Tampilkan postingan dengan label Tokoh-Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh-Nusantara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Oktober 2014

Pahlawan Patimura Yang Sejarahnya Dipalsukan


Patimura / Thomas Mattulessy 
Thomas Mattulessy merupakan tokoh fiktif yang harus dihapus dari catatan sejarah Indonesia. Yang sesungguhnya ada adalah Patimura yang memiliki nama ash Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy. Tokoh ini lahir di Hualoy, Seram Selatan, wilayah Islam tahun 1783. Ini sekaligus membantah versi pemerintah yang menyebut Patimura lahir di Saparua. Mat Lussy merupakan bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kasim Al¬lah, Pelayan Allah) atau dalam lidah Maluku disebut ‘Kasimiliali’.


Dalam buku biografi versi pemerintah yang ditulis M Sapija dikatakan jika Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayahnya bernama Anthoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.


Keterangan Sapija tersebut janggal. Sapija tidak jujur dengan tidak menuliskan sebagai Pelayan Allah dan Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Lalu Sapija juga mengada-adakan marga Pattimura Mattulessy, padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman. Penulis sendiri pernah langsung berdiskusi dengan salah seorang Panglima Perang Hitu di tahun 1999 dimana dia menyatakan jika Patimura adalah Marga Muslim sedangkan Mattulessy adalah Kristren. Jadi tidak ada yang namanya Patimura Matulessy. Yang beranam Patimura pastilah dia seorang Muslim.

Mansyur Suryanegara menyatakan marga Patimura masih ada sampai kini. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura. Dan lagi, Maluku pada masa itu dipenuhi oleh kerajaan-kerajaan Islam dengan empat kerajaan Islam besar yakni Tidore, Ternate, Bacan, dan Jailolo. Begitu banyak kerajaan Islam di sini sehingga Ibnu Batutah menyebutnya sebagai lazirah al-Mulk’ atau Tana Para Raja.’

Dalam wawancara dengan penulis di kediamannya di Bandung pada 2001, Mansyur menyatakan jika umat Islam itu mayoritas di Maluku dan Ambon, jadi bukan wilayah Kristen. “Ada cara mudah untuk membuktikannya, lihat saja dari dari pesawat yang sedang terbang, akan terlihat banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja di sana.”

Dan lagi, adalah fakta sejarah jika nyaris seluruh perlawanan terhadap penjajah¬apakah itu Portugis, Spanyol, atau pun VOC -Belanda—seluruhnya dibangkitkan oleh tokoh-tokoh Islam. Ini disebabkan antara lain semua penjajah itu membawa misi penyebaran salib. Jadi amat aneh jika ada orang-orang non-Muslim yang juga mengangkat senjata melawan para misionaris imperialis Mi. Bukankah ini berarti perlawanan Para Domba terhadap Sang Gembala? Jelas mustahil. Adalah fakta sejarah pula jika prang¬orang pribumi yang mau memeluk agama kaum penjajah ini akhirnay bergabung dan mau menjadi tentara kaum penjajah yang rnemerangi bangsanya sendiri.

Salah satunya adalah tentara Marsose yang diterjunkan ke Aceh yang terdiri dari orang-orang pribumi non-Muslim yang bekerja melayani para penjajah.

Seluruh perlawanan yang dibangkitkan merupakan perlawanan terhadap upaya 3G (Gold, Glmius, and Gospel) yang dibawa para kafir penjajah. Demikian pula yang dikobarkan Ahmad Lusy Patimura. Pada 1817, Patimura berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua, dan menewaskan residen Van den Bergh. Jihad ini meluas ke Ambon, Scram, dan tempat-tempat lainnya. Jihad yang digelorakan Patimura bisa kita lihat dalam tradisi lisan Maluku yang masih terpelihara hingga kini, yang antara lain beribunyi:
Yami Patasiwa
Yami Patalima
Yami Yama’a Kcpitan Mat Lussy
Matulu lalau Kato Sapambuine Ma Parang kua Kompania
Yami jama’a Kapitan Mat Lussy
Isa Nusa messe
Haro,
Hario,
Manu msi’a yare uleu uleu ‘o
Mane yascunma yare uleu-uleu ‘o
Talano utak; yare uleu-uleu’o.
Melano lette tuttua murine
Yami malawan sua mena miyo
Yami malawan sua mena miyo
(Kami Patasiwa
Kami Patalima
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Semua turun ke kota Saparua
Berperang dengan Kompeni Belanda
Kami semua dipimpin Kapitan Ahrnad Lussy
Menjaga dan mempertahankan
Semua pulau-pulau ini
Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap
Mari pulang semua
Ke kampung halaman masing-masing
Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)
Sudah pulang-sudah pulang
Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau)
Sudah pulang-sudah pulang
Ke kampung halaman mereka
Di balik Nunusaku
Kami sudah perang dengan Belanda
Mengepung mereka dari depan
Mengepung mereka dari belakang
Kami sudah perang dengan Belanda
Memukul mereka dari depan
Memukul mereka dari belakang)
Pertempuran kian sengit. Belanda lagi-lagi minta bantuan dari Batavia. Akhirnya Ahmad Lussy dan pasukannya tertangkap Belanda. Pada 16 Desember 1817, Ahmad Lussy dan para mujahidin Ambon menemui svahid di tiang gantungan kafir Belanda.
Sumber: Eramuslim digest, edisi koleksi 9




Data 2


Meluruskan sejarah Kapitan Ahmad `Pattimura’ Lussy
Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi di zaman ini dia lebih dikenal dengan nama Thomas Mattulessy yang identik Kristen.
Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minoritas atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan/atau Indonesia pada umumnya.
Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.
Pattimura adalah Muslim Taat
Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.
Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.
Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.
Jadi asal nama Thomas Mattulessy dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sebenarnya Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy (Mat Lussy). Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku (yang ada adalah Mat Lussy).
Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.
Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan nama Maluku.
Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku Menemukan Sejarah (yang menjadi best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”
Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy “Pattimura”
Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.
Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.
Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.
Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun nama Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di Cina. Pemerintah nasionalis-komunis Cina berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat. Dalam film Once Upon A Time in China, tokoh kharismatik ini diperankan aktor ternama Jet Li.
Demikianlah pelurusan sejarah Pattimura yang sebenarnya bernama Kapitan Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Wallahu A’lam Bish Shawab.* (dari berbagai sumber)
www.swaramuslim.net

Data 3

MENELUSURI JEJAK PATTIMURA DI BINONGKO
Bukti dan Jejaknya Masih tertata Rapih, di Binongko Patimura di Sebut Kapitan Waloindi
Mengungkap Asal Usul Patimura
Mengungkap jejak asal-usul Patimura berarti mengingatkan kita pada sejarah perjuangan kemerdekaan merebut Benteng Duursetede di Ambon, pada tanggal 16 Mei 1817 M. Nah, Bagaimana kisahnya hingga Patimura disebut Kapitan Waloindi yang tersohor sebagai Pendekar di Bitokawa (Wilayah Kerajaan Buton), selanjutnya di Ambon dikenal dengan nama “ Thomas Matulise Patimura.
Gino Samsudin Mirsab
Di Abad ke 21 ini, banyak para ahli sejarah meneliti situs-situs sebagai fakta sejarah masa lampau dan akhirnya mengangkat nama pejuang yang tidak di kenal asal usulnya, tak terkecuali “Patimura atau di Kerajaan Binongko disebut Kapitan Waloindi”. Pada zamannya Kapitan ini, oleh Colonial Belanda menggelarnya dengan sebutan pembangkang, sebaliknya di mata bangsa Indonesia, Patimura dia dikenal sebagai seorang tokoh pendekar yang santun, murah hatinya dan pejuang hak asasi manusia (HAM).
Saat ini, tak jarang banyak pakar sejarah di tanah air, terpaksa membolak-balikkan fakta sejarah para perjuang Kemerdekaan. Misal Kapitan Waloindi yang setara dengan para pejuang Nasional lainnya di Indonesia. Penelusuran pakar sejarah, ditemukan adanya jejak Patimura. Namun di Binongko oleh kalangan pendahulu Patimura di Binongko, namanya adalah Kapitan Waloindi.
Salah seorang peneliti sejarah La Rabu Mbaru SPd SD, yang ditemui Crew Radar Buton di Binongko mengatakan, sepak terjang pendekar yang satu ini, bukan saja melawan ketidak adilan di wilayah Kerajaan Buton, melainkan juga melakukan perlawanan dengan kalangan penjajah di bumi pertiwi ini. Alkisah, dialah Kapitan Waloindi, salah seorang sosok pendekar pembela rakyat jelata, pembela kebenaran, dan selalu murah hatinya, serta wajib baginya untuk menuntut agar keadilan dibumi pertiwi ini, segera diwujudkan, kata La Rabu Mbaru SPd.SD. Dalam penelusurannya, Kapitan Waloindi bukan saja berjuang melawan penjajah di kepulauan Tukang Besi Bitokawa (saat ini disebut Wakatobi) kerajaan Buton, tetapi juga di wilayah kepulauan Maluku. Karena itu La Rabu Mbaru, dalam uraiannya di buktikan dengan temuan-temuannya, sebagai fakta sejarah dan bukti-buktinya, tutur La Rabu.
“Kapitan Waloindi makamnya ada di Binongko, tegasnya”. Kapitan Waloindi merupakan kisah sejarah masa lampau (bukan merubah sejarah), tetapi hanya menekankan siapa sesungguhnya Kapitan Waloindi itu…?. Dalam fakta-fakta sejarah di Pulau Binongko hingga saat ini masih tersimpan kebenarannya. Karena itu Kapitan Waloindi dalam tradisi lisan rakyat Wali Pulau Binongko, bukan hanya menjadi cerita bersambung antara generasi, melainkan juga disertai dengan bukti-bukti sejarah tercatat pada tahun 1334 M.
Dalam sejarah di Kerajaan Binongko telah berdiri kokoh pada tahun 1334 M, sebelum kedatangan Raja Pati La Soro yang berpusat di Wali Koncu Patua. Selanjutnya pada tahun yang sama dibentuk empat kerajaan bersaudara yang disingkat dengan nama Bitokawa (Binongko, Tomia, Kahedupa, dan Wanse). Sejarah Buton dilegitimasi kebenarannya.
Dikatakannya, Raja Pati LaSoro yang kemudian dikenal dengan nama LaHatimura alias LaMura, alias Kapitan Waloindi, diakuinya berasal dari Tanah Barat yaitu dari wilayah Mongol (Tiongkok-Cina). Adapun sesuai penelusurannya Kapitan Waloindi ditemukan bukan berasal dari Mongol, namun ternyata sejak kecil dia diculik oleh para bajak laut, dan dia kembali masuk ke Indonesia melalui Gorontalo (Sekarang disebut Kabupaten Gorontalo) pada tahun 1334 M.
Selanjutnya Kapitan Waloindi atas informasi yang disampaikan oleh rekan penculiknya sejak masih balita pada saat itu, dia melanjutkan perjalannya menuju ke Pulau Bitokawa tepatnya di Binongko. Maksud kedatangannya di Negeri Bitokawa mencari sanak saudaranya, karena ternyata beliau adalah salah seorang anak cucu Raja Wali Patua Sakti (Sumahi Tahim Alam). La Baru Mbaru dalam penjelasannya, Kapitan Waloindi sesampainya di Pulau Binongko. La Soro bertemu dengan LaKakadu disekitar benteng keramat Oihu (saat ini disebut Kahea Koba). Kahea Koba adalah tempat tanah longsor jatuhnya raja Pati La Soro disaat uji kanuragan kesaktiannya (Hingga hari ini tempat itu, masih mengakui disebut jatuhnya raja Pati LaSoro) oleh masyarakat Lokal binongko.
La Kakadu yang ketika menjamu tamunya, karena mengaku adalah saudaranya yang telah lama menghilang, belum langsung mempercayainya, “kalau benar La Soro (Penemu atau pemilik pulau Bitokawa) adalah saudaraku akan kita buktikan kesaktianmu”, ucap LaKakadu. Tanpa menunggu lama keduanya saling menguji kesaktiannya, yang saat ini masih disebut tempat jatuhnya Raja Pati La Soro. Dalam adu kanuragan LaKakadu menendang Raja Pati LaSoro, hingga terperesok kedalam tanah sedalam 7 depa, selanjutnya di Cabut dari dalam tanah (saat ini disebut Kahea Koba), Kahea artinya Lubang, sedangkan Koba artinya dicabut, jelasnya.
Setelah LaSoro mendapat ujian dari LaKakadu, tibalah gilirannya untuk menguji La Kakadu. Secara tangkas LaSoro memutar Lakakadu dengan menggunakan ujung jarinya, sehingga La Kakadu bermuntah-muntah, lantas dia dilemparkan ke udara dan jatuhnya tepat di tanjung Pemali (Matano Sangia Burangasi) di Pulau Buton. Mengingat karena hal itu hanya ujian kanuragan, LaSoro menarik kembali LaKakadu untuk di kembali ketempat semula di Ohiu Pulau Binongko. Sehingga mulai saat itu keduanya saling membenarkan bahwa keduanya memang bersaudara, anak cucu dari Raja Patua Sumahil Tahim Alam, selanjutnya sebagai fakta sejarah tempat uji coba kesaktian itu, disebut Oihu artinya berarti saudara (Toih’u atau Oih’u), papar La Baru. ”Raja Pati LaSoro yang dikenal Sakti Mandraguna, usianya tercatat lebih kurang 600 tahun, selain itu mempunyai kelebihan atau dalam bahasa Wali (Cia-Cia) disebut (Kalabia Mimbali)”.
Sementara itu La Ode Illa dalam keterangannya kepada Radar Buton mengatakan, Kapitan Waloindi pada tahun 1975, seorang sejarawan Wali bernama Ama Huji, ketika ditemui 4 orang peneliti sejarah yang berasal dari Sumatera, kala itu disaksikan oleh La Ode Illa, La Ode Sehe mantan Kepala Desa Wali yang pernah menjabat pada tahun 1955 - 1979, dan selanjutnya diamini oleh LaOde Jaidi (Iyaro Agama Sarano Wali), sempat mendiskusikan asal-usul Kapitan Waloindi, tepatnya di Baruga Sarano Wali Binongko.
Dalam penjelasannya Iyaro Agama, Raja Pati La Soro yang sering dikenal dengan nama Kapitan Waloindi, berasal dari daerah mongol, namun sebelumnya dalam pencarian sanak saudaranya beliau sempat singga di Gorontalo, selanjutnya menuju ke Binongko. Menariknya dalam kisah pencarian Raja Pati Lasoro ini, setibanya di Binongko, dia La Soro di kabarkan mencari anak cucu Patua (Sumahil Tahil Alam).
Selanjutnya Iyaro Agama menjelaskan, perjuangan Kapitan Waloindi di pulau Tukang Besi ini, sangat besar pengaruhnya. Pasalnya, di Kepulauan Tukang Besi pada saat itu, sedang gencarnya perebutan kekuasaan antara perampok Bajak Laut dari wilayah Tobelo, Ternate, maupun Kerajaan Buton. Karena itu dibutuhkan peranan seorang pahlawan seperti halnya Kapitan Waloindi. Bersama para pejuang lainnya di Kepulauan Tukang besi maka dibangunlah kekuatan Bala tentara, yang hingga saat ini, tidak akan terlupakan dalam lembaran sejarah kerajaan Binongko, karena jasanya menumpas para Bajak laut, hingga saat ini cerita sejarah Kapitan Waloindi dimasyarakat daerah Wakatobi masih selalu diperdengarkan hingga saat ini.
Selanjutnya pada Abat 1334 M, kerajaan Binongko di Wali Koncu patua ketika di taklukan oleh Sapati Baaluwu atas nama kerajaan Buton, maka pada saat itu, empat kerajaan bersaudara Bitokawa masing-masing kerajaan berpusat di Patua Tomia, di Palea Kahedupa, Kerajaan Wanse di Liya Wangiwangi.
Hal ikhwal ditaklukannya kerajaan Bitokawa oleh Kerajaan Buton kala itu, sesuai nara sumber sejarah diwilayah Buton, antara Kapitan Waloindi dan Sapati Baaluwu, sempat terjadi pertempuran antara keduanya selama sehari. Namun karena keduanya tidak nampak akan adanya yang kalah dan menang, maka Kapitan Waloindi, meminta agar pertempuran dihentikan sementara. Dalam jedah waktu tersebut Kapitan Waloindi ketika menatap roman muka Sapati Baaluwu, maupun gerak gerik lawannya itu, yang tidak ada gentarnya.
Maka keduanya berinisiatif, untuk saling membuka rahasia, selanjutnya berunding, untuk tidak memperpanjang pertempuran, guna tidak memakan banyak korban nyawa. Dan dalam bahasa rahasia Kapitan Waloindi memulai membuka Rahasia hidupnya, kalau ingin mengalahkan Kapitan Waloindi, Rahasianya tersimpan ditelapak kakinya. Sapati Baaluwu, mendengar terbukanya Rahasia Kapitan Waloindi...dia berjanji telah tiba saatnya, ”Engkaulah Sapati Baaluwu yang meneruskan Kerajaan Binongko, untuk dipersatukan di bawah naungan Kerajaan Butuni (Buton). Dan bertindaklah yang adil, bijaksana dalam setiap langkahmu”, ungkap Kapitan Waloindi.
Bukti sejarah pertempuran kedua pendekar ini sampai saat ini, masih ada di pantai Pasir Palahidu, dimana secara Haebu (Rahasia), Kapitan Waloindi menyerahkan dengan suka relah telapak kakinya kepada Sapati Baaluwu untuk dibelah kakinya. Dan sejak itu tempat pertarungannya di sebut Pallahidu (Pala artinya Telapak, Hidu artinya Hidup atau Hayat). Hal ini, juga diakui oleh sumber Radar Buton La Herani: pada tahun 2002. Selanjutnya Kapitan Waloindi berkata kepada masyarakatnya, dan sanak keluarganya, ”Kujalau (Aku jalan kaki lewat laut), Jalan tete, jalan tete (Kepergian seorang Kakek), Tamosio-siomo (kita akan berpisah-pisah), Mina dhi Wali Saranakamo LaOde (di Wali akan diserahkannya kepemimpinannya), Asumawimo di Watu Maria Khu Rumope Dhi Ambo Soea (Kumenumpang dipeluruh meriam atau Bedil, Kumenuju Ambon, Soea), sumber La Isamu Kaluku pada tahun 2004.
Diriwayatkan juga, setelah Kapitan Waloindi dibelah kakinya oleh Sapati Baaluwu, maka Kapitan Waloindi menghilang secara misterius menuju Timur, Ambon, dan tinggal di Gunung Soea, untuk melanjutkan pertapaannya. Keberadaan Kapitan Waloindi, di gunung Soea Ambon tidak diketahui orang-orang Bitokawa (Wakatobi), maupun orang Buton yang lebih dahulu bermukim di Ambon, kecuali orang-orang yang bisa memegang rahasia (Manusia Rahasia), baru dapat mengenalnya.
Pada tahun 1511 M, setelah sekian lama Kapitan Waloindi bermukim di gunung Soea Ambon. Namun tidak seorangpun yang tahu kalau beliau adalah seorang yang Ksatria dan mandraguna. Beliau dianggap orang biasa saja. Kapitan Waloindi mulai dikenal sebagai pendekar setelah dia masuk tentara Protugis pada tahun 1511 M, selanjutnya bertempur dengan unifprm pasukan tentara Protugis, menyerang dan memukul mundur pasukan Belanda. Karena itu, maka dia Kapitan Waloindi serya membangkitkan semangat rakyat Ambon Maluku, dia juga membentuk pasukan bala tentara untuk menghadapi ancaman penjajah Belanda (VOC).
Sebagai teman karib Kapitan Waloindi yang setia masing-masing; LaTulukabesi (Raja Hitu), Paulus Tiahahu, Cristina Marta Tiahahu (seorang anak putri Paulus Tiahahu) dan Kapitan Patipelohi (Patipelong), berjuang bahu membahu untuk mengusir penajajah Belanda, kala itu, dikenal dengan merebut Benteng Duursetede Ambon dari tanggal 15-16 Mei 1817.
Setelah menguasai Benteng Duursetede Ambon, dia Kapitan Waloindi yang lebih akrab dipanggil sahabat-sahabatnya dengan nama Patimura, karena Hatinya murah, mulia. Selain itu Kapitan Waloindi juga dipanggil oleh sahabat-sahabatnya La Hatimura atau LaMura. Disebutkannya dengan nama Patimua itu, karena dia Raja Pati yang berhati mulia (bermurah hati), beliau relah membantu orang-orang yang lemah dan teraniaya, sehingga gelarnya semakin lama, maka oleh sahabat-sahabat, mengkukuhkan namanya menjadi, ”Thomas Matulesi Patimura”. Berdasarkan kajian riwayat sejarah lisan kuno Wali Binongko, yang digantung oleh Belanda didepan Benteng Victoria Kota Ambon pada tanggal 16 Desember 1817 itu, adalah bukan Patimura, melainkan seorang mata-mata Belanda yang kebetulan wajahnya sama, mirip dengan Patimura.
Sedangkan Kapitan Waloindi atau Patimura telah merubah wajah bersama La Tulukabesi (Raja Hitu), Paulus Tiahahu, Cristina Tiahahu, dan Kapitan Patipelohi kala itu sedang dalam tahanan Belanda, selanjutnya mereka diasingkan ke tanah jawa. Namun ketika diberangkatkan dengan kapal, sesampainya di sekitaran Laut Buru, kapal tersebut kehabisan makanan dan air minum. Maka kalangan pendekar yang menjadi tahanan Belanda dikapal tersebut, melakukan pemberontakan, dan membunuh habis para penghianat (Belanda) selanjutnya mengarahkan kapal tersebut ke Pulau Tukang Besi, tepatnya dipantai Patuhuno (orang yang turun), dan saat ini disebut ”Patuno”, pulau wangi-wangi.
Keberadaan tahanan Belanda ini, setibanya di pulau Wangiwangi disambut dengan gembira oleh masyarakat Wangiwangi. Namun mata-mata Belanda sebaliknya tidak tinggal diam, malah melaporkannya, berada di pulau Wangiwangi. Raja Hitu (Latulukabesi), bersama Paulus Tiahahu, dan Cristina Tiahahu mendengar telah diketahui oleh mata-mata Belanda tentang keberadaannya di Wangiwangi, setelah mendapat tumpangan mereka kembali ke Ambon, tanpa diketahui oleh mata-mata Belanda.
Sedangkan Kapitan Patipelohi (Patipelong) menuju ke Pulau Tomia dan kawin dengan putri Ince Suleman (Dato Suleman) penyiar agama Islam di Tomia. Sementara Kapitan Waloindi kekampung halaman di Binongko menemui anak cucunya yang kala itu dia tinggalkan kurang lebih 483 tahun.
Ironisnya, setibanya Kapitan Waloindi di Binongko terdengar oleh mata-mata Belanda dan akhirnya beliau dicari oleh Belanda hingga sampai ke pulau Binongko. Namun ketika Kapal Belanda yang memuat 7 Kompi Bala Tentara Belanda untuk menangkap Patimura, malah yang terjadi sebaliknya tentara Belanda dihabisi oleh Kapitan Waloindi.
Sebagai Bukti peninggalan sejarah, kapal Belanda yang berlabuhnya di Taduna itu oleh masyarakat Binongko, tempat itu diberi nama kampung Nato, letaknya tidak jauh dari pantai perkampungan Walanda (Belanda), meskipun hingga saat ini masih dirahasiakan.
Kampung lama atau Kampung Molengo atau mangingi, disinilah Kapitan Waloindi menghembuskan nafas terakhirnya, dan nama Kapitan Waloindi telah diabadikan menjadi nama desa, di kecamatan Togo Binongko Wakatobi. Kesaktian Kapitan Waloindi di Zaman seperti ini, sepertinya tidak masuk akal, namun tidak salah untuk kita kagumi, karena hal itu terjadi pada zamannya.

Kamis, 16 Oktober 2014

Pangeran Diponeoro Tokoh dan Pahlawan Islam


Diponegoro, Singa Jawa dari Keraton Yogjakarta


Beliau seorang Mujahid keturunan Raja Yogjakarta. Seluruh nafas kehidupannya diabadikan untuk kemerdekaan Tanah Jawa, dengan bersendikan ajaran agama Islam.

Tegalrejo 29 Juli 1825. Wilayah di bawah pimpinan Chevallier pasukan gabungan Belanda dan orang-orang patih Darurejo IV menyerbu laskar-laskar Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo, sebuah desa kecil yang terletak di barat laut Keraton Yogjakarta. Dentuman meriam dan bunyi letupan senapan membahana di seluruh penjuru desa.

Menghadapi serangan itu, kedua Pangeran bersama laskarnya segera menyingkir ke tempat yang lebih aman. Mereka menyadari, perang di medan yang amat sempit tidak menguntungkannya. Pangeran Diponegoro akhirnya memilih tempat yang lebih strategis untuk basis peperangannya di bukit Selangor, sebuah tempat yang dikelilingi lembah , benteng-benteng alam dan Gua, yang biasa dipergunakan bertapa. Tempat itu terletak 10 Km di sebelah barat daya kota Yogjakarta. Sedangkan keluarganya diungsikan ke desa Dekso.

Di lain pihak, Chevallier terus melancarkan serangan dahsyat dengan mengerahkan seluruh pasukan dan persenjataan yang dimiliki. Alhasil, Chavalier dalam waktu singkat mampu menguasai Tegalrejo. Sayangnya, Tegalrejo telah kosong melompong. Bakar…. Bakar saja rumah Diponegoro sampai habis! Seru Chavalier di tengah kemarahan dan kedongkolan hatinya karena buruannya telah kabur.

Tanpa membuang waktu lagi, tentara gabungan itu membakar rumah Diponegoro dan puluhan rumah lain di sisi kanan kirinya. Dari kejauhan, di balik bukit terjal, di atas Kuda Getayu, Pangeran Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi beserta seluruh anggota laskarnya menyaksikan dengan sedih pembumihangusan puluhan rumah tersebut.

Sebaliknya berita penyerangan Belanda ke Tegalrejo cepat menjalar ke seluruh pelosok Yogjakarta dan Surakarta. Sebagian besar rakyat tanpa dikomando berduyun-duyun datang ke Selangor lengkap dengan persenjataannya. Dari Surakarta, datang ulama Bayat, dan laskar-laskar yang di komandoi oleh Kyai Mojo dan Tumenggung Prawirodigdoyo. Dari kesultanan Yogjakarta, tidak kurang 74 bangsawan akhirnya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro di Selangor. Diantara kerumunan Bangsawan itu, terdapat Sentot Prawirodirjo, seorang Senopati muda yang belum berusia 18 tahun, putra Raden Ronggo Prawirodirjo III. Seperti halnya sang ayah, Sentot kemudian tampil sebagai pejuang besar yang sangat di takuti pihak Belanda.

Propaganda perang melawan bangsa kafir segara dilakukan di mana-mana, di Yogjakarta, Jayanegara segera membuat surat edaran untuk seluruh rakyat Mataram. Isinya mengajak berjuang bersama Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi mengusir kaum penjajah Kafir Belanda. Di wilayah luar Yogjakarta, seperti Kedu, Banyumas dan sekitarnya, ajakan jihad fi sabilillah di sampaikan oleh Kyai Kasan Besari yang disambut rakyat dengan gegap gempita.

Sesuai dengan saran Sinuhun Paku Buwono VI, laskar-laskar Diponegoro menggunakan taktik dan strategi perang “Dhedhemitan” alias “Gebag ancat nrabas geblas”. Menyerbu secara tiba-tiba dan kemudian dengan cepat menghilang dibalik hutan-hutan, Gua, Bukit, atau kegelapan malam.

Rupanya taktik dan perang anggota laskar Diponegoro sangat menakutkan pihak Belanda. Tidak mengherankan, bila pada tahun-tahun pertama pihak Belanda kewalahan dan banyak mengalami kekalahan.

Kemenangan pertama Pangeran Diponegoro dan laskarnya didapat di desa Pisangan, perbatasan Muntilan dan Yogjakarta. Laskar Diponegoro yang dipimpin oleh Mulyo Santiko dengan gagah berani mencegah iring-iringan pasukan Belanda yang berjumlah sekitar 120 orang yang berusaha masuk ke Yogjakarta. Mereka berhasil menghancurkan seluruh pasukan Belanda itu. Uang sebesar 50.000 gulden dapat dirampas berikut alat-alat perangnya. Kemenangan pertama ini segera di ikuti oleh kemenangan-kemenangan berikutnya. Pada 6 Agustus 1825, pasukan Diponegoro yang dipimpin para panglimanya yang gagah berani berhasil menghancurkan markas Belanda di Pacitan, menyusul kemudian Purwodadi.

Kemenangan demi kemenangan tentu saja dapat mengobarkan semangat rakyat untuk bersama-sama bangkit melawan Kafir Belanda. Perangpun makin meluas sampai ke Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang dan Madiun.

Kekalahan beruntun yang dialami Belanda, memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda segera mengirim Letnan Jenderal Markus De Kock ke Jawa Tengah sebagai panglima angkatan perang Belanda. Jenderal De Kock mendapat kekuasaan untuk menjalankan segala tindakan dalam menangani peperangan.

Jenderal De Kock dengan licik segera menyebarkan politik pecah belah, dan mengadu domba. Ia segera menemui dan memaksa Sunan Pukubuwono VI, dan Mangkunegoro II, dan Paku Alam I agar bersedia membantu Belanda. Ia juga mengerahkan bantuan pasukan pribumi itu untuk menggempur markas pasukan Diponegoro di Selarong. Namun, beruntung gerakan pasukan gabungan ini sudah dapat di ketahui oleh mata-mata Pangeran Diponegoro. Semua laskar dan pimpinannya segera bersembunyi. Akibatnya, ketika pasukan Belanda menguasai Selarong pada malam hari, mereka hanya menemukan bukit dan Gua yang sudah kosong. Pasukan Belanda pun mundur dan kembali pulang dengan tangan hampa.

Tidak beberapa lama tentara Belanda pulang, malam itu juga Pangeran Diponegoro segera mengadakan pertemuan dengan para Senopatinya. Mereka membahas untuk segera memindahkan markasnya di Selarong. Semua sepakat. Desa Deksa yang jaraknya sekitar 23 Km dari Yogjakarta dijadikan markas baru.

Pertempuran kembali berkobar diseluruh Mataram. Hasilnya pada Januari 1826 Pangeran Diponegoro berhasil merebut dan menguasai daerah Imogiri dan Pleret, di susul daerah Lengkong, Kasuran dan Delangu.

Bagi pihak Belanda, kekalahan beruntun itu justru membuat Jenderal De Kock makin nekad. Ia mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat Belanda untuk menambah anggaran perang. Anggaran itu rencananya untuk membuat benteng Stelsel. Tujuannya untuk mempersempit ruang gerak Pasukan Diponegoro di daerah-daerah yang di kuasai Belanda. Pelaksanaan benteng Stelsel juga dimaksudkan untuk mengadakan tekanan kepada Pangeran Diponegoro agar bersedia menghentikan peperangan.

Di wilayah Mataram kemudian muncul benteng-benteng Belanda yang kukuh, seperti di Bantul, Paluwatu, Pasargede, Jatinom, dan Delangu. Tidak kurang dari 165 buah benteng telah di dirikan Belanda untuk mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro. Tekanan dari Belanda ini masih ditambah dengan adanya Bupati-bupati daerah yang memihak kepada Belanda, sehingga sangat menyulitkan komunikasi laskar Diponegoro antar daerah. Akibatnya, perlawanan itu menjadi mudah dipatahkan oleh pasukan Belanda. Pasukan Bulkiyo mulai menghadapi masa-masa sulit.

Di tengah kesulitan itu, Pangeran Diponegoro mengumpulkan para sesepuh dan Senopati membahas perkembangan dan situasi di medan perang. Pertemuan itu dilakukan di pesanggrahan Bagelan. Hasilnya mereka tetap melanjutkan perjuangan sampai kemerdekaan bumi tanah Jawa tercapai. Akibatnya, tidak sedikit laskar Pengeran Diponegoro yang gugur. Pangeran Kusumowijoyo yang mengobarkan pertempuran di Keraton Surakarta, akhirnya gugur di Lembah Kali Serang. Ia kemudian dikenal dengan nama Pangeran Serang, dan istrinya Raden Ajeng Kusriyah juga gugur di Dekso, Kulon Progo. Tidak berapa lama kemudian, gugur pula Tumenggung Prawirodigdoyo dari Gagatan. Ia gugur di medan tempur Klengkong saat memimpin 100 prajuritnya melawan tentara Belanda yang jumlahnya berlipat-lipat dengan dukungan meriam dan senjata laras panjang.

Belum lagi hilang rasa duka, kabar yang mengejutkan menyusul, Gusti Pangeran Notodiningrat bersama istri dan ibundanya dan tidak kurang dari 200 pengikutnya menyerah kepada Belanda di Yogjakarta. Dengan keberhasilan Belanda mempengaruhi Pangeran Notodiningrat Jenderal De Kock semakin gila mendekati pemimpin-pemimpin laskar Pangeran Diponegoro. Ia menjanjikan kedudukan dan hadiah-hadiah berlimpah bila mau menyerah dan mendukung Belanda. Satu bulan kemudian, Belanda kembali berhasil membujuk salah seorang panglima laskar Diponegoro, yaitu Pangeran Arya Papak dan Tumenggung Ario Sosrodilogo.

Kiai Mojo yang menjadi tulang punggung kekuatan pasukan perang Pangeran Diponegoro, akhirnya juga menyerah kepada pasukan Belanda. Menyerahnya Kiai Mojo merupakan pukulan berat bagi Pangeran Diponegoro dan laskar-laskarnya. Tetapi Pangeran Diponegoro bertekad untuk tidak menyerah dan tetap mengobarkan perlawanan.

Pada 20 Desember 1828, Laskar Pangeran Diponegoro segera melancarkan serangan dahsyat terhadap markas Belanda di Nanggulan. Dalam pertempuran itu Kapten Van Inge tewas, sedang dari pihak pasukan Diponegoro kehilangan Senopatinya yang gagah berani, Pangeran Prangwedono.

Berita hancurnya benteng Nanggulan, membuat jenderal De Kock semakin ketakutan, sebab ia selalu melihat sosok Senopati Sentot sebagai momok yang sangat berbahaya. Karena jenderal De Kock terus berupaya membujuk Sentot dengan berbagai cara agar mau menyerah. Tapi, Senopati muda itu tetap menolaknya. Belum berhasil membujuk Sentot, ia berhasil memperalat dan menekan Pangeran Ario Prawirodiningrat, Bupati Madiun, untuk menyerah. Sebabnya, jika tidak mau menyerah taruhannya adalah nyawa sepupunya.

Setelah Pangeran Ario Prawirodiningrat menyerah, menyusul Sentot Prawirodirjo dan Pangeran Mangkubumi. Menyerahnya dua Pangeran yang gagah berani ini membuat Pangeran Diponegoro kembali terpukul telak dan membawa beban moral, tidak hanya dalam dirinya, tetapi juga kepada seluruh prajurit Bulkiyo. Belum lagi batin Pangeran Diponegoro sembuh di akhir tahun 1829, satu persatu Senopati daerah menyusul jejak Senopati Sentot dan Pangeran Mangkubumi, antara lain, Pangeran Ario Suriokusumo, Kerto Pengalasan, pahlawan medan tempur Pleret, dan Pangeran Joyosudirjo

Rupanyan Pangeran Diponegoro tak bergeming, meski hatinya tertekan, ia tetap melanjutkan perjuangannya dan tetap menaruh kepercayaan atas kesetiaan rakyat Bagelan, Banyumas, dan Kedu. Usaha Jenderal De Kock untuk mempercepat peperangan rupanya tidak berhasil. Meski jauh sebelumnya Jenderal ini sudah menjanjikan 20.000 ringgit kepada siapa saja yang sanggup menangkap hidup atau mati Pangeran Diponegoro. Segenap rakyat dan laskar-laskar Pangeran Diponegoro tidak mau mengkhianati pemimpin yang agung ini.

Tapi, Jenderal De Kock tidak putus asa, melalui Kolonel Cleerrens, akhirnya bisa membujuk putra Pangeran Diponegoro, yaitu Pangeran Dipokusumu, untuk menyerah. Penyerahan putra kesayangannya itu benar-benar membuat Pangeran Diponegoro terluka. Maka pada bulan Februari 1830, ketika Kolonel Cleerens menawarkan jalan perundingan, terpaksa Pangeran Diponegoro menerimanya dengan berat hati. Dua musuh bebuyutan inipun bertemu di Remo Kamal, Bagelan, Purworejo, pada tanggal 16 Februari 1830. Cleerens kemudian mengusulkan agar kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di kaki bukit Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal markus De Kock dari Batavia.

Dengan janji tidak dikhianati, Pangeran Diponegoro bersedia mengadakan perundingan. Pada bulan Maret 1830, ia dengan pasukannya tiba di tempat perundingan, dirumah Residen Magelang. Bersama Kolonel Cleerens, Pangeran Diponegoro menuju ruang kerja Jenderal De Kock. Beberapa putra Diponegoro dan perwira Belanda ikut menyaksikan jalannya perundingan tingkat tinggi tersebut.

Sekitar dua jam sudah perundingan berlangsung, tapi belum membuahkan hasil. Berkali-kali Jenderal De Kock mencoba membujuk agara Pangeran Diponegoro mengurangi tuntutannya. Tapi Pangeran Diponegoro tetap teguh pada pendiriannya. Mendirikan sebuah Negara merdeka yang bersendikan agama Islam. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, apabila perundingan menemui jalan buntu, Pangeran Diponegoro boleh meninggalkan ruangan itu dengan bebas. Tapi kenyataannya, Jenderal De Kock curang, “Tangkap tangkap Diponegoro dan semua pengikutnya”, teriak De Kock kepada pasukannya sambil menodongkan pistol kearah Pangeran Diponegoro. Sejurus kemudian, Pangeran Diponegoro beserta para pengikutnya ditangkap dan dijebloskan dalam sebuah penjara yang amat pengap. Hari- hari terakhir pangeran Diponegoro dihabiskan di dalam penjara.
(http://kisahislami.com/pangeran-diponegoro-singa-jawa-dari-keraton-yogjakarta/)

Jumat, 07 Maret 2014

Makalah Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari

Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
KH. M. Hasyim Asy’ari adalah salah seorang pendiri lembaga peasantren di semping sebagai tokoh yang memiliki pemikiran di berbagai disiplin, diantaranya teologi, tasawuf, fiqh, dan kependidikan. Bahkan, masyarakat Indonesia agaknya lebih mendukung beliau sebagai tokoh awal yang membuat mata rantai trasionalisme di Indonesia, gara-gara dia meletakkan kerangka dasar pendirian Nahdlatul Ulama’, seuah organisasi sosial keagamaan yang saat ini terbesar di Indonesia.
KH. M. Hasyim Asy’ari telah menyediakan sebuah risalah kependidikan secara khusus,yakni kitabAdab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi. Oleh karena itu, pada penulisan makalah ini akan terfokus pada konsep pendidikan KH. Hasyim Asy’ari pada buku tersebut.
  1.  Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka dalam penulisan makalah ini dapat kami rumuskan sebagai berikut:
    1. Bagaimana risalah hidup KH. M. Hasyim Asy’ari ?
    2. Bagaimanakah konsep pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari?
    3. Bagaimanakah analisis konsep pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari?
  1. Tujuan Penulisan
Dari uraian rumusan masalah di atas maka dapat ditentukan tujuan penulisan makalahini adalah:
    1. untuk menjelaskan risalah hidup KH. M. Hasyim Asy’ari.
    2. untuk menjelaskan konsep pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari.
    3. Untuk menjelaskan analisis konsep pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari.
  1. Manfaat Penulisan
    1. Dapat dijadikan sebagai pedoman oleh para pendidik dan orang tua yang mempunyai tugas dalam hal mendidik anak. Diharapkan mereka dapat menerapkan konsep pendidikan KH. Hasyim Asy’ari yang terdapat dalam buku Adab al-alim wa al-muta’allim yang menjelaskan tentang pelbagai hal yang berkaitan dengan etika orang yang menuntut ilmu dan seorang guru.
    2. Bagi peserta didik, dengan penulisan makalah ini diharapkan dapat dijadikan pedoman landasan dan pedoman dalam belajar dan menuntut ilmu sehingga dapat sukses dan mencapai ilmu yang bermanfaat.
    3. Memberikan wawasan disiplin ilmu baik bagi seorang guru ataupun bagi seorang peserta didik.


BAB II
LANDASAN TEORI
KONSEP PENDIDIKAN KH. M. HASYIM ASY’ARI
  1. A.    Riwayat Hidup KH. M. Hasyim Asy’ari
  1. Biografi.
Nama lengkap KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim yang mempunyai gelar Pangeran Bona ibn Abdur ar-Rohman yang dikenal dengan Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya ibn Abdullah Ibn Abdul Aziz ibn Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden Ainul Yaqin disebut Sunan Giri. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur pada hari Selasa kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan pada tanggal 14 Februari 1871. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 25 Juli 1947 pukul 03.45 dini hari bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan tahun 1366 dalam usia 79 tahun.[1]
Pada masa muda KH. Hasyim Asy’ari, ada dua sistem pendidikan bagi penduduk pribumi Indonesia, Pertama adalah sistem pendidikan uyang disediakan untuk para santri muslim di pesantren yang focus pengejarannya adalah ilmu agama. Kedua adalah sistem pendidikan barat yang dikenalkan oleh kolonial Belanda dengan tujuan menyiapkan para siswa untuk menempati posisi-posisi administrasi pemerintahan baik tingkat rendah maupun menengah.[2]
Semasa hidupnya, KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, Abd al-Wahid, terutama pendidikan di bidang Al-qur’an dan penguasaan beberapa literature keagamaan.Setelah itu ia pergi untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang meliputi Shona, Siwalan Baduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Sidoarjo. Setelah menimba ilmu di pondok pesantren Sidoarjo, ternyata KH. Hasyim Asy’ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya. Ia berguru kepada KH. Ya’kub yang merupakan kyai di pesantren tersebut. Kyai Ya’kub lambat laun merasakan kebaikan dan ketulusan KH. Hasyim Asy’ari sehingga kemudian ia menjodohkannya dengan putrinya, Khadijah. Tepat pada usia 21 tahun.
Setelah menikah, KH. Hasyim Asy’ari bersama istrinya Segera melakukan ibadah haji. Sekembalinya dari tanah suci, mertuanya menganjurkannya untuk menuntut ilmu di Makkah. Menuntut ilmu di kota mekkah sangat diidam-idamkan oleh kalangan santri saat itu, terutama dikalangan santri yang berasal dari Jawa, Madura,Sumatera dan kalimantan. Secara struktur sosial, seseorang yang mengikuti pendidikan di Makkah biasanya mendapat tempat lebih terhormat dibanding dengan orang yang belum pernah bermukim di Makkah, meski pengalaman kependidikannya masih dipertanyakan.
Dalam perjalanan pencarian ilmu pengetahuan di Makkah, KH.Hasyim Asy’ari bertemu dengan beberapa tokoh yang kemudian dijadikannya sebagai guru-gurunya dalam berbagai disiplin. Diantara guru-gurunya di Makkah yang terkenal adalah sebagai berikut. Pertama, Syaikh Mahfudh al-Tarmisi, seorang putera kyai Abdullah yang memimpin pesantren Tremas. Dikalangan kyai di Jawa, Syeikh mahfudh dikenal sebagai seorang ahli Hadist Bukhari. Kedua, Syaikh Ahmad Khatib dari Minangkabau. Syaikh Ahmad Khatib menjadi ulama bahkan sebagai guru besar yang cukup terkenal di Makkah, di samping menjadi salah seorang imam  di Masjid al-Haram untuk para penganut Mazhab Syafi’i. Ketiga, KH. Hasyim Asy’ari berguru kepada sejumlah tokoh di Makkah, yakni Syaikh al-Allamah Abdul Hamid al-Darutsani dan Syaikh Muhammad Syuaib al-Maghribi. Selain iyu, ia berguru kepada Syaikh Ahmad Amin al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan al-Attar, Syaikh Sayid Yamay, Sayyid Alawi ibn Ahmad as-Saqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawy, Syaikh Shaleh Bafadhal dan Syaikh Sultan Hasyim Dagatsani.[3]
Diantara ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh KH M. Hasyim Asy’ari selama di Makkah, adalah Fiqh, dengan konsentrasi mazhab Syafi’i, ulum al-Hadist, tauhid, tafsir,  tasawuf, dan ilmualat (nahwu, sharaf,  mantiq, balaghah dan lain-lain). Dari beberapa disiplin ilmu itu,  yang menarik perhatian beliau adalah disiplin hadist imam Muslim. Hal ini didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa untuk mendalami ilmu hukum Islam, disamping mempelajari al-Qur’an dan tafsirnya secara mendalam, juga harus memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai hadis dengan syarh dan hasyiyah-nya. Untuk itulah, disiplimn hadist menjadi yang sangat penting untuk dipelajari.
Perjalanan intelektal KH. Hasyim Asy’ari di Makkah berlangsung selama 7 tahun. Masa ini tampaknya telah membuat beliau memiliki kecakapan-kecakapan sendiri, terutama dalam pengetahuan keagamaan. Oleh karena itu, pada tahun 1900 M, beliau pulang kampung halamannya. Dalam catatan Zamarkhsyi Dhofier, setelah beberapa bulan kembali ke Jawa, beliau mengajar di pesantren Gedang, sebuah pesantren yang didirikan oleh kakeknya KH. Usman. Setelah mengajar di pesantren ini, ia membawa 28 orang santri untuk mendirikan pesantren baru dengan seizin kyainya.
Dengan dukungan itulah, diantaranya KH. Hasyim Asy’ari berpindah tempat dengan memilih daerah yang penuh tantangan yang dikenal dengan daerah ”hitam”. Tepat pada tanggal 26Rabiul Awwal 1320 H. Bertepatan dengan 6 Februari 1906 M, KH Hasyim Asy’ari mendirikan pondok pesantren Tebuireng. Di pesantren inilah banyak melakukan aktivitas-akivitas sosial-kemanusiaan sehingga ia tidak hanya berperan sebagai pimpinan pesantren secara formal, tetapi juga pemimpin kemasyarakan secara informal.
Sebagai pemimpin pesantren, beliau melakukan pengembangan instiusi pesantrenya, termask mengadakan pembaharuan sistem dan kurikulum. Jika pada saat itu pesantren hanya mengembangkan sistem halaqah, maka beliau mmperkenalkan sistem belajar madrasah dan memasukkan kurikulum pendidikan umum, disamping pendidikan keagamaan.
Aktifitas KH. Hasyim Asy’ari di bidang sosial yang lain adalah mendirikan organisasi Nahdhaul Ulama, bersama dengan ulama besar lainnya, seperti Syaikh Abdul Wahab da Syaikh Bishri Syansuri, pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H. Organisasi yang didirkannya ini memiliki tujuan untuk memperkokoh pengetahuan keagamaan di kalangan masyarakat, sebagaimana termaktub dalam Statuten Perkoempoelan Nahdlatoul-’Oelama,;. Fatsal 2.Adapoen maksoed perkoempoelan ini jaitoe:”memegang dengan tegoeh pada salah satoe dari mazhabnja Imam empat, jaitoe Imam Moehammad bin Idris asj-Sjafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Aboe Hanifah an-Noeman, atau Imam bin Hambal, dan mengerdjakan apa sadja jang mendjadikan kemaslahatan Agama Islam”.
Organisasi Nahdlatul Ulama’ ini didukung oleh para ulama, terutama ulama Jawa dan komunitas pesantren. Memang pada awalnya, organisasi ini dikembangkan untuk meresponi wacana negara khilafah dan gerakan purifikasi yang dimotori oleh Rasyid Ridla di Mesir. Akan tetapi, pada perkembangannya kemudian organisasi itu melakukan rekontruksi social keagamaan yang lebih umum. Dewasa ini, Nahdlatul Ulama berkembang menjadi organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia.
KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H di kediaman beliau, yaiu Tebuireng Jombang, dan dimakamkan di Pesantren yang beliau bangun.[4]
Karya tulis KH. Hasyim Asy’ari
Sebagai seorang intelektual, KH Hasyim Asy’ari telah menyumbangkan banyak hal yang berharga bagi pengembangan peradaban , diantaranya adalah sejumlah literatur keagamaan dan sosial. Karya-karya tulis KH. Hasyim Asy’ari yang terkenal adalah sebagai berikut:
    1. Adab al-alim wa al-muta’allim, yang menjelaskan tentang pelbagai hal yang berkaitan dengan etika orang yang menuntut ilmu dan seorang guru.
    2. Ziyadat Ta’liqat, sebuah tanggapan atas pendapat Syaikh Abdullah bin Yasin Pasuruan yang berbeda pendapat tentang NU.
    3. At Tanbihat al Wajibat Liman Yasna’ul  al Maulid bi al Munkarat, yang menjelaskan tentang orang-orang yang mengadakan perayaan maulid nabi dengan kemungkaran.
    4. Ar Risalah al Jami’ah, menjelaskan tentang keadaan orang yang meninggal dunia, tanda-tanda kiamat, serta ulasan tentang sunnah dan bid’ah.
    5. Annur al Mubin fi Mahabbati Sayyid al Mursalin, menjelaskan tentang cinta kepada Rasul dan hal-hal yang berhubungan dengannya, menjadi pengikutnya dan menghidupkan tradisinya.
    6. Ad Durar al Muntasirah fi al masail at Tis’a ’Asyarata, menjelaskan tentang persoalan tarekat, wali, dan hal-ha; penting lainnya yang terkait dengan keduanya atau pengikut tarekat.[5]
    7. Dan banyak karya-karya tulis lainya yang telah dibuat oleh KH Hasyim Asy’ari.

  1. B.     Deskripsi Pemikiran Kependidikan KH.Hasyim Asy’ari
  1. Masterpiece KH. Hasyim Asy’ari: Adab al-Alim
Karya kependidikan KH. Hasyim Asy’ari berjudul Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi. Karya ini selesai disusun oleh KH. M. Hasyim Asy’ari pada hari Ahad 2 Jumaday al-Tsani  1343 H. Beliau menulis kitab ini atas kesadaran akan perlunya literature yang membahas tentang etika (adab)dalam mencari ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan pekerjaan agama yang sangat luhur sehingga orang yang mencarinya harus memperlihatkan etika-etika yang luhur pula. Dalam hal ini, beliau tampaknya berkeinginan bahwa dalam melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan itu disertai oleh perilaku sosial yang santun (akhlakul karimah).
Bagi kalangan pesantren, kitab ini bukanlah literature baru yang mereka jumpai. Terutama di pesantren Jawa timur, kitab tersebut menjadi buku Dars yang selalu dikaji. Buku ini telah dicetak dalam jumlah yang relatif banyak untuk terbitan pertama di cetak tahun 1415 H. Oleh maktabah al-turats al-islamy pondok pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.[6]
  1. Kandungan ‘Adab al-‘Alim
Kitab Adab al-alim wa al-muta’allim, secara keseluruhan terdiri dari 8 bab, yang berisi tentang:
  1. Kelebihan ilmu dan ilmuwan.
Tujuan utama ilmu pengetahuan yang sesungguhnya adalah mengamalkan ilmu dalam tingkat lebih praktis, yakni dengan memanifestasikan dalam bentuk perbuatan. Perbuatan-perbuatan yang didasarkan atas ilmu pengetahuan akan memberi kemnfaatan tersendiri yang menjadi bekal dalam kehidupan di akhirat. Mengingat hal ini, syariat Islam mewajibkan umat Islam, dengan tidak membedakan jenis kelamin  untuk menuntut ilmu pengetahuan. Menurut KH Hasyim Asy’ari dalam menuntut ilmu itu perlu diperhatikan dua hal, yakni: Pertama, Bagi murid hendaknya memiliki niat yang suci dan luhur, yakni semata-mata menuntut ilmu. Kedua, sebagaimana bagi murid, demikian juga bagi seorang guru/ulama yang mengajarkan ilmu hendaknya mempunyai niat yang lurus, tidak mengharapkan materi semata-mata. Selain itu, guru hendaknya menyesuaikan antara perkataan dengan perbuatan.
Mengenai kelebihan ilmuwan dengan orang awam, itu bagaikan bulan purnama dan cahaya bintang oleh karena itu, siapa saja yang mengusahakan mencari ilmu pengetahuan maka ia akan ditinggikan derajatnya.[7]
  1. Tugas dan tanggung jawab peserta didik
-          Etika yang harus dicamkan dalam diri peserta didik
Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, ada sepuluh tuntunan etika yang perlu diperhatikan oleh peserta didik. Tuntunan itu adalah (1) membersihkan hati dari berbagai gangguan material keduniaan dan hal-hal yang merusak sistem kepercayaan; (2) membersihkan niat, dengan cara meyakini bahwa menunut ilmu hanya didedikasikan kepada Allah swt semata; (3) mempergunkan kesempatan belajar (waktu)dengan sebaiknya;(4) merasa cukup dengan apa yang ada dan menggunakan segala sesuatu yang lebih muda sehingga tidak merasa sulit; (5) pandai mengatur waktu; (6) tidak berlebihan dalam makan dan minum; (7) berusaha menjaga diri (wara’); (8) menghindarkan makan dan minum yang menyebabkan kemalasan dan kebodohan; (9) menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan; (10) meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.[8]
-          Etika seorang peserta didik terhadap Pendidik/guru
Menurut KH. Hasyim Asy’ari paling tidak ada 12 etika yang perlu dilakukan, yakni: (1) melakukan perenungan dan meminta petunjuk kepada Allah swt dalam memilih guru; (2) belajar sungguh-sungguh dengan menemui pendidik secara langsung, tidak hanya melalui tulisan-tulisannya semata; (3) mengikuti guru, terutama dalam kecerundungan pemikiran; (4) memuliakan guru; (5) memperhatikan hal-hal yang menjadi hak pendidik; (6) bersabar terhadap kekerasan pendidik; (7) berkunjung kepada guru pada tempatnya atau meminta izin terlebih dahulu; (8) menempati posisi duduk dengan rapih dan sopan bila berhadapan dengannya; (9) berbicara dengan halus dan lemah lembut; (10) menghafal dan memperhatikan fatwa hukum, nasihat, kisah, dari para guru; (11) jangan sekali-kali menyela ketika guru belum selesai menjelaskan; (12) menggunakan anggota badan yang kanan bila menyerahkan sesuatu kepada pendidik.[9]
-           Etika Peserta didik tehadap Pelajaran
Dalam pelajaran peserta didik hendaknya memperhatikan etika berikut; (1) mendahulukan ilmu yang bersifat Fardhu ain dari pada ilmu-ilmu yang lain;(2) harus mempelajari ilmu pendukung ilmufardhu ’ain; (3) hati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama’; (4) mengulang dan menghafal bacaan-bacaan (menyetorkan) hasil bejalar kepada orang yang dipercayainya; (5) senantiasa menyimak dan menganalisa ilmu-ilmu pengetahuan, terutama ilmu hadist dan ilmu ushul Fiqh; (6) merencanakan cita-cita yang tinggi; (7) bergaul dengan guru dan teman, lebih-lebih kepada orang yang berilmu tinggi dan pintar; (8) mengucapkan salam bila sampai di majlis ta’lim/sekolah/madrasah;(9) bila menjumpai hal-hal yang belum dipahami maka hendaknya ditanyakan; (10) bila kebetulan bersamaan dengan banyak teman dengan kepentingan yang sama atau hendak menanyakan persoalan yang sama maka sebakiknya jangan mendahului anrtrian kecuali ada izin; (11) kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada jangan lupa membawa catatan; (12) mempelajari pelajaran yang telah diajarkan dengan kontinyu/istiqomah dan (13) menanamkan rasa antusias dan semangat untuk belajar.[10]
  1. Tugas dan tanggung jawab Pendidik
-          Etika Pendidik terhadap dirinya
KH. M. Hasyim Asy’ari memberikan catatan bagi seorang pendidik agar dirinya tertanam atika-etika sebagai berikut; (1) beruasaha sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada Allah; (2) senaniasa takut kepada Allah; (3) bersikap tenang; (4) berhati-hati (wara’); (5) tidak mempunyai sikap tinggi hati tetapi tawadhu’; (6) konsentrasi(khusyu’); (7) mengadukan segala persoalannya kepada Allah swt; (8) tidak menggunakan ilmunya untuk meraih kepentingan duniawi semata; (9) tidak terlalu memanjakan anak didik; (10) membiasakan pola zuhud dalam kehidupan sehari-hari; (11) menghindari tempat-tempat bermaksiat; (12) menjauhi tempat-tempat yang mengurangi martabat guru; (13) memberi perhatian terhadap peradaban Islam dan realisasi syari’at; (14) mengamalkan sunnah nabi; (15) menjaga kebiasaan-kebiasaan keagamaan, seperti membaca al-Qur’an; (16) bersikap ramah, ceria dan suka memberi ucapan selamat (Salam); (17) membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah; (18) menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu pengetahuan; (19) tidak menyalahgunakan ilmu dengan cara menyombongkannya; (20) membiasakan diri menulis, mengarang, meringkas.[11]
-          Etika Pendidik terhadap Pelajaran
Seorang pendidik hendaknya memperhatikan etka-etika yang berkaitan dengan pelajaran. Diantara etika dalam konteks itu, menurut KH. M. Hasyim Asy’ari adala sebagai berikut; (1) mensucikan diri dari hadast dan kotoran; (2) menggunakan pakaian yang sopan, rapih dan usahakan memakai wangi-wangian; (3) ketika mengajarkan ilmu kepada peserta didik hendaknya berniat untuk beribadah; (4) menyampakan hal-hal yang diajarkan oleh Allah; (5) membiasakan membaca guna menambah ilmu pengetahuan; (6) memberi salam ketika masuk dalam ruangan; (7) bila mulai mengajar berdoalah terlebih dahulu untuk para ahli ilmu terdahulu; (8) berpenampilan yang kalem dan menjauhi hal-hal yang tidak pantas dipandang mata; (9) mengusahakan untuk menjauhkan diri dari bergurau dan banyak ketawa; (10) jangan sekali-kali mengajar ketika keadaan lapar, marah, mengantuk dan sebagainya; (11) pada waktu mengajar, hendaknya duduk di tempat yang strategis; (12) usahakan agar tampilannya ramah, lemah lembut, jelas, dan lugas serta tidak sombong; (13)dalam mengajar hendaknya mendahulukan materi yang paling penting dan sesuaikan dengan profesi yang dimiliki; (14) jangan sekali-kali mengajarkan hal-hal yang subhat yang bisa membinasakan; (15) memberi perhatian terhadap kemampuan masing-masing murid dalam mengajar dan mengajarnya itu tidak terlalu lama; (16) menciptakan ketenangan ruang belajar; (17) menasehati dan menegur dengan bak bila ada peserta didik yang bandel; (18) bersikaplah terbuka terhadapa berbagai macam persoalan yang ditemukan; (19) berilah kesempatan kepada peserta didik yang datangnya terlambat dan ulangilah penjelasannya agar tahu apa yang dimaksud; (20) bila sudah selesai berilah kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas/belum dipahami.[12]
-          Etika Pendidik terhadap Peserta didik
Diantara etika pendidik terhadap peserta didik adalah sebagai berikut; (1)berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at Islam; (2) guru hendaknya memiliki keihlasan dalam mengajar; (3) mencintai peserta didik sebagaimana mencinta dirinya sendiri; (4) memberi kemudahan dalam mengajar dan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami; (5) membangkitkan semangat peseta didik dengan jalan memotivasinya; (6) memberkan latihan-latihan yang bersifat membantu; (7) selalu memperhatikan kemampuan anak didik; (8) tidak menampakkan kelebihan sebagian peserta didik terhadap peserta didik yang lain; (9) mengerahkan minat anak didik; (10) bersikap terbuka dan lapang dada kepada peserta didik; (11) membantu memecahkan kesulitan anak didik; (12) bila ada anak didik yang berhalangan hadar hendaknya menanyakan hal itu kepada teman-temannya; (13) Tunjukkan sikap arif dan tawadhu’ketika memberi bimbingan kepada peserta didik; (14) menghormati peserta didik dengan memanggil namanya yang baik.[13]
-          Etika Pendidik dan Peseta didik terhadap Buku
Sebagai seorang pendidik atau peserta didik yang senantiasa bergelut dengan buku, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut; (1) mengusahakan untuk mendapatkan buku-buku yang dibutuhkan; (2) mengizinkan bila ada kawan meminjam buku, bagi peminjam harus menjaga pinjamannya itu; (3) jira tulisan itu rusak atau tidak dipakai  hendaknya tidak sembarangan membuang tulisan itu, tetapi meletakkannya pada tempat yang layak dan terhormat; (4) memeriksa terlebih dahulu bila membeli atau meminjam buku , khawatir ada yang kurang lembaranny; (5) bila menyalin buku pelajaran syari’ah hendaknya bersuci terlebih dahulu, menghadap kiblat, memakai pakian yang bersih dan wangi, dan mengawalinya dengan tulisan basmalah. Bila yang disalinnya adalah buku-buku nasehat atau semacamnya, maka mulailah dengan Hamdalah (pepujian) dan shalawat nabi setelah menulih bismillah terlebih dahulu.[14]
  1. C.    Analisis Pemikiran Kependidikan KH. M. Hasyim Asy’ari
Karakteristik pemikiran pendidikan Islam yang berkembang sejak masa awal Islam hingga sekarang sangat beragam. Keberagaman ini dipengaruhi oleh kontruk sosial, politik dan keagamaan yang berkembang sehingga antara ciri khas sebuah pemikiran atau literature dengan keadaan sosial ketika iu memiliki korelasi yang signifikan. Namun demikian menurut Hasan Langgung, tokoh kependidikan kontemporer pada dasarnya literatur kependidikan Islam itu digolongkan ke beberapa corak. Pertama, corak pemikiran pendidikan yang awalnya adalah sajian dalam spesifikasi fiqh, tafsir, dan hadist kemudian mendapatkan perhatian tersendiri dengan mengembangkan aspek-aspek pendidikan. Model ini diwakili oleh Ibn Hazm (384-456 H). Kedua,corak pemikiran pendidikan yang bermuatan sastera. Contohnya adalah Abdullah bin al-Muqaffa’ (106-142 H/724-759M). Ketiga, corak pemikiran pendidikan Islam filosofis. Sebagai contohnya adalah corak kependidikan yang dikembangkan oleh aliran Mu’tazilah, ikhwah al-Shafa dan para filosof. Keempat, Pemikiran pendidikan Islam yang bediri sendiri dan berlainan dari beberapa corak diatas, tetapi ia tetap berpegang teguh pada semangat al-Qur’andan al-Hadist. Jika mengacu pada klasifikasi Hasan Langgulung di atas maka tampaknya Adab al-Alim wa al-Muta’allim dapat digolongkan pada corak yang terakhir. Hal ini didasarkan atas kandungan dalam kitab-kitab tersebut tidak memuat kajian-kajian dalam spesifikasi fiqh, sastera, dan filasafat. Adab ’al-Alim semata-mata memberi petunjuk praktis bagi siapa saja yang terlibat dalam proses pendidikan, sebagaimana yang dikemukakan oleh KH. M. Hasyim Asy’ari tentang latar belakang penulisannya.
Selain itu,  Adab ’al-Alim mempunyai banyak kesamaan dengan Ta’lim al-Muta’allim karya al-Zarnuji. Disisi lain, karakter pemikiran kependidikan KH. M. Hasyim Asy’ari dapat dimasukkan kedalam garis mazhab Syafi’iyyah. Bukti kuat menunjukkan hal itu adalah beliau sering mengutip tokoh-tokoh syafi’iyyah, termasuk Imam al-Syafi’i sendiri ketimbang tokoh mazhab yang lain.
Kecerendungnan lain dalam pemikiran KH. Hasyim Asy’ari adalah mengetengahkan nilai-nilai estetika yang bernafaskan sufistik. Untuk sekedar meyakinkan hal itu dapat dikemukakan bahwa bagi beliau keutamaan ilmu yang sangat isitimewa adalah bagi orang yang benar-benar lillahi ta’alaa. Kemudian ilmu dapat diraih jika jiwa seseorang yang mencari ilmu tersebut suci dan bersih dari aspek sifat yang jahat dan aspek-aspek keduniawian. Bagi KH. M. Hasyim Asy’ari ilmu pengetahuan iu lebih ditekankan pada klasifikasi ’lm fardlu ain, yang menurutnya terbagi ke dalam empat macam. Pertama, ilmu pengetahuan dzatiyyah ketuhanan, yakni suatu ilu pengetahuan yang mampu meyakinkan bahwa Allah itu ada (maujud). Kedua, ilmu pengetahuan Shifatiyyahketuhanan, yakni suatu ilmu pengetahuan yang mampu meyakinkan bahwa Allah itu berkuasa (qudrah). Ketiga, ilmu pengetahuan fiqh, yaitu ilmu pengetahuan yang mampu memberi pemahaman tentang cara ibadah secara eksoterik. Keempat, ilmu ’Ahwal dan Maqamat serta ilmu tentang kondisi jiwa. Ilmu terakhir agaknya lebih merujuk pada ilmu tasawuf.
BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan.
    1. Nama lengkap KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim.
    2. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur pada hari Selasa kliwon 24 Dzulqa’dah 1287 H. bertepatan pada tanggal 14 Februari 1871. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 25 Juli 1947 pukul 03.45 dini hari bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan tahun 1366 dalam usia 79 tahun.
    3. Konsep Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari terdapat dalam buku Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi.
    4. Konsep Pendidikan beliau yang terdapat dalam kitab Adab al-alim wa al-muta’allim yang terdiri dari 8 bab yang berisi tentang, Kelebihan ilmu dan ilmuwan, etika yang harus dicamkan dalam diri peserta didik, etika seorang peseta didik terhadap pendidik, etika seorang peseta didik terhadap pelajaran, etika pendidik terhadap dirinya, etika pendidik terhadap pelajaran, etika pendidik terhadap peserta didik, etika pendidik dan peserta didik terhadap buku.
    5. Jika mengacu pada klasifikasi Hasan Langgulung maka tampaknya Adab al-Alim wa al-Muta’allim dapat digolongkan pada pemikiran pendidikan Islam yang bediri sendiri dan berlainan dari beberapa corak yangl ain, tetapi ia tetap berpegang teguh pada semangat al-Qur’an dan al-Hadist.. Hal ini didasarkan atas kandungan dalam kitab-kitab tersebut tidak memuat kajian-kajian dalam spesifikasi fiqh, sastera, dan filasafat. Adab ’al-Alimsemata-mata memberi petunjuk praktis bagi siapa saja yang terlibat dalam proses pendidikan.
  1. Saran dan Harapan
    1. Bagi Pendidik
Dengan mengetahui konsep pendidikan yang ditulis oleh KH. Hasyim Asi’ari, guru dapat menyampaikan materi dengan baik dan benar serta dengan atika yang sesuai bagi seorang guru sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
  1. Bagi Siswa
Konsep Pendidikan yang ditawarkan KH. Hasyim Asyari yang terdapat dalam buku Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi telah memberikan petunjuk bagi seorang guru dan murid. Dengan adanya buku tersebut dapat dijadikan pedoman siswa bagaimana etika seorang murid dalam menuntut ilmu Allah sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
DAFTAR PUSTKA

M.Ag, Suwendi, 2005, Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari, Jakarta: LeKDis
Khuluq, Drs. Lathiful, 2008, Fajar Kebangunan Ulama-Biografi KH. Hasyim Asy’ari, Jogjakarta: PT. LkiS Pelangi Aksara, cet. Ke-III
Bakar Atjeh, Abu, 1975, Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim dan Karang Tersiar, Jakarta: Panitia Buku Peringatan KHA Wahid Hasyim
Asy’ari, KH.M. Hasyim, 2003, Menjadi Orang Pinter dan Bener (Adab al-Alim wa al-Muta’alim),Yogyakarta: CV. Qalam, cet. pertama



[1] Suwendi, M.Ag. Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari. (Jakarta: LeKDis, 2005) hlm. 13
[2] Drs. Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama-Biografi KH. Hasyim Asy’ari, cet. Ke-III(Jogjakarta: PT. LkiS Pelangi Aksara, 2008), hlm. 26
[3] H. Abu Bakar Atjeh, Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim dan Karang Tersiar, (Jakarta: Panitia Buku Peringatan KHA Wahid Hasyim, 1975), hlm. 35
[4] KH.M. Hasyim Asy’ari, Menjadi Orang Pinter dan Bener (Adab al-Alim wa al-Muta’alim), cet. pertama (Yogyakarta: CV. Qalam, 2003), hlm. xiv
[5] Ibid, hlm. xii
[6] Suwendi, op. Cit. Hlm. 42
[7] Ibid, hlm. 46
[8] Ibid, hlm. 47
[9] Ibid, hlm. 48
[10] Ibid, hlm. 49
[11] Ibid, hlm. 51
[12] Ibid, hlm. 53
[13] Ibid, hlm. 54
[14] Ibid, hlm. 55

PONPES SHIDIQIIN WARA` PURWOJATI

Sholawat_Badar-Puput_Novel-TOPGAN

Blogger templates

href="http://www.yayasangurungajiindonesia.com" ' rel='canonical'/>>

Adsendiri

Pasang Iklan Disini

adsend

Pasang Iklan Disini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls