet (ts)        tersumbat
bunder (ts)        bundar
bundhas (ts)        melecet (cedera)
bundhel (ts)        ujungnya membulat
bundhet (ts)        diberi ikatan mati pada ujungnya (mis. benang)
bung (ta)        rebung
bungah (ts)        gembira
bungkem (tk)        diam; tidak mau mengatakan apa-apa
bungkik (ts)        kerdil
bungkil (ta)        ampas minyak kacang
bungkus (ta)        bungkus
bungur (tg)        nama tanaman
buntel (tk)        bungkus
buntet (ts)        buntu; tidak berongga
buntil (ta)        masakan terbuat dari kelapa muda, ikan teri dan daun keladi sebagai pembungkus
buntu (ts)        buntu
buntung (tsa)        hilang/patah bagian ujungnya
burek (ts)        legap
bureng (ts)        tidak jelas terlihat
buri (tkr)        belakang
burik (ts)        bopeng
buru (tk)        kejar
buruh (ta)        bekerja untuk orang lain
busana (ta)        pakaian
busana (tk)        berpakaian
buthak (ts)        botak
buthuk (ts)        membusuk (untuk ikan)
buwang (tk)        buang
buyut (ta)        cicit
buyuten (ts)        bagian tubuhnya bergerak-gerak tidak terkendali karena ketuaan

C

cabar (ts)        kehilangan arti
cabé (ta)        nama rempah untuk jamu
cacat (ts)        cacat
cadhong (tk)        menadahkan tangan
cagak (ta)        tongkat/penyangga
cakepan (ta)        lirik lagu
cakot (tk)        gigit
cambah (ta)        tauge
campur (tk)        campur
candala (ts)        jahat
candhik kala (ta)        semburat merah di langit pada saat senja hari
candra (ta)        bulan
candra (ta)        kiasan
cantrik (tg)        murid padepokan
candramawa (ta)        kucing hitam
cangkem (ta)        mulut
cangking (tk)        jinjing
cangkir (ta)        cangkir
cangklong (ta)        pipa
cangklong (tk)        menyandang di bahu (mis. tas)
cakra (ta)        senjata dalam pewayangan; lingkaran
canthas (ts)        bicaranya lantang (untuk wanita)
canthèl (ta)        sejenis jagung
cantheng (ta)        radang di jari, umumnya di ibu jari kaki akibat tertusuk kuku
canthing (ta)        alat untuk membatik
canthol (tk)        cantol
capil (ta)        topi petani, bentuknya bulat  berujung runcing
caping (ta)        topi petani, bentuknya bulat  berujung runcing
caplak (ta)        penyakit kulit
caplok (tk)        memasukkan semua ke dalam mulut
cara (ta)        cara
caraka (ta)        utusan
carang (ta)        ranting
carita (ta)        cerita
carup (tk)        raup
cathèk (tk)        gigit (anjing)
cathet (tk)        catat
catur (ts)        empat
caturan (tk)        bercakap-cakap
cawang (ta)        tanda V
cawet (ta)        celana dalam
cawé-cawé (tk)        turun tangan, ikut campur
cawis (tk)        sedia
cawik (tk)        cebok
cawuk (tk)        mengambil dengan cara menyendokkan tangan
cecak (ta)        cicak
cedhak (ts)        dekat
cédhal (ts)        cadel; tidak bisa mengucapkan bunyi tertentu dengan benar
cegat (tk)        hadang
cèkèr (ta)        kaki unggas
cekel (tk)          pegang
celempung (ta)        alat musik bagian dari gamelan
cekak (ts)          tidak mencukupi; ukurannya tidak memadai; pendek sekali
cekakakan (tk)          tertawa-tawa dengan keras
cekakik (ta)          ampas kopi (sisa setelah diminum)
celak (ts)          dekat
celak (ta)        penegas garis tepi mata
celuk (tk)        panggil
celak (ta)        penegas garis tepi mata
cemani (ts)        hitam
cemawis (ts)        tersedia
cemeng (ta)        hitam
cemèng (ta)        anak kucing
cemèt (ts)        pipih karena tertimpa/tertekan beban berat
cemplang (ts)        tidak sedap/ kurang pas (mis. nada, rasa)
cemplung (tk)        masuk (dalam cairan)
cendhak (ts)        pendek
cengkir (ta)          buah kelapa yang masih sebesar kepalan, belum berdaging buah
cepak (ts)        tersedia, siap
cepak-cepak (tk)        siap-siap
cepeng; cepeng (tk) pegang
ceplus (tk)        gigit (untuk cabai)
cepuk (ta)        wadah kecil, biasanya untuk menyimpan perhiasan
cerek (ta)        tanda bunyi “re” pada aksara Jawa
cèrèt (ta)        cerek
ceriwis (ts)        banyak bicara
cetha (tkr)        jelas
cethèk (tk)        dangkal
céthok (ta)        sendok semen
cethik (tk)        menyalakan (api)
cethil (ts)        pelit
cethot (tk)        cubit besar
cicil (tk)        angsur
cicip (tk)        merasai
cidra (tk)        tidak menepati janji
cidra (tk)        curi; culik
cilaka (ts)        celaka
cilik (ts)        kecil
cingak (ts)        terkejut karena heran
cluluk (tk)        tiba-tiba berkata
clingus (ts)       pemalu, tidak percaya diri
cluluk (tk)        tiba-tiba berkata
cluthak (ts)        suka mencuri makanan (untuk hewan, terutama kucing)
clomètan (tk)        berteriak tak beraturan/bersahutan
climèn (tkr)        kecil-kecilan
cocot (ta)        mulut (kasar)
colong (tK)        curi
colok (ta)        penerangan/ obor
congor (ta)        hidung binatang berkaki empat
conthèng (ta)        coret silang
coplok (tkr)        tanggal
copot (ta)        tanggal/cabut
coro (ta)        kecoa
cotho (ts)        repot karena ditinggalkan; kehilangan andalan
crah (tkr)        bercerai; saling bermusuhan
cubles (tk)        menusuk dengan benda runcing
cubluk (ts)        bodoh
cucuk (ta)        paruh
cucakrawa (ta)       nama burung
cungkup (ta)        atap makam
culek (tk)        mencolok mata
culik (tk)        mengambil sebagian nasi yang sedang dimasak
culik (tk)        culik
cunduk (ta)        tusuk
cundrik (ta)        keris kecil
cupet (ts)        terbatas
cupu (ta)        wadah kecil, biasanya untuk menyimpan perhiasan
curek (ta)        kotoran telinga
cures (ts)        habis/tertumpas
curut (ta)        tikus bermoncong runcing
cuthik (ta)        tongkat penunjuk/ potongan dahan
cuwa (ts)        kecewa
cuwil (tk)        mengambil sebagian kecil
cuwil (tkr)        terkoyak/terpotong /pecah  sedikit di bagian tepi
D
dadak (ta)        harus, terpaksa
dadakan (tkr)        tanpa rencana
dadakan (ta)        pemicu timbulnya permasalahan
dadar (ta)        makanan/ telor digoreng melebar tipis
dadèn-dadèn (ts)        jadi-jadian
dhadhal (ts)        runtuh terbawa arus air
dadi (ts)        jadi
dados; dados (ts)        jadi
dagang (tk)        berdagang
dahana (ta)        api
dahuru (ta)        huru-hara
dahwèn (ta)        suka mencerca
(ts) dalah  (tpy)        dan; bersama dengan
(ts) dalan  (ta)        jalan
(ts) dalem  (ta)        rumah
dalu; dalu (ta, tkr)        malam
(ts) damar  (ta)        lak
damar (ta)        pelita
damèn (ta)        barang padi
dami (ta)        jerami nangka
damu (tk)        tiup
dandan (tk)        bersolek/ merias diri
dandan-dandan (tk) memperbaiki bangunan (rumah dsb.)
dandang (ta)        periuk nasi
dandos; dandos (tk) perbaiki
danawa        raksasa
dara (ta)        burung dara
dara (ts)        betina muda (untuk ayam)
darbé (tk)        milik, mempunyai
darma (ta)        darma, kewajiban dalam hidup
dasa (tw)        puluh
dawa (ts)        panjang
dawet (ta)        cendol
daya (ta)        daya
daya-daya (tkr)       bersegera
dédé (tkr)        bukan
degan (ta)        kelapa muda
deling (ta)        bambu
demèk (tk)        pegang
déné (tpy)        sedangkan
dengkul (ta)        lutut
désa (ta)        desa
déwa (ta)        dewa
dhadha        mengakui kesalahan
dhadha (ta)        dada
dhadhak (ta)        getah
dhadhakmerak (ta) pemain dalam kesenian reog yang memakai hiasan bulu merak di kepalanya
dhadhu (ta)        dadu
dhadhung (ta)        tali
dhagelan (ta)        lawak
dhangka (ta)        tempat asal
dhalang (ta)        dalang
dhawah; dhawah (tk)        jatuh
dhawuh (ta; tk)        ucapan; perintah; memerintahkan
dhayoh (ta)        tamu
dhédhé (tkr)        berjemur
dhèdhèl (ts)        terlepas jahitannya
dhèdhès (ta)        bau harum yang keluar dari tubuh musang
dhedhes (tk)        mendesak seseorang dengan pertanyaan agar ybs mengaku/ membuka rahasia
dhemen (tk)        suka
dhèmpèt (ts)        melekat/rapat
dhèndhèng (ta)        daging dikeringkan dengan bumbu tertentu
dhéwé (tkr)        sendiri; sendirian
dhidhis (tk)        mencari kutu di kepala sendiril
dhingklang (ts)        pincang
dhingkluk (tk)        tunduk/menghadak ke bawah
dhodhog (tk)        ketuk pintu
dhodhos (tk)        lubangi dari bawah
dhompol (tw)        untaian dalam 1 tangkai  (untuk buah)
dhondhong (ta)        nama buah
dhongkol (ta)        mantan pejabat
dhoyong (ts)        miring
dhudha (ta)        duda
dhupak (tk)        tendang menggunakan tumit
dhuwit (ta)        uang
dhuwur (ts)        tinggi
dingklik (ta)        bangku kecil
disik (tkr)        terlebih dulu
dluwang (ta)        kertas
dolan (tk)        bertandang
dolanan (ta, tk)        bermain, mainan, permainan
donga (ta)        doa
dora (tkr)        tidak terus terang
dosa (ta)        dosa
drèngès (ta)        bunga sirih
driji (ta)        jari
dubang (ta)        ludah merah/ ludah orang yang makan sirih
duduh (ta)        kuah
duduh (tk)        beritahu
dugang (tk)        tendang dengan lutut
dulur (ta)        saudara
dulit (tk)        colek
dumuk (tk)        sentuh
dumunung (tk)        berada; bertempat
dunung (ta)        tempat
duratmaka (ta)        pencuri
duren (ta)        durian
durung (tkr)        belum
dustha (tk)        curi
duwa (tk)        tentang, lawan, tidak menyetujui
dwi (tw)        dua

E

éca; éca (ts)        enak
édan (ts)        gila
eden (tk)        ejan
édhum (ts)        terlindung dari sinar matahari
èdi (ts)        indah
éka (tw)        satu
elar (ta)        bulu unggas
èlèk (ts)
éling (tk, ts)        ingat, sadar
élok (tkr)        aneh, ajaib
eluk (tk)        tekuk
éman (tk)        sayang kalau hilang atau rusak
embah (ta)        nenek/kakek
embuh (tpw)        entah
emoh (tk)        tidak mau
emplok (tk)        memasukkan ke mulut
empuk (ts)        lembut
émut ; émut (tk)        ingat
emut (tk)        kulum
enak (ts)        enak
èncèr (ts)        cair
éndah (ts)        indah
endas (ta)        kepala binatang
éndha (tk)        berkelit
éndhang (ta)        gadis padepokan
éndhang (tk)        jenguk
endi (tg)        mana
endog (ta)        telur
enek (ts)        mual
enem (tw)        enam
enep (tk)        endap
ener (ta)        arah
énggal (tkr)        cepat
énggal (ts)        baru
énggar (tk)        hibur
énggok (tk)        belok
enggon (ta)        tempat
enjing; enjing (ta, tkr)        pagi
entas (tk)        angkat, ambil
enték (ts)        habis
entén (tk)        tunggu
entén-entén (ta)        isi jajanan terbuat dari partan kelapa dimasak dengan gula merah
énthéng (ts)        ringan
énthong (ta)        sendok nasi
éntuk (tk)        dapat, boleh
entup (ta)        sengat
entut (ta)        kentut
enyang        tawar (harga)
epang (ta)        dahan
erah (tk)        ambil
éram (tk)        heran
eri (ta)        duri
esthi (tk)        latih; pelajari
estu (tkr)        sungguh, jadi
esuk (ta, tkr)        pagi
éthok-éthok (tk)        pura-pura
éwa (ts)        kecewa
éwadéné  (tpy)        walaupun demikian
éwah (tk)        ubah; berubah
éwuh (tk)        rikuh; serba salah
éyang (ta)        terlindung dari sinar matahari atau hujan
éyup (ts)        terlindung dari sinar matahari atau hujan

G

gada (ta)       gada; senjata pemukul
gadhah (tk)       mempunyai
gabah (ta)        padi yang telah terlepas dari tangkainya
gagah (ts)        gagah
gagak (ta)       burung pemakan bangkai
gagang (ta)        tangkai
gagas (tk)       pikir
gagasan (ta)       pemikiran
gagé (tkr)       cepat
gajah (ta)        gajah
gajih (ta)        lemak jenuh
galak (ts)        galak
galar (ta)        batang bambu; alas kasur
galengan (ta)        jalur pembatas petak sawah
galih (tk)        merasakan dalam hati
gaman (ta)        senjata
gambang (ta)        alat musik pukul, bagian dari gamelan
gambar (ta)        gambar
gambas (ta)        petola
gambir (ta)        buah pinang yang sudah diolah
gambir anom (ta)        nama tarian ksatria
gambyong (ta)        nama tarian untuk menyambut tamu
gamel (tg)        tukang merawat kuda
gamelan (ta)        alat musik Jawa
gampang        senang/mudah
gampil (ts)        gampang
gamping (ta)        kapur tembok
ganda (ta)        bau
gandarwa (ta)        hantu besar hitam
gandheng (ts)        gandeng
gandhes (ts)        luwes
gandhol (tkr)        bergantung  pada sesuatu
gandhul (tkr)        tergantung (untuk benda yang berat)
ganep (ts)        gebap
gangsal (tw)        lima
gangsar (tkr)        lancar
ganjar  (tk)        ganjar
ganjaran (ta)        hadiah
ganjil (ts)        ganjil
gantung (tk)        gantung
gaplek (ta)        singkong yang dikeringkan
gapuk (ts)        rapuh dimakan usia (untuk kayu)
gapyuk (tkr)        tidak sengaja bertemu berhadapan
garan (ta)        gagang
garing (ts)        kering
garu (ta; tk)        alat penggaruk tanah; menggaruk tanah
garudha (ta)        garuda, nama burung dalam mitos Jawa
garwa (ta)        suami/istri
gasik (tkr)        awal
gatel (ts)        gatal
gathot (ta)        makanan dari gaplek
gawan (ta)        bawaan
gawang-gawang (tk)        terbayang
gawat (ts)        gawat
gawé (tk)        buat
gayuh (tk)        capai
geber (tk)        layar penutup panggung
gebug (tk, ta)        hantam badan dengan benda keras; pemukul besar
gedhang (ta)        pisang
gedhé (ts)        besar
gegana (ta)        angkasa
gegayuhan (ta)        keinginan/cita-cita
geger (ta)        punggung
gègèr (tkr)        riuh
gegedhug (ta)        pimpinan (untuk kelompok penjahat, pembuat onar)
gela (ts)        kecewa
gelak (tk)        percepat
gelang (ta)        gelang
gelar (tk)        bentang (tikar)
gelas (ta)        gelas
gelem (tk)        mau
gelis (tkr)        cepat
gemak (ta)        burung puyuh
gemang (tk)        tidak mau
gembili (ta)        sejenis ubi/talas
gemblak (ta)        anak lelaki yang dijadikan kekasih seorang lelaki
gemblung (ts)        tidak normal pikirannya
gembok (ta)        gembok
gembor (ta)        alat untuk menyiram tanaman
gemes (tk)        gemas
gemlethak (ts)        bergeletakan
gemlundung (tk)        bergelundungan
gemuk (ta)        lemak; pelumas
gemrégah (tk)        bangkit seketika
gemrubug (tkr)        menderu (suara angin)
gemrudug (tkr)        pergi/datangnya dalam jumlah besar
genah (ts)        jelas
gendèr (ta)        nama alat musik pukul
gendhakan (ta)        wanita simpanan
gendhèng (ts)        atap seng
genthèng (ts)        genteng
gendheng (ts)        gila
gendhing (ta)        musik Jawa
gendhuk (tg)        panggilan untuk anak perempuan
gendruwo (ta)        hantu besar hitam
gendul (ta)        botol
geni (ta)        api
gènjèr (ta)        nama sayuran
genjot (tk)        genjot
gèntèr (ta)        galah
genthong (ta)        tempayan
genuk (ta)        tempayan kecil
gepuk (tk)        pukul
geplak (ta)        nama jajanan terbuat dari kelapa parut dan gula
gèpèng (ts)        pipih
gerah (ts)        sakit
gerang (ts)        dewasa
gerèh (ta)        ikan asin
gering (ts)        sakit
germo (ta)        mucikari
gero-gero (tk)        menangis melolong-lolong
gèsèh (ts)        berbeda; tidak pas
geseng (ts)        hitam
getak (tk)        hardik
getap (ts)        cepat bertindak/bereaksi
getas (ts)        retas; mudah patah
gèthèk (ta)        rakit
gething (tk)        benci
gethuk (ta)        singkong rebus tumbuk
getih (ta)        darah
getir  (ts)        rasa antara pahit menusuk
getun (ts)        menyesal
gila (ts)        jijik
gilig (ts)        tidak pipih
ginanjar (tk)        diberi hadiah/ganjaran
giris (ts)        ngeri
githok (ta)        belakang leher
glangsaran (tkr)        jatuh terkapar
glathik (ta)        burung gelatik
glenik (tk)        bujuk
glethak (tk)        terletak
glindhing (tk)        menggelinding; bergulir
gludhug (ta)        guruh
glundhung (tk)        menggelinding; terguling
gobang (ta)        uang logam
gocèk (tk)        berpegang
godhag (ts)        mampu berbuat
godhog (ts, tk)        rebus
godhong (ta)        daun
gombak (ta)        surai kuda
gombal (ta)        kain usang
gondhal-gandhul (ts)        berayun-ayun (untuk benda yang tergantung)
gondhangen (ts)        bengkak setelah dikhitan
gondhelan (tk)        berpegang
gondhok (ta)        bengkak pada kelenjar di leher
gondhol (tk)        bawa lari/gonggong
gondhong (ta)        bengkak pada leher
gosong (ts)        hangus
gothot (ts)        berotot
gotong (tk)        angkat
gowang (ts)        berlubang pada tepi (gigi, pisau)
grabah (ta)        perlengkapan rumah dari tanah liat
gragal (ta)        kerikil besar
gragapan (tkr)        dalam keadaan belum sepenuhnya terjaga dari tidur
grahana (ta)        gerhana
grana (ta)        hidung
grapyak (ts)        ramah
grenengan (tk)        berbicara dengan suara rendah
grèsèk (tk)        mencari di antara sisa-sisa
gringgingen (ts)        kesemutan
gringsing (tg)        jenis kain/tenunan
griya (ta)        rumah
gruwung (ts)        berlubang
grudhal (ta)        kotoran gigi
gudig (ta)        kudis
gudir (ta)        agar-agar
gugah (tk)        bangunkan
gugu (tk)        percaya
gulu (ta)        leher
gulung (tk)        gulung
guling (ta)        guling
gumpil (tk)        runtuh (tanah)
gumuk (ta)        bukit kecil
gumyak (kr))        ramai; ceria
gundhul  (ts)        tidak berambut
gundhul (ta)        kepala
gurah (ta)        nama tanaman
gurah (tk)        membersihkan saluran pernafasan menggunakan getah tanaman gurah
gusah (tk)        halau
guwa (ta)        gua
guyon (tk)        gurau
guyub (ts)        rukun damai
gudheg  (ta)        masakan terbuat dari nangka muda
gori  (ta)        nangka muda
gogor  (ta)        anak harimau
gugur  (tk)        mati di medan perang
grudug (tk)        pergi/ datang dalam jumlah besar
gya (tkr)        segera

H

hastha (tw)        delapan
hara (tpw)        coba
hayo (tpw)        hayo

I

iba (tsb)        betapa
iberé (ta)        terbang
ibu (ta)        ibu
ical; ical (ts)        hilang
idep (ta)        bulu mata
ider (tk)        berjualan berkeliling
idu (ta)        ludah
idhep-idhep (tsb)        sekalian; hitung-hitung
idhi (ta)        izin
iga (ta)        tulang belikat
iguh (ta)        upaya; cara
ijir (tk)        berhitung
ijem; ijem (ts)        hijau
ijo (ts)        hijau
ijol (tk)        tukar
iket (ta)        ikat kepala
iki (tg)        ini
iku (tg)        itu
iler (ta)        air liur
iming-iming (ta)        hadiah yang dijanjikan
ila-ila (ta)        kepercayaan; pantangan
ilat (ta)       lidah
iler (ta)        liur
ili (ta)        aliran (air, darah, dsb.)
imbal (tsb)        berselang-seling; saling
imbu (tk)        peram
imbuh (tk)        tambah; bonus
impèn (ta)        mimpi; impian
ina (ts)        hina
ing (tpr)        di
inger (tk)        geser dengan sedikit mengubah arah
ingklik (ta)        bunga singkong
ingklik (tkr)        cepat-cepat berlalu; berjalan cepat
ingkung (ta)        ayam panggang utuh
ingsun (tg)        saya
ingu (tk)        memelihara (hewan)
ingon-ingon (ta)        hewan peliharaan
inuman (ta)        minuman
iring (tk)        iring
iringan (tkr)        samping
ireng (ts)        hitam
isep        hisap
isih (tkr)        masih
isin (ta, ts)        malu
isis (ts)        sejuk terkena semilir angin
iwak (ta)        ikan

J

jabang (ta)       bayi
jabel (tk)       cabut kembali
jabut (tk)       cabut
jadah (ta)       nama jajanan dari ketan
jaé (ta)       jahe
jaga (tk)       jaga
jagabaya (ta)       petugas keamanan desa
jagad (ta)       dunia
jagal (ta)       tukang potong hewan ternak
jagang (ta)       penopang, standar
jail (ts)       jahil
jajah (tk)        menguasai wilayah  negara lain
jajah (ts)       telah bepergian ke berbagai pelosok
jajal (tk)       coba
jajan (ta)       makanan ringan
jaka (ts)        jejaka
jala (ta)       jala
jaladri (ta)       lautan
jalak (ta)       nama burung
jalaran (ta)       penyebab
jaler; jaler (ts)       laki-laki
jalma (ta)       manusia
jalu (ta)       taji
jaluk (tk)       minta
jaman (ta)       jaman
jamas  (tk)       keramas
jambak (tk)       tarik rambut
jamban (ta)       peturasan; kamar mandi
jambé (ta)        pinang (tanaman)
jambul (ta)        jambul
jamu (ta)       obat tradisional jawa
jan (tpw)        sungguh-sungguh
jangan (ta)       sayur
jangar (ts)       rasa sakit dan panas di kepala
jangga (ta)       leher
janggel (ta)       tongkol jagung
janggut (ta)       dagu
jangka (ta)       jangka; ramalan
jangkar (tk)       memanggil nama, tanpa sebutan penghormatan
janma (ta)       manusia
japa (ta)       mantra
jarak (tk)       cari perkara
jaran (ta)       kuda
jarang (ta)       air panas
jaré (tk)       katanya
jarem (ts)       tuam
jarik (ta)       kain panjang
jarit (ta)       kain panjang
jarké (tk)       biarkan
jarwa (tk)        cerita, terjemah
jatah (ta)       jatah
jathilan(ta)       tarian kuda kepang
jatukrama(ta)       jodoh
jawa (ta)       jawa
jawa (ts)       bertanggung jawab; tahu kewajibannya
jawah; jawah (tk,ta)       hujan
jawat (tk)       ganggu, godha (antara pria dan wanita)
jawata (ta)       dewa
jawi (ta)       jawa
jawil (tk)       senggol
jaya (ts)        jaya
jèbèng (ta)       panggilan untuk bayi
jegog (tk)        salak (anjing)
jegur (tk)       terjun ke dalam air
jejeg (tk)       tendang
jejeg (ts)       tegak
jejer (ta)        adegan dalam pagelaran wayang yang menggambarkan  ertemuan raja,
para punggawa serta keluarga istana
jèjèr (ts)        bersanding, bersebelahan
jejuluk        panggilan, sebutan
jelih (tk)       teriak
jembar (ts)       luas
jembrak (ts)       rambut yang gondrong dan berdiri
jèmbrèng (tk)       buka lebar (untuk kain, kertas, dsb.)
jembut (ta)       rambut kemaluan
jempalik (tk)        terguling ke arah berlawanan
jempol (ta)       ibu jari
jemuwah (ta)       jumat
jenang (ta)       bubur halus
jenar (ts)       merah; kuning emas
jenaté (ts)        Al,arhum
jené (ta)       kuning
jeneng (ta)       nama
enggèlèk (tkr)        bangkit secara tiba-tiba
jenggong (tk)        salak (anjing)
jengkar (tk)        pindah, meninggalkan tempat
jèngkèl (ta)       jengkel
jengking (tk)       tungging
jengkol (ta)       jering
jenthik (ta)       kelingking
jepit (tk)       jepit
jeplak (tk)       membuka dengan cepat
jeram (ta)       jeruk
jèrèng (ts)       juling
jerit (tk)       jerit
jero (ts)       dalam
jerohan (ta)       isi perut
jeruk (ta)       limau
jethungan (tk)       petak umpet
jèwèr (tk)       ditarik telinganya
jimat (ta)       jimat
jirih (ts)       penakut
jiwa (ta)       jiwa
jiwit (tk)       cubit
jlèntrèh (tk)       jelaskan
jodho (ta)       jodoh
jojoh (tk)       cucuk dengan benda tajam
jomplang (ts)       tidak setimbang
jorok (tk)       dorong sampai jatuh
jothak (tk)       seteru
juju (tk)       suap langsung ke dalam paruh
jujug (tk)       langsung menuju
jujul (ta)       kembalian
jujur (ts)       lurus
jujur (ts)       jujur
julungpujut (tg)        nama wuku dalam penanggalan jawa
julungwangi (tg)        nama wuku dalam penanggalan jawa
jumadilakir (tg)        nama bulan dalam penanggalan jawa
jumadilawal (tg)        nama bulan dalam penanggalan jawa
jumantara (ta)        angkasa
jumawa (ts)        angkuh
jumbuh (ts)        bertemu, cocok (untuk pendapat, pemikiran)
jumpalitan (tk)        berguling-guling (koprol)
jungkat (ta)       sisir
jupuk (tk)       ambil
juragan (ta)       majikan
juwèh (ts)       suka memberikan komentar tentang urusan orang lain
juragan (ta)       majikan

K

Kabeh       semua

Kacu       sapu tangan
Kacuk       kemaluan laki laki
Kacung       pelayan
Kademen       kedinginan
Kadingaren       tumben
Kadipaten       kadipaten
Kadohan       kejauhan
Kakehan       kebanyakan
Kambil       kelapa
Kampleng       pukul
Kampul2       mengambang
Kampung       kampung
Kana       sana
Kanca        teman/kawan
Kanda       bilang/mengatakan
Kandang       kandang

Kapok       kapok /tidak mau mengulangi

Kapuk       kapas
Kasep       terlambat
Kasur       kasur
Kathok       celana

Kawat       kawat

Kebak       penuh
Kemu       kumur
Kecelek       tertipu/terlambat tidak mendapatkan apa apa
Kecik       biji
Kemaki       belagu ( laki-laki )
Kemayu       genit ( perempuan)
Kembang       bunga
Kembar       kembar
Kembung       kembung
Kemingkel       terbahak
Kena       kena
Kene       sini
Kenceng       banter
Kendel       berani
Kendi       kendi
Kendil       periuk nasi dari tanah
Kendo       longgar/kurang kuat/rapat
Kerdus       kardus
Kethak       jitak
Kenthir       gila
Kenthongan       kentongan
Keplok       tepuk tangan
Kere       kere/gembel
Kerek       kerek
Keri       ketinggalan
Keselak       tersedak
Kikir       kikir
Kisruh       kisruh
Kiwa       kiri

Klambi       baju kemeja

Klapa       kelapa
Klebu       masuk
Klebon       kemasukan
Klilip       kelilipan
Kluwih       nangka sayur
Kobong        terbakar
Kodok       katak
Kocak       kocak
Kolak        kolak
Konangan       ketahuan
Kondang       terkenal
Koplok       pukul
Kopong       tidak ada isinya, kosong
Kosok Balen       sebaliknya
Kosokan       gosokan
Kothak       kotak
Krama       bahasa jawa halus, kawin
Kramas       keramas
Kramat       keramat
Kucing       kucing
Kudu       harus
Kudung       kerudung
Kulit       kulit
Kulu       tetelan
Kumat       kambuh
Kumu       kumur
Kuna       kuno
Kura        kura-kura
Kutha       kota

Kuwat       kuat

Kuwi       itu

L

Labuh       berlabuh
Ladrang       istilah dalam seni karawitan
Laku        perjalanan hidup/cobaan yang harus dilalui
Lalen       pelupa/gampang lupa
Laler       Lalat
Lali        lupa
Lambaran       dasar/alas
Lambe       bibir
Lamur       kabur (pandangan)
Lanang        laki-laki
Lancang       lancang
Landep        tajam
Lapangan       tanah lapangan/lapangan sepak bola
Lara       sakit
Laras       laras
Laris       laris
Latar       halaman
Lawa       kelelawar
Legi        manis
Lelakon       cerita hidup
Lelayu       berita kematian
Lemah        tanah
Lemes       lemas
Lempung       tanah liat
Lemu       gemuk
Lemut       nyamuk
Lenga       minyak
Lengen       lengan
Lenggah       duduk
Lesehan       lesehan
Lesus       angin lesus
Lima       lima
Limpung       ubi goring
Lindu       gempa bumi
Linggih       duduk
Lintang       bintang
Lintu        tukar
Lirih        pelan
Liya        lain
Liyane       yang lain
Lobok        kebesaran/kegedean
Loji       rumah besar bertingkat
Loma       murah hati/dermawan
Lombok       cabe/lombok
Londo       belanda/orang barat
Lor        utara
Loro       dua
Luber        meluber
Lugu       lucu
Lumantar       melalui sesuatu
Lumrah       wajar
Lunga         pergi
Lungguh        duduk
Lurah       lurah
Luwe       lapar
Luwih       lebih

O

obah (tk)        bergerak
obong (tk)        bakar
obor (ta)        obor
obok-obok (tk)        aduk-aduk menggunakan tangan ( biasanya ke air )
oceh (tk)        cakap
ogak (ts)        goyang (untuk gigi)
ombak (ta)        ombak
ombe (tk)        minum
omben-omben (ta)        minuman
omber (ts)        luas
ombyok (tw)        ikatan besar (untuk sayuran, buah- buahan, dsb.)
omong (tk)        cakap
ompol (ta)        air kencing yang dikeluarkan dalam tidur
opak (ta)        kerupuk dari umbi-umbian
ora (tkr)        tidak
orak-arik (ta)        masakan dari telur
orat-arit (tk)        berantakan
osik (ta)        gerak
owah (ts)        gila
owah (tk, ts)        berubah
oyok (tk)        rebut
oyot (ta)        akar
U
ubarampé (ta)        perlengkapan
ucek (tk)        gosok-gosokkan (mata, cucian)
uceng (ta)        jenis ikan sungai
udakara (tpy)        kira-kira, kurang lebih
ucul (tk, ts)        terlepas
udal-udal (tk)        membongkar
udan (ta)        hujan
udani (tk)        telanjangi
udel (ta)        pusar
udheng (ta)        ikat kepala
udi (tk)        ajar; pelajari
udud (ta; tk)        rokok; merokok
udun (ta)        bisul
udur (tk)        berdebat
uga (tkr)        juga
ugal-ugalan (tkr)        bertindak tanpa mengindahkan aturan
ugel-ugel (ta)        pergelangan tangan
uger-uger(ta)        kusen
uget-uget (ta)        larva
ugi (tkr)        juga
ugungan (ts)        senang dipuji
uja (tk)        penuhi segala keinginan
ujar (ta)        perkataan
ujub (tk)        laksanakan
ujur (ta)        membujur
ukara (ta)        kalimat
ukir (tk)        ukir
ula (ta)        ular
ular-ular (ta)        petuah
ulem (tk)        undang
uleng-ulengan
uler (ta)        ulat
ules (ta)        warna (untuk binatang)
ulet (ts)        liat
ulu (tk)        telan
ulung (tk)        serah
uman (tk)        kebagian
umbar (tk)        biarkan/ lepaskan
umbel (ta)        ingus
umbul (ta)        gambar
umbul (ta)        mata air
umbul-umbul (ta)        bendera
umek (ts)        tidak bisa diam
umik-umik (tk)        komat-kamit
umob (ts)        didih
umpak (ta)        alas tiang
umplung (ta)        kaleng
umum (tk)        umum
umur (ta)        umur
umyek (tk)        sibuk sendiri
undamana (tk)        maki-maki
undang (tk)        panggil
under (tkr)        pusat, inti
undha (tk)        terbangkan (untuk layang-layang)
undha-undhi (tks)        sama saja, selisih usianya sedikit
undhuh (tk)        petik/tuai
undur (tk)        gerak ke belakang
undur-undur (ta)        nama serangga
uni (ta)        bunyi, suara
unjuk (tk)        geser naik
unjuk (tk)        minum
unta (ta)        onta
untab (tk)        temani saat-saat keberangkatan
untal (tk)        telan semuanya
untel-untel (tk)
unthuk (ta)        busa
unting (tk)        ikat segepok
untir (tk)        pelintir
untu (ta)        gigi
untup-untup (tk)        muncul sedikit
upama (tpy)        umpama
upaya (ta)        upaya
ura-ura (tk)        bernyanyi
urik (ts)        curang
urip (tk,ts)        hidup
usada (ta)        obat
usir (tk)        usir
usus (ta)        usus
usus-usus (ta)        tali kolor
utang (ta)        hutang
uwa (tg)        sebutan untuk kakak ayah/ibu
uwal (tkr)        terlepas dari ikatan (untuk manusia)
uwan (ta)        uban
uwang (ta)        rahang bawah
uwi (ta)        talas
uyuh        air seni
uyup       hirup (untuk cairan, mis. kuah sayur)

W

waca (tk)        baca
wacana (ta)        wacana, diskursus
wadal (ta)        tumbal
wadanan (ta)        julukan
wadas (ta)        cadas
wadat (tkr)        tidak menikah
wadhag (ta)        jasmani
wadhah (ta)        tempat
wadhang (ts)        masakan kemarin (untuk nasi)
wadhuk (ta)        bendungan
wadhuk (ta)        perut
wadi (ta)        rahasia
wadon (ts)        perempuan
wadul (tk)        mengadu
wagé (tg)        nama pasaran
wagu (ts)        janggal
waja (ta)        gigi
waja (ta)        baja
wajan (ta)        kuali
wajik (ta)        nama jajanan terbuat dari ketan
wajik (ts)        jajaran genjang
walanda (tg)        belanda
walandi (tg)        belalang
walang (ta)        belalang
walèh (tkr)        bosan
wales (tk)        balas
walesan (ta)        gagang pancing
wali (ta)        wali
walik (ta)        balik
waluh (ta)        labu
waluya (ts)        sehat
wana (ta)        hutan
wanara (ta)        kera
wanadri (ta)        hutan rimba
wanci (ta)        waktu
wanda (ta)        suku kata
wanda (ta)        badan
wandé; wandé (ta)        warung
wandu (ts)        banci
wangi (ts)        harum
wangsit (ta)        wahyu
wangun (ta)        bentuk
wangwung (ta)        kumbang
wani (ts)        berani
wanita (ta)        wanita
wanodya (ta)        wanita
wanti-wanti (tk)        berpesan dengan sangat
wanuh (tk)        tahu, kenal
waos (ta)        gigi
waos (tk)        baca
wara-wara (ta)        pengumuman
warah (tk)        tunjuk/ajar
warak (ta)        badak
warangan (ta)        racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)
waranggana (ta)        penyanyi (dengan iringan gamelan)
warangka (ta)        kerangka, sarung keris
waras (ts)        sehat
wareg (ts)        kenyang
warèng (tg)        keturunan ke 5
warga (ta)        warga
wargi; wargi (ta)        warga
warih (ta)        banyu
waris (ta)        waris
waringuten (tkr)        kewalahan
warna (ta)        warna
warok (ta)        orang berilmu (daerah Madiun, Ponorogo, Tenggalek dan sekitarnya)
warsa (ta)        tahun
warta (ta)        berita
warung (ta)        warung
wasis (ta)        pandai
waskitha (ts)        waspada
waspa (ta)        air mata
waspada (ts)        waspada
wastani (tk)        kira, sangka; namakan, sebut
wastra (ta)        laut
watak (ta)        watak
watara (tkr)        kira-kira
watek (ta)        watak
wates (ta)        batas
waton (tkr)        asal-asalan; asalkan
watu (ta)        batu
wau (tg)        tadi
wawacan (ta)        bacaan
wawansabda (tk)        bercakap-cakap
wawas (tk)        pikir, timbang
wawasan (ta)        pikiran, pertimbangan
wayah (ta)        masa/waktu
wayah (ta)        cucu
wayang (ta)        wayang
wayu (ts)        basi
wayuh (tk)        diduakan (oleh suami)
wé (ta)        air
wédang (ta)        minuman hangat
wédang (ta)        air matang
wedhak (ta)        bedak
wedhar (tk)        urai, bahas
wedhi (ta)        pasir
wedi (ts)        takut
wedhon (t       hantu sawah
wédhok (ts)        perempuan
wedus (ta)        kambing
wegah (ts)        enggan
wekas (ta)        pesan
wekasan (ta)        akhir
wekdal; wekdal (ta)        waktu
wektu (ta)        waktu
welas (ta, tk)        rasa kasihan; merasa kasihan
welèh (tk)        balasan setimpal
weling (ta)        ular belang
weling (ta)        pesan
wenang (ts)        berwenang, berhak
wengku (tk)        memangku, menikahi (pria menikahi wanita)
wening (ts)        bening
wengi (tkr, tkr)        malam
wentis (ta)        betis
werdi (ta)        arti
werna (ta)        warna, jenis
weruh (tk)        nampak, tahu
wesi (ta)        besi
wèt (ta)        hukum
wetah ; wetah (ts)        utuh
wétan (tg)        timur
weteng (ta)        perut
weton (ta)        hari kelahiran
wetu (tk)        keluar
wewaler (ta)        pantangan
wéwé (ta)        hantu perempuan
wèwèh (tk)        memberi
wewengkon (ta)        daerah kekuasaan, wilayah
widada (ts)        selamat
widadara/i (ta)        bidadari laki-laki/perempuan
wigati (ts)        penting
wiji (ta)        biji; benih
wijik (tk)        mencuci tangan
wilang (tk)        hitung
wilangan (ta)        bilangan
wilujeng (tkr)        selamat
winarah (tk)        terjadi
wingènané (tg)        dua hari yang lalu
wingi (tg)        kemarin
wingit (ts)        angker
wingking; wingking (tkr)        belakang
winengku (tk)        disunting; diperistri
winisuda (tk)        diwisuda
winih (ta)        benih
wirama (ta)        irama
wirang (ts)        malu
wirid (ta)        kata atau kalimat pujian kepada Allah yang dibaca berulang-ulang
wiridan (ta)        pembacaan wirid
wiring galih (ta)        hitam (ayam jago)
wiron (ta)        bagian dari kain panjang yang dilipat memanjang bersusun yang akan
diletakkan di bagian terluar di depan pada saat kain panjang dikenakan
wiru (tk)        melipat bagian tepi kain panjang menjadi lipatan-lipatan kecil
memanjang bersusun
wis (tkr)        sudah
wisa (ta)        bisa, racun
wisik (ta)        bisikan, wahyu
wisma (ta)        rumah
wisuh (tk)        basuh tangan/kaki
wisuda (tk)        wisuda
wit (ta)        pohon
witikna (tpy)        salah sendiri; mengapa pula
wiwit (tk)        mulai
wondéné (tpy)        sedangkan
wong (ta)        orang
wos (ta)        arti
wos; wos (ta)        beras
wot (ta)        jembatan
wrangka (ta)        sarung keris
wré (ta)        kera
wréda (ta)        yua
wucal; wucal        ajar
wuda (tkr)        telanjang
wudhar (tk)        terurai
wudun (ta)        bisul
wukir (ta)        gunung
wulang        ajar
wulu (ta)        bulu
wulung (ta)        elang
wulung (ts)        ungu tua
wungkuk (ts)        bongkok
wungu (ts)        ungu
wungu: wungu (tk)        bangun
wuninga (ts)        tahu
wuri (tkr)        belakang
wuruk (tk)        tunjuk/ajar
wurung (tkr)        batal
wus (tkr)        sudah
wusana        akhir, kejadian
wuta (ts)        buta
wutah (tk)        tumpah
wutuh (ts)        utuh
wuwung (ta)        bubungan atap
wuwuh (tk)        tambah
wuwus (ta)        bicara, kata-kata
wuyung (ts)        kasmaran
Y
yasa (tk)        membuat
yamadipati (tg)        dewa kematian
yayah (ta)        ayah
yuyu (ta)        kepiting sungai
yayi (tg)        adik
yèn (tpy)        bila, jika
yuta (tw)        juta
yuswa (ta)        umur
yekti  (ts)        sungguh; benar
yuwana (ts)        selamat
yaksa (ta)        raksasa
yatra (ta)        uang

PONPES SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI

Sholawat_Badar-Puput_Novel-TOPGAN

Blogger templates

href="http://www.yayasangurungajiindonesia.com" ' rel='canonical'/>>

Adsendiri

Pasang Iklan Disini

adsend

Pasang Iklan Disini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls